Ramadhan akan segera berakhir. Besok atau lusa kita akan merayakan hari kemenangan, Iedul Fitri. Seiring dengan berakhirnya Ramadhan, berakhir pula lah semua suka cita dan kegembiraaan ala Ramadhan. Tidak ada lagi ritual sahur setiap hari yang hangat, saat-saat berbuka yang membahagiakan. Berbagi dan berderma kepada sesama. Hitungan pahala pun akan kembali normal, tidak ada bonus dan multiplikasi pahala ala Ramadhan.

Iedul Fitri adalah hari kemenangan. Tapi tunggu dulu, tidak semua dari peserta Ramadhan menjadi pemenang bukan? Hanya mereka yang berjuang, berlomba dengan fair, dan mencapai garis finish, yang akan menjadi pemenang sejati. Sedangkan mereka yang tidak serius berlomba, mereka yang tidak berjuang dengan sabar dan tekun, tidak akan memperoleh piala dan pahala Ramadhan, bahkan mereka tidak dapat apa pun, kecuali sekedar rasa lapar dan haus saja. Rasulullah bersabda:

“Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi tidak ada yang mereka dapatkan dari puasa mereka, kecuali rasa lapar dan haus belaka.”

Lalu apa yang membedakan para pemenang dan pecundang Ramadhan tadi? Mereka yang menjadi pemenang berhasil mempertahankan, bahkan meningkatkan kedekatan dan ketaatan kepada Allah, yang telah ditempa dan digembleng begitu rupa selama Ramadhan. Mereka berhasil meraih tujuan puasa, melewati garis finish target puasa, la’alakum tattakun, supaya kalian bertakwa, supaya kalian meningkat kedekatan dan ketaatannya di hadapan Allah. Dan bukankah secara harfiah arti syawwal adalah meningkat? Renungkan pula nasihat para ulama dalam gubahan syair berikut:

“Bukanlah orang yang berhari raya ied itu orang yang pakaiannya serba baru, akan tetapi orang yang berhari raya ied adalah orang yang ketaatannya bertambah.”

Siapakah para pemenang Ramadhan itu?

Mereka-mereka yang tetap antusias beribadah, sekalipun bukan bulan Ramadhan, mereka itulah yang insya Allah menjadi pemenang Ramadhan.

Mereka-mereka yang tetap meramaikan dan memakmurkan masjid, ketika banyak orang meninggalkan masjid setelah Ramadhan, mereka itulah yang insya Allah menjadi pemenang Ramadhan.

Mereka-mereka yang tetap berusaha bangun di malam hari dan bersimpuh menyembah Tuhannya, memohon ampunan dan petunjuk-Nya, dikala banyak orang tidur terlelap, mereka itulah yang insya Allah menjadi pemenang Ramadhan.

Mereka-mereka yang terus mengkaji dan mengajarkan Al-Quran, bahkan berusaha merealisasikan kandungannya dalam kehidupan nyata, mereka itulah yang insya Allah menjadi pemenang Ramadhan.

Mereka-mereka yang terus berderma, saling berbagi kepada sesama, sekalipun bukan bulan Ramadhan. Karena kesadaran bahwa harta yang didermakan itulah yang menjadi harta mereka sesungguhnya, abadi selamanya pahalanya, mereka itulah yang insya Allah menjadi pemenang Ramadhan.

Mereka-mereka yang berani mengatakan Al-Haq (kebenaran), dalam rangka amar makruf nahi munkar dihadapan penguasa yang lalim, mereka itulah yang insya Allah menjadi pemenang Ramadhan.

Mereka-mereka yang terus menyerukan persatuan umat dalam naungan khilafah, dalam rangka menjawab perintah-Nya, wa’tashimu bihablillahi jamian wa la tafarraqu, dan berpegang teguhlah kalian semua pada tali Allah, dan janganlah bercerai berai, mereka itulah yang insya Allah menjadi pemenang Ramadhan.

Sungguh tidak ada yang lebih ironis dari 86 kali Ramadhan telah berlalu semenjak runtuhnya khilafah, selama itu pula umat yang Tuhannya satu, Nabinya satu, Kitabnya satu, Kiblatnya satu, namun pemimpinnya berbilang bukan kepalang. Padahal ketika safar (melakukan perjalanan), Nabi memerintahkan fa amiru ahadakum, angkatlah satu pemimpin yang akan mengurusi keperluan kalian selama safar. Lalu mengapa dalam urusan yang lebih besar dari itu, ekonomi, politik, sosial, hukum, pendidikan, militer, kita mengangkat pemimpin yang berbilang jumlahnya? Bahkan antar pemimpin itu tidak jarang saling bermusuhan satu dengan yang lain.

Bagi sebagian orang Ramadhan akan berakhir, akan tetapi sesungguhnya di situlah semuanya berawal. Sebuah titik balik menuju kegemilangan dalam ranah personal sekaligus sosial-politik. Bukankah kemenangan bersejarah perang Badar terjadi pada bulan Ramadhan? Dan konon negeri ini juga merdeka pada bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan memang akan segera berakhir. Tapi spirit Ramadhan akan terus hidup selamanya.

Selamat Iedul Fitri semuanya, mohon maaf lahir dan batin.

[disarikan dari acara Visi Ramadhan di Trijaya FM Yogyakarta 97.00 FM, Sabtu 19 Sept 09, jam 16:30]

Mari kita kutuk pelaku terorisme 17 Juli kemarin, mudah-mudahan tidak lupa juga untuk mengutuk terorisme oleh negara/militer yang terjadi di berbagai tempat dan waktu lainnya.

Ketika SBY menang kemarin, saya tiba-tiba teringat pembahasan Pancasila vs Blackberry pada artikel Politikana.com milik Bung Guntur Pratama: “Email Andi Mallarangeng Bocor, Pemilu makin panas”. Saya terkagum-kagum dengan tingkat percaya diri dan analisis penulis email itu (siapa pun dia), yang yakin 100% bahwa SBY akan menang, mengingat email itu beredar hanya tiga hari sebelum pilpres. Berikut ini petikannya:

Bangsa kita berada pada tahap puncak konsumerisme yang menyebabkan kaburnya identitas Nasional. Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila itu tinggal jargon2 saja. Jadi orang akan memiih dari apa yang mereka lihat dan sukai dan itu jelas masalah pembawaan dan penampilan. Masyarakat konsumen tidak akan  peduli dengan apa yang dibawa oleh orang tersebut. Mau kapatalis, sosialis, atau neolib sekalipun, mereka tidak akan pedulikan. Yang penting mereka puas dengan penampilan si kandidat.. Dan kandidat itu adalah SBY-Boediono..

Tetapi lihatlah pada hari pencontrengan nanti, masyarakat tetap tidak akan  bergeming dari pilihan kita. Sebab bagi masyarakat konsumen, yang penting bukanlah isu, tetapi penampilan dari kandidat. Ibaratnya blackberry vs pancasila, jelas ketahuan mana yang laku dan tidak sekarang ini. Masyarakat kita mati2an berhutang kiri kanan buat beli blackberry makin lupa lah sama pancasila.

Kita mengontrol pikiran dan sentiment public sekarang, ndak ada yang bisa kalahkan itu.

Lagipula, taruhlah media tidak lagi “bersahabat”, itu hanya segelintir. Media itu bisnis bung, owner nya ndak mungkin ambil risiko untuk lima tahun ke depan. bisa ndak makan mereka kan. Yang penting anda kan sudah dijelaskan dan ditunjukkan. selama skenario utama tetap terjaga, Cuma hitungan hari kok dan jadilah kita berangkat ke Bermuda kan haha…… ingat saja, skenario ini sudah lima kali dites dan tidak pernah gagal.. Dengan persiapan sudah lebih lama dan panjang, skenario sekarang jauh lebih sempurna.

Siapa pun penulis email itu, he really knows what he’s doing, and he really damn good about it! Salah satunya adalah kalimatnya yang ini: “Masyarakat kita mati2an berhutang kiri kanan buat beli blackberry makin lupa lah sama pancasila.” Sebagian dari Anda mungkin masih ingat artikel lain tentang Blackberry yang ditulis Bung Tkp: “Ini Blackberryku, Mana Blackberrymu?”, yang menceritakan derita dan keluh kesah seorang ibu yang anaknya mogok kuliah minta dibelikan Blackberry. Berikut ini kutipannya:

Rupanya asal bunyi itu adalah Blackberry Bold-nya yang berbunyi. Ada email masuk. Dia sigap membukanya, lalu tersenyum. Tampaknya ada kabar gembira mampir di Blackberrynya. Setelah itu telepon berbunyi. Dan si gadis bercakap dengan orang di seberang: “Iya, udah. Coba kamu lihat di Facebook. Aku udah kirim. Ok,” rupanya dia sedang berkirim pesan via email dan jejaring pertemanan Facebook yang lagi booming itu. Perantaranya Blackberry. Dia tampak riang.

Ibu murung yang duduk di sebelahnya tampak kontras dengan kegembiraan itu. Setelah si gadis selesai dengan Blackberrynya, si ibu tiba-tiba menyapa membuka percakapan. “Seperti itu harganya berapa, Mbak,” ujar si Ibu sembari menunjuk ke Blackberry.

“Oh, Blackberry. Ini 7 juta bu,” jawab si gadis kaya enteng. Si Ibu tampak mengela napas. “Semua harganya segitu?” Ibu bertanya lagi. Si gadis menjawab,”Oh, tidak Bu. Macam-macam kok, ada yang lebih murah, sekitar 4 jutaan. Itu yang paling murah.”

Si Ibu menghela napas lagi. “Itu yang paling murah?” tanyanya lagi pada si gadis. “Oh, ada yang murah lagi Bu, tapi barang bekas. Paling 2 jutaan,” jawab si gadis mantap, seperti makelar saja.

Si Ibu, lagi-lagi, menghela. Saya tak menanya si Ibu kenapa menghela, tapi dari petunjuk mimiknya, saya merasa, dia tidak setuju dengan angka “murah” yang dibilang si gadis.

“Memang kenapa Bu? Mau beli? Memang ini sekarang barang penting lho Bu, apalagi buat yang kuliah atau kerja,” katanya sok menasehati.

“Bukan buat saya, Mbak. Tapi anak saya yang masih kuliah. Anak perempuan saya satu-satunya. Dia mogok nggak mau kuliah kalau tidak dibelikan yang seperti itu (Blackberry). Tapi saya kan tidak punya uang,” si Ibu mulai menjelaskan alasan helaannya. “Semua temannya punya yang seperti itu. Makanya dia kepingin. Padahal dia sudah punya HP, tapi dia minta diganti sama yang itu. Dan saya tak punya uang. Makanya, saya ke Jakarta ini pinjam uang 1 juta sama adik saya. Ternyata masih kurang ya..?”

Saya tidak akan menulis artikel ini, kalau saya tidak mendengar keluh kesah dan derita Ibu yang lain, karena anaknya merengek minta Blackberry. Barusan tadi sore, ada Ibu-ibu pemilik kios kosmetik di Pasar Lempuyangan Yogyakarta, yang curhat ke teman-temannya pedagang pasar yang lain. Bahwa ia pernah berjanji kepada anaknya, jika lulus SMP dan diterima di SMU Negeri, maka si anak tadi akan diberi hadiah Blackberry. Dan ternyata anaknya diterima di SMU Negeri! Maka pusinglah sang Ibu untuk memenuhi janjinya membelikan Blackberry.

Saya juga tidak akan menulis artikel ini, kalau saya tidak ingat artikel inspiratif Bung Haris Firdaus, “Pemilu Tanpa Ideologi”:

Pada sebuah sore, beberapa hari setelah Pemilu, saya melihat seorang penjual makanan keliling sedang mendorong gerobaknya. Ia memakai kaos Partai Gerindra. Di gerobaknya, saya melihat sebuah stiker Partai Keadilan Sejahtera.

Seandainya hal itu tak terjadi di Indonesia pada hari ini, kita bisa menyebut sang penjual makanan tadi sebagai seorang yang plin-plan, seorang bunglon, atau semacamnya. Tapi ini Indonesia tahun 2009, dan orang tak akan peduli jika kau memakai kaos Partai Golkar tapi di rumah atau motormu terpasang stiker Partai Demokrat. Kaos, stiker, umbul-umbul, gambar, dan segala atribut partai politik di Indonesia pada hari ini, sama sekali bukan sebuah simbol yang sifatnya ideologis. Semua atribut partai yang kau pakai tak akan serta merta diartikan sebagai tanda afiliasi politikmu.

Sekali lagi, ini Indonesia tahun 2009, dan kau bisa saja ikut kampanye PDIP pada hari ini tapi di lusa kau akan serta saat Hanura atau Demokrat berkampanye. Tentu saja kau tak perlu hirau dengan perbedaan-perbedaan antar partai-partai yang kau ikuti kampanyenya. Kau tak usah ambil pusing soal ideologi, platform partai, kebijakan, atau bahkan kau tak perlu berpikir bahwa PDIP dan Partai Demokrat sedang saling serang.

Jika ada sesuatu yang absen dari praktik berpolitik kita hari ini, maka itu adalah ideologi. Politik kita makin menjelma menjadi sebuah kegiatan praktis dan taktis serta makin menjauh dari apa yang bisa kita sebut sebagai “tindakan ideologis”. Partai-partai kita adalah lembaga-lembaga politik yang kebanyakan hidup tanpa ideologi, tanpa sebuah ide besar yang memandu. Oleh karena itu, wajar jika yang kita jumpai adalah oportunisme dan pragmatisme dalam segala laku politik. Sikap politik tak pernah menjadi sesuatu yang kaku. Politik pada akhirnya menjadi laku yang lentur. Selalu ada toleransi, selalu ada kepentingan yang bisa dikompromikan, didagangkan.

Mau bagaimana lagi, kita bukan hidup di tahun 1955 di mana masyarakat masih sangat ideologis. Pada kala itu, mereka yang ikut kampanye tak pernah dibayar. Justru sebaliknya: rakyat yang datang ke kampanye akan mengisi kotak sumbangan sukarela yang ada di lokasi kampanye. Masa-masa itu tentu sudah lewat. Kini, realitanya, Pemilu kita adalah Pemilu tanpa ideologi.

Nampaknya, jika ada ideologi yang menang pada pemilu kali ini, maka itu adalah ideologi Blackberry (kapitalisme, konsumerisme, materialisme, dkk).

(sumber gambar: blog.laptopmag.com/wpress/wp-content/uploads/2008/04/sniffer.jpg)

Agama bagi sebagian besar orang dianggap sebagai sebuah keyakinan yang taken for granted; cukup diyakini tanpa banyak tanya, tanpa perlu logika, tanpa reasoning. Agama difahami sebagai sesuatu yang kompleks, abstrak dan diluar jangkauan akal manusia. Agama hanya berurusan dengan hati, dan bukan dengan akal. Saya masih ingat ketika kuliah agama dulu, dalam text book pengantarnya disebutkan: Ilmu pengetahuan diawali dengan pertanyaan, sedangkan agama diawali dengan keyakinan. Maka jangan pernah minta bukti terhadap kebenaran suatu agama.

Pertanyaannya, apakah keyakinan itu? Bagaimana manusia secara alamiah bisa meyakini sesuatu? Bagaimana kita bisa meyakini sesuatu itu benar? Tidak perlu teori rumit atau kutipan wikipedia untuk menjawab pertanyaan ini. Jika Anda kebetulan menyambung kabel listrik di rumah yang terbuka, bagaimana Anda bisa yakin kabel tersebut tidak nyetrum? Bagaimana Anda bisa meyakini kebenaran dari kabel tersebut? Katakanlah ada seseorang yang berkata kepada Anda: Kabel itu Aman, yakinlah! Apakah Anda secara otomatis akan menjadi yakin? Anda yakin dengan keyakinan Anda? Atau Anda masih ragu-ragu? Jika skenarionya diganti dengan menyambung kabel SUTET (saluran ekstra tinggi) yang tegangannya bisa mencapai lebih dari 100.000 volt, apakah Anda bisa secara alamiah yakin hanya dengan ucapan: Yakinlah! Ketika Anda bertanya apa alasannya, dia kembali mengatakan: POKOKNYA ANDA HARUS YAKIN! Dan tiba-tiba rasa mantap yakin lahir batin itu hadir menyeruak di dalam dada Anda? Atau anda masih ragu-ragu?

Jika ada magic word yang bisa memisahkan antara keyakinan dan keragu-raguan, apakah itu? Apa yang kita perlukan agar kita bisa meyakini sesuatu? Yups, kita perlu bukti. Kembali kepada kasus tadi, bukti yang kita butuhkan adalah pengamatan terhadap lampu apakah menyala atau mati, sekring dalam kondisi on atau off, atau test pen yang tidak menyala. Tidak ada perkataan, mantra atau sihir yang bisa menggantikan keyakinan seseorang, seyakin pengamatan dia secara langsung terhadap bukti-bukti yang terindera. Sama seperti seorang hakim yang memerlukan bukti-bukti kuat untuk mengubah status seseorang dari tersangka menjadi terdakwa. Kegiatan mencari bukti itulah yang disebut dengan berfikir.

Di dalam Al-Quran, dugaan atau persangkaan disebut dengan istilah dzhan, sedangkan keyakinan atau pengetahuan disebut dengan istilah ‘ilm. Dan disebutkan bahwa dzhan tidak akan bisa mengantarkan kepada kebenaran (al-haqq). Berikut ini beberapa penggalan ayatnya:

Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan (10:36).

Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran (53:28).

Kembali kepada agama, menurut saya agama itu sama sederhananya dengan pilihan hidup yang kita ambil setiap harinya. Hanya saja dalam domain dan lingkup yang lebih luas. Agama itu membumi, agama itu pilihan, dan sebagaimana halnya pilihan yang akan kita ambil, sudah sewajarnya kita berfikir, menelaah dan menimbang berbagai konsekuensinya dengan seksama, based on fact and evidence. Atas dasar apa kita meletakkan agama di tempat yang tinggi dan nun jauh di sana? Sehingga kita merasa tidak layak dan berdaya membahasnya. Padahal ini berkaitan dengan hidup kita, bahkan hidup dan mati kita. Apakah kita tidak mau memastikan semuanya baik-baik saja?

Sikap menelan mentah-mentah keyakinan agama, sekalipun itu Islam, disebut dengan isilah taqlid. Dan taqlid dalam hal keimanan (aqidah) adalah hal yang terlarang. Imam Syafi’i dalam kitab Fiqhul Akbar berkata:

“Ketahuilah bahwa kewajiban pertama bagi seorang mukallaf (orang yang dikenai kewajiban agama) adalah berfikir dan mencari dalil (bukti) untuk ma’rifat (mengenal dengan yakin) kepada Allah Ta’ala.”

Dorongan untuk berfikir atau tafakkur mencari bukti-bukti kebenaran, bertebaran di banyak ayat Al-Quran, diantaranya adalah:

(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka [3:191].

Katakanlah: Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar (2:111).

Jika sejak awal agama diposisikan sebagai dogma, maka akan lenyap kekuatan akal budi dan daya kritisnya. Akibatnya, agama dengan mudah dijadikan kuda tunggangan politik untuk meraih tujuan-tujuan pragmatis. Sebaliknya jika sejak awal agama dielaborasi dengan nalar, maka segala bentuk kebijakan dan sikap politik pun akan dievaluasi dengan kritis pula.

Pernyataan seperti “pilihlah yang terbaik dari yang buruk-buruk” atau “lesser evil” atau “pilih yang paling ringan diantara dua keburukan (akhafu dhararain)“, sering menjadi pembenaran atas pilihan politik kita. Padahal bisa saja hal itu merupakan propaganda sang kandidat untuk mendulang suara. Atau bisa juga merupakan sesat fikir yang tidak kita sadari. Menurut saya, mereka yang berprinsip lesser evil ini telah melakukan pengekangan atas pilihan-pilihan hidup yang sebenarnya masih luas dan banyak tersedia.

Atas dasar apa kita “diwajibkan” memilih salah satu dari dua evil? Dan mengapa seolah-olah kita tidak punya pilihan lain? Seolah kita dihadapkan pada pilihan: the lesser evil atau the end of the world! Hal ini biasanya juga dikaitkan dengan pemahaman kalau tidak memilih, atau tidak ikut pemilu, maka tindakan tersebut akan menuai bencana. Padahal secara faktual yang namanya perubahan politik (terutama yang radikal), tidak selalu harus dengan pemilu. Turunnya Pak Harto yang sebelumnya dianggap untouchable dan impossible, juga bukan lewat pemilu (terlepas dari opini gerakan 98 ditunggangi dan lain sebagainya). Pemilu bukanlah satu-satunya jalan.

Saudara kandung dari lesser evil adalah: pilihlah yang terbaik dari yang buruk-buruk. Bukankah yang buruk tetap buruk, dan yang baik tetap baik? Mulai kapan yang buruk bisa jadi baik hanya karena disandingkan dengan yang lebih buruk? Dan siapa yang mengizinkan fikiran kita ditipu dengan ilusi semantik seperti ini? Mengapa kita hanya bisa pasrah dan tunduk kepada yang memberikan pilihan kepada kita? Jika menurut keyakinan kita semua evil dan semua buruk, mengapa kita tidak membuat pilihan kita sendiri yang baru, kemudian secara konsekuen dan konsisten memperjuangkannya?

Jika mentalitas lesser evil ini terus dipelihara dan berkembang menjadi penyakit parah, jadilah ia para koruptor, penjahat ekonomi, mafia hukum, dan public enemy lainnya. Lebih baik saya korupsi 2 M daripada korupsi 200 M, lebih baik saya jual perkara itu daripada …, lebih baik … daripada … . Jadilah mereka orang-orang yang tidak memiliki kompas moral dan prinsip yang jelas dalam hidupnya. Jadilah mereka orang-orang pragmatis dan oportunis yang merugikan orang lain. Jadilah mereka seperti weathervane yang dikendalikan oleh angin yang berhembus (orang lain), bukan lighthouse yang memberikan petunjuk dan pencerahan bagi orang lain.

Be a lighthouse, not a weathervane.

Saya tidak memilih hari ini. Because a lesser evil is still evil. And I’m not an evil companion.

Malam Sabtu kemarin pas jadwal tayang The Master Session 3, teman saya terkaget-kaget melihat atraksi Bayu Gendeng. “Ini pasti ilmu hitam.” Komentarnya singkat. Sebenarnya tidak hanya dia saja yang menyimpulkan demikian. Dulu, sewaktu David Copperfield memeragakan adegan terbang yang memukau, beberapa media massa menyebutkan sang pesulap dibantu oleh jin. Belum lama ini, fatwa haram The Master juga muncul:

Keputusan tersebut dibuat dalam Bahtsul Masail Wustho yang digelar di Ponpes Abu Dzarrin, Kendal, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro. Menurut para peserta pertemuan, kehadiran juara pertama Joe Sandy dan juara putaran kedua Limbad, dalam pertunjukan yang mendebarkan adalah jauh dari jangkauan akal sehat.

Jauh dari jangkauan akal sehat? Hmm, sebagai penikmat sulap, saya merasa pertunjukkan The Master masih belum ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan David Blaine atau Criss Angel. Kalo yang ecek-ecek seperti itu saja dibilang ilmu hitam atau sihir, apalagi atraksi Criss Angel terbang melintasi dua gedung bertingkat:

Atau atraksinya yang lain seperti berjalan di atas air atau dilindas dengan steamroller di atas pecahan beling. Apakah dia menggunakan sihir? Sungguh saya merasa sedih dengan orang-orang yang tergesa-gesa menyimpulkan ilmu hitam apalagi mahluk halus terlibat dalam atraksi itu. Saya tidak tahu pasti, mungkin karena budaya kita, tingkat pendidikan kita, atau bisa jadi TV kita yang hanya menyuguhkan tayangan yang entertain saja, tanpa mengandung muatan-muatan edukatif di dalamnya, yang sebenarnya bisa seiring sejalan dengan konsep edutainment.

Sesekali cobalah buat tayangan seperti Breaking the Magician’s Code: Magic’s Biggest Secrets Finally Revealed. Trik-trik pesulap ditelanjangi habis-habisan dengan prinsip-prinsip sains dan teknologi. Mantra dari acara ini adalah: “As usual we’ll begin by showing the ilusion as it’s performs. Then we’ll reveal the secrets.” Anda penasaran bagaimana Criss Angel terbang atau berjalan di atas air? Silahkan lihat di Walking on water revealed atau Criss Angel building levitation REVEALED (spoiler warning!!!).

Jika Anda membuka YouTube dan mengetikkan nama Criss Angel, maka Anda akan menemukan puluhan video yang mencoba menjelaskan ilusi yang ditampilkan secara rasional, mulai dari yang profesional seperti Breaking the Magician’s Code tadi, atau yang home made seperti tayangan Criss Angel steamroller revealed misalnya. Nampaknya pesulap pro di sana mendapat tantangan besar dari orang-orang kreatif dan YouTube!

Mudah-mudahan Ponpes Abu Dzarrin, Kendal, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro yang mengharamkan The Master rajin mengakses YouTube.

Pernah lihat iklan Chil-Kid dan Chil-School? Yang lirik lagunya “Aku bisa aku pasti bisa…”? Anak saya pasti dengan riangnya bernyanyi menirukan liriknya ketika melihat iklan itu. Ternyata tidak hanya anak saya (dan saya). Ketika tadi pagi setelah mengantar anak ke sekolah, saya berpapasan dengan sekelompok anak berseragam SD bernyanyi riang “Aku bisa aku pasti bisa…”. Nampaknya iklan ini berhasil menjadi meme karena jingle song-nya yang sederhana, dan tentu, inspiratif.

Iklan tersebut menceritakan beberapa kisah anak kecil yang memiliki cita-cita tinggi dan mulia. Ada seorang anak yang melihat cerobong asap memuntahkan asap polusi tebal, lalu anak itu meniup mainan kincir anginnya yang kecil, seolah berusaha melenyapkan asap hitam jahat yang mencemari udara itu. Tentu ia tidak berhasil melakukannya. Namun ketika ia dewasa, peristiwa kincir angin vs. cerobong asap jahat somehow menginspirasinya untuk mengembangkan green energy. Berubahlah pabrik-pabrik yang menyemburkan polusi kotor menjadi ladang-ladang wind energy. Ada juga kisah seorang anak lain yang menjadi arsitek dan pecinta lingkungan.

Tentu iklan seperti ini bagai setetes embun di tengah iklan-iklan dan tayangan-tayangan slapstick (sundul kepala, jambak rambut, ini so go od, ini so ni ce) yang bertaburan di TV kita. Iklan yang tidak pernah melupakan setiap detik durasinya agar selalu menanamkan brand produknya di benak pemirsa. Bahkan dengan cara menyuguhkan tayangan-tayangan yang konyol dan kasar, serta sangat jauh dari sifat mendidik dan mengilhami kebaikan. Bandingkan dengan iklan Chil-Kid tadi, yang hanya menampilkan brand produknya pada detik-detik terakhir (awalnya saya menduga iklan layanan masyarakat).

Saya jadi teringat dengan sebuah buku yang berjudul Spiritual Capital, karya Danah Zohar dan Ian Marshal, yang menjelaskan setiap perusahaan (multinasional) bisa mencapai tujuan-tujuan yang lebih tinggi dan bermakna, daripada sekedar mencari untung dengan menghalalkan segala cara. Bahkan dalam sebuah riset (yang dituangkan dalam buku fenomenal Built to Last), James Collins dan Jerry Porras menunjukkan perusahaan-perusahaan yang memiliki values (istilah mereka core ideology) yang mulia, adalah perusahaan-perusahaan yang tidak hanya meraup untung besar, tapi juga bertahan lama.

Jika selama ini kita memahami berbagai penemuan inovatif dan produktif erat kaitannya dengan disiplin ilmu tunggal dan spesialisasi, di buku The Medici Effect ini menjelaskan sebaliknya. Bahwa penemuan yang inovatif dan produktif justru lebih banyak ditemukan pada titik temu (intersection) berbagai disiplin ilmu yang berbeda, bukan hanya satu disiplin ilmu tunggal saja. Wacana tentang mulai pudarnya batas-batas disiplin ilmu, pernah dibahas oleh Tom Friedman dalam bukunya The Lexus and the Olive Tree:

“Today, more than ever, the traditional boundaries between politics, culture, technology, finance, national security and ecology are disappearing.”

Sang penulis The Medici Effect, Frans Johansson memberikan seabrek bukti tentang hal ini, mulai dari tim riset lintas disiplin yang menemukan cara membaca pikiran seekor monyet. Atau seorang kepala juru masak berhasil melejitkan ketenaran restorannya lewat menu campuran landak laut dan permen lolipop. Seorang insinyur merancang pola pengamatan pesawat udara tanpa awak di daerah pertempuran berdasarkan perilaku semut pelacak makanan. Dan masih banyak lagi.

Dalam Islam sendiri setiap muslim diminta menguasai ilmu agama, setidaknya untuk dirinya sendiri, lebih dari itu untuk kepentingan dakwah yang memang menjadi kewajiban setiap muslim. Bahkan setiap muslim dimotivasi untuk menjadi seorang mujtahid; yang mampu merumuskan hukum syara terkait persoalan tertentu (tentu ia harus mahir bahasa arab, ilmu Quran, Hadist, dan lain-lain). Bukan hanya muqalid atau orang yang ber-taqlid (mengikuti pendapat mujtahid) saja. Jadi apa pun profesi seorang muslim, apa pun disiplin ilmu dunia yang dikuasainya, setidaknya ia harus menguasai juga ilmu agama. Dalam sejarah keemasan Islam, banyak ahli fiqh, mujtahid, yang juga sekaligus seorang ilmuwan.

Yang paling menarik, dalam buku tersebut Anda akan berkenalan dengan berbagai figur eksentrik multidimensional yang sering disebut sebagai The Renaissance Man. Seperti Frank Herbert, seorang … (daftarnya panjang sekali, saya sebut beberapa saja) konsultan ekologi, dosen, penyelam, fotografer, instruktur judo, pengarang buku (yang sudah difilmkan) fiksi ilmiah Dune. Buku yang konon disebut sebgain karya fiksi ilmiah terbaik ini mengambil tema tentang ekologi, agama, desert survival techniques, filsafat, politik dan strategi militer. Anda juga akan berkenalan dengan Orit Gadiesh, chairman Bain & Company, seorang mantan agen rahasia Israel jebolan Harvard Business School yang memiliki gelar Psikologi. Simak penjelasannya yang menarik berikut:

“Some people say that the modern-day Renaissance man is an investment banker who likes to go horseback riding on the weekend he has off, or something like that. That’s not a Renaissance man, that’s a man with a hobby.”

“A Renaissance man is someone that can see trends and patterns and integrate what he knows. To me the modern Renaissance man is curious, interested in different things. You have to be willing to ‘waste time’ on things that are not directly relevant to your work because you are curious. But then you are able to, sometimes unconsciously, integrate them back into your work.”

Uhm, ungkapan yang menarik, sekalipun bagi saya pribadi sejauh ini sangat sukses dengan “curious, interested in different things..”, apalagi dengan “you have to be willing to ‘waste time’ on things that are not directly relevant to your work because you are curious…” oh yeah tidak diragukan lagi saya sangat sukses dalam hal itu. Tapi soal “integrate them back into your work” ini yang sering gagal. Lha deadline kerjaan aja berkali-kali dilanggar akibat ‘waste time’ tadi (seperti sekarang harusnya saya kerja, instead of writting this article!).

Download Book:The Medici Effect

Setelah sebelumnya kita membahas pilar pertama dari Sharianomics tentang konsep properti (al-milkiyyah), sekarang kita akan membahas pilar kedua tentang konsep pemanfaatan harta (tasharruf fil milkiyah). Diantaranya akan membahas bagaimana tata cara mengembangkan serta membelanjakan harta yang telah dimiliki sebelumnya (produksi dan konsumsi), sesuai dengan ideologi yang ada.

Secara garis besar pembahasan ini mencakup; siapa saja para pelaku ekonomi yang melakukan kegiatan produksi dan konsumsi? Apa saja yang boleh dijadikan komoditas? Atas dasar paradigma apa mereka melakukannya? Serta bagaimana tata cara dan karakteristik kegiatan produksi dan konsumsi yang mereka lakukan?

Pertama-tama, marilah kita lihat siapa saja pelaku ekonomi yang melakukan kegiatan produksi dan konsumsi tadi. Beranjak dari konsep properti sebelumnya, dalam ekonomi Kapitalis lakon utamanya adalah individu dan korporasi (peran negara sangat kecil), yang memanfaatkan kebebasan kepemilikan untuk meraup keuntungan maksimal.

Berkebalikan dengan Kapitalis, Komunisme justru menganggap satu-satunya pelaku ekonomi yang sah adalah negara (Sosialis), yang menghilangkan semua bentuk kepemilikan bahkan sampai ke hasil keringat sendiri sekali pun, dan mengalihkannya menjadi properti publik.

Sedangkan Islam mengakui individu dan korporasi sebagai pelaku ekonomi, yang hanya boleh memanfaatkan komoditas-komoditas tertentu sesuai syariah. Seperti SDA misalnya, jelas tidak boleh dikomersialisasikan oleh individu maupun korporasi. Di sini lah peran negara dibutuhkan untuk mendistribusikan properti publik seperti SDA tadi kepada seluruh masyarakat.

Lalu dengan asas dan paradigma apa masing-masing pelaku ekonomi di atas melakukan kegiatan produksi dan konsumsi? Sistem ekonomi Kapitalis yang lahir dari rahim ideologi Sekuler misalnya, akan memandang cara pengembangan dan pembelanjaan harta harus sesuai dengan “fact and evidence” atas kemanfaatan yang akan diperoleh manusia, bukannya oleh prinsip-prinsip agama seperti halal dan haram.

Sedangkan Islam justru mengatakan sebaliknya, bahwa cara pengembangan dan pembelanjaan harta harus sesuai dengan syariah atau prinsip halal dan haram. Sekalipun sepintas apa yang halal nampak begitu merugikan manusia, dan yang haram nampak begitu menguntungkan manusia, tetap yang menjadi paradigma adalah halal dan haram.

Lain lagi dengan Komunisme yang meyakini bahwa produksi tidak bisa dilepaskan dari means of production; bahwa tujuan produksi adalah untuk menghasilkan properti publik yang bisa dinikmati oleh semua lapis masyarakat.

Karena perbedaan asas dan paradigma di atas, akibatnya masing-masing ideologi berbeda dalam menentukan tata cara pengembangan harta (kaifiyah), dan jumlah harta yang boleh dimiliki (kamiyah).

Kapitalisme misalnya, tidak memberikan batasan jumlah harta yang boleh dimiliki, dan juga bagaimana cara memperoleh harta tersebut. Sedangkan Islam hanya membatasi tata cara memperoleh harta, dan membebaskan jumlah harta yang boleh dimiliki. Beda lagi dengan Komunisme yang membatasi kedua-duanya, baik jumlah harta yang boleh dimiliki atau pun tata cara memperoleh harta tersebut (from each according to his ability, to each according to his needs).

Lebih jauh lagi bagaimana tata cara (kaifiyah) pengembangan dan pembelanjaan harta, atau kegiatan produksi dan konsumsi versi Sharianomics?

Pertama, pembelanjaan harta (konsumsi) yang mencakup hal-hal yang diwajibkan agama seperti menafkahi keluarga, membayar zakat, atau yang disunnahkan (dianjurkan) seperti memperbanyak sedekah. Tentunya prioritas konsumsinya diurutkan dari yang wajib, sunnah, kemudian baru yang mubah seperti kebutuhan sekunder-tersier (al hajat al kamaliyah). Mengkonsumsi komoditas haram seperti miras, tentu tidak diperbolehkan.

Kedua, pengembangan harta (produksi) yang bertujuan untuk menambah jumlah harta yang dimiliki, melalui berbagai kegiatan ekonomi seperti jual beli, membentuk corporate firm (syirkah), berinvestasi yang dibolehkan syariah. Sedangkan pengembangan harta melalui cara yang haram seperti judi dan riba, jelas diharamkan dan tidak akan difasilitasi oleh negara.

Dari sini bisa difahami dalam Islam tidak ada larangan untuk membentuk corporate firms, sepanjang komoditas yang diperdagangkannya bukan termasuk properti publik (seperti SDA) atau yang diharamkan oleh syariah (seperti pornografi dan pornoaksi). Bahkan dalam beberapa Hadist Nabi Muhammad saw. mendorong umatnya untuk menjadi seorang wirausahawan. Jadi siapa pun bisa menjadi kaya seperti Steve Jobs dengan Apple-nya, atau seperti Richard Branson dengan Virgin-nya. Asal jangan seperti James R Moffett dengan Freeport-nya.

Lalu bagaimana dengan korporasi asing? Keberadaan korporasi asing akan terkomodir lewat kegiatan ekspor impor, investasi, atau pembukaan franchise/cabang yang dijalin melalui perjanjian dagang bilateral yang sesuai dengan syariah (baik negara asalnya dan jenis industrinya). Contohnya perusahaan dan jenis industri seperti Nokia atau Starbucks akan diizinkan, tapi seperti Shell atau Freeport jelas-jelas tidak diizinkan, karena komoditasnya adalah milik umum yang haram dikelola swasta. Atau pun franchise majalah Playboy dan FHM juga tidak akan diizinkan karena pornografi adalah haram.

Perbedaan kontras lainnya antara Sharianomics dengan Kapitalisme terlihat pada aspek pengembangan harta di sektor finansial seperti bunga (riba), saham, obligasi beserta turunannya. Produk-produk finansial yang berbasis riba seperti ini termasuk haram sehingga tidak akan difasilitasi oleh negara. Apalagi prakteknya sarat dengan spekulasi yang tidak bisa dibedakan lagi dengan judi. Tidak heran kalau ekonom peaih Nobel Maurice Allais menyebutnya sebagai “Casino Economy”. Atau lebih sarkastik lagi seorang  filosof, ekonom dan aktivis politik Lyndon LaRouche pernah menyatakan:

Now, what are the financial markets? They’re nothing but bloodsuckers, parasites, gamblers.

Krisis finansial global yang baru (dan akan terus) kita alami berpangkal pada pengembangan produk finansial ribawi yang liar karena mengejar profit jangka pendek semata. Lihat saja bagaimana mortgages (kredit perumahan) sebagai future cashflow was pooled, spliced, sliced and delivered oleh Wall Street Firms sebagai produk-produk finansial sexy seperti CMO, ABS, CDO. Tidak lupa perusahaan asuransi akan menjaminnya dengan rating AAA. Ya tidak ada yang tahu dampaknya sampai semuanya jatuh berguguran.

Kekisruhan pasar finansial ini akhirnya menghantam pasar barang dan jasa sehingga dampak krisis meluas. Industri otomotif menjadi lesu dan rame-rame minta di-bailout. Pencari kerja antre dimana-mana akibat lay off besar-besaran. Chrysler menyatakan bangkrut (agak kaget juga karena saya dulu pernah menggarap proyek IT di sana sewaktu merger jadi DaimlerChrysler AG).

Seruan untuk menata kembali ekonomi agar menjadi ekonomi produktif berbasis barang dan jasa, bukan praktek finansial (ribawi) yang spekulatif dan manipulatif, pernah diucapkan oleh Dr. A. Prasetyantoko berikut:

Ekonomi adalah proses produksi menghasilkan barang dan jasa guna menyejahterakan semakin banyak orang, bukan spekulasi sektor finansial, pasar uang, pasar utang, dan pasar saham. Sektor finansial harus dikembalikan pada fungsi dasarnya, yaitu menopang usaha ekonomi produktif, bukan memodifikasi diri menjadi instrumen canggih atau produk derivatif yang pada akhirnya penuh dengan spekulasi dan manipulasi (Dr. A. Prasetyantoko, Kompas 10/05/2009).

Pendapat di atas sejalan dengan konsep Sharianomics yang bertumpu pada sektor riil (barang dan jasa) yang dihalalkan oleh syariah. Sedangkan sektor finansial yang sarat dengan riba, yang juga menjadi sumber labilitas ekonomi itu, tidak akan diberi tempat dalam sistem ekonomi syariah.

Terjadinya penggrebekan tempat maksiyat, penghukuman pelaku maksiyat, teror dan sejenisnya yang dilakukan oleh kelompok, jamaah atau ormas Islam, telah menjadikan Islam sangat lekat dengan dunia kekerasan dan kesewenang-wenangan.

Sebenarnya dalam Islam, setiap tindakan harus didasarkan kepada dalil Quran dan Sunnah, karena hanya dengan keduanya itulah tindakan tersebut akan bernilai ibadah. Nabi pernah bersabda: Man amila amalan laisa alaihi amruna fahuwa raddun (barang siapa yang beramal tanpa mendasari kepada ketentuanku, maka perbuatan itu akan tertolak).

Perlu diketahui bahwa taklif (pembebanan) syariah Islam itu diberikan kepada tiga pihak: pribadi, kelompok dan negara. Masing-masing ada jatah dan porsinya sendiri-sendiri. Pribadi misalnya ada kewajiban shalat, puasa, zakat, haji dan lain-lain. Kelompok ada kewajiban dakwah amar makruf nahi munkar. Negara ada kewajiban menjalankan hukum-hukum pemerintahan, perekonomian, pendidikan, pidana, jihad, dan lain-lain. Nah apa yang menjadi jatah negara seperti memberikan sanksi dan hukuman, seharusnya tidak boleh diambil alih oleh kelompok.

Lalu apa sebenarnya tugas kelompok tadi? Tugas mereka semata-mata berdakwah, melakukan amar makruf (menyuruh kepada kebaikan) dan nahi munkar (saling mencegah melakukan keburukan). Jelas aktivitasnya adalah pemikiran dan penyadaran, bukan aktifitas fisik, apalagi angkat senjata. Nabi saw dan para sahabat dahulu ketika 13 tahun di Madinah mereka berjuang dengan cara pemikiran dan penyadaran ini.

Mengapa pemikiran dan penyadaran? Karena begitulah permintaan Allah: Yad’una ilal khair (menyeru kepada kebaikan), wa ya’muruna bil makruf (menyuruh kepada kebaikan), wa yanhauna anil munkar (saling mencegah kepada keburukan). Sederhana saja; bagaimana caranya agar orang tersadar dan mau masuk Islam? Atau menjadi lebih Islami dari sebelumnya? Atau menyadarkannya dari pola fikir dan pola sikap yang keliru? Dengan menyampaikan argumen (dakwah) kepadanya bukan?

Oleh karena itu, sekalipun Islam sangat mengecam praktek penyembahan berhala, adakah berhala-berhala itu yang dihancurkan selama periode Makkah? Saat itu disekitar Ka’bah ada 360 berhala yang disembah, adakah diantara mereka yang dihancurkan? Dicuil kupingnya pun tidak. Sekalipun Islam sangat membeci judi dan zina, adakah para ahli maksiyat itu dipukuli dan dihukum? Adakah terjadi peristiwa teror dan intimidasi fisik atas pelaku kemaksiyatan dan kemusyrikan? Tidak. Mereka hanya terus berdakwah, berdakwah dan berdakwah.

Tindakan fisik atau seruan angkat senjata itu tidak pernah terjadi. Tidak hanya setahun dua tahun, tapi selama 13 tahun mereka berdakwah di Makkah. Justru yang terjadi sebaliknya, Nabi dan para sahabat yang diteror, diintimidasi, disiksa bahkan diembargo oleh Quraisy. Sekalipun umat muslim saat itu tertindas, apakah terjadi Nabi memobilisir para sahabatnya untuk angkat senjata melakukan perlawanan? Tidak. Bukan karena mereka takut atau lemah, karena saat itu dua orang kuat telah masuk Islam: Hamzah dan Umat bin Khathab.

Nabi saw tidak melakukannya karena tindakan fisik itu tidak diizinkan Allah jika dilakukan kelompok. Ketika Nabi ditawari untuk menyerang Quraisy, Nabi hanya menjawab: Lam nukmar bidzalik (kita belum diperintah untuk itu). Bahkan ketika detik-detik Nabi saw akan dibaiat menjadi kepala negara, berbagai intimidasi dan teror diterima Nabi dan sahabat-sahabatnya. Itu pun tidak mengubah thariqah (metode) dakwah mereka dengan kudeta berdarah misalnya. Padahal saat itu, pedang selalu terselip di pinggang, tetapi mereka tetap memilih gagasan sebagai senjata.

gagasan-sebagai-senjata

Barulah ketika Nabi saw hijrah dan menjadi kepala negara di Madinah, turun ayat-ayat tentang muamalah, uqubah (pidana), jihad, dan lain sebagainya. Disinilah negara diizinkan untuk melakukan tindakan fisik (termasuk pemberian sanksi dan hukuman), yang sebelumnya dilarang jika dilakukan oleh kelompok. Jadi jika saat ini ada kelompok yang melakukan tindakan fisik seperti penggrebekan, pemukulan, penghukuman, teror atau intimidasi fisik, maka itu menyalahi ketentuan Allah dan RasulNya.

Sedjak satoe maret 2009

  • 7,899 hits