Siapa seh yang gak kepincut dengan produk-produk Apple? Apalagi dengan produk terbarunya iPad. Tapi dibalik keseksianya, ternyata memendam keculasan dan ketidakadilan yang tak terperi. Dalam produk tersebut dibenamkan teknologi DRM (Digital Restrictions Management), yang akan merenggut kebebasan Anda untuk berbagi informasi, bahkan menggunakan aplikasi yang Anda inginkan. Lebih jelasnya apa yang dilakukan oleh DRM adalah:

DRM will give Apple and their corporate partners the power to disable features, block competing products (especially free software) censor news, and even delete books, videos, or news stories from users' computers without notice– using the device's "always on" network connection.

Atau lebih jelasnya tentang kejahatan DRM dalam bentuk poster:

nUtZK.jpg

Yups, Apple jadi control freak, bernafsu untuk mengendalikan dan memantau semua pelanggannya. Diam-diam kebebasan Anda, dijajah secara halus oleh Apple. Ya, nasib kita memang apes, sudah dijajah secara politik, ekonomi, budaya, pendidikan, kini ditambah lagi secara teknologi informasi, fiuh.. Apa artinya semua ini di masa datang?

What does this mean for the future? No fair use. No purchase and resell. No private copies. No sharing. No backup. No swapping. No mix tapes. No privacy. No commons. No control over our computers. No control over our electronic devices. The conversion of our homes into apparatus to monitor our interaction with published works and web sites.

Apa yang bisa Anda lakukan, jangan beli iPad (meskipun relatif murah) dan produk Apple lainnya, selama menggunakan DRM. Dan kampanyekan anti DRM ke semua orang yang Anda kenal. Ikut petisi "iPad is iBad for freedom" di sini: http://www.defectivebydesign.org/ipad

Hanya 24 jam setelah petisi di-publish, sudah terkumpul 5.000 tanda tangan, yang kemudian di-print dalam bentuk postcard raksasa yang dikirim langsung ke Steve Jobs, CEO Apple. Ini tampilan depan dari postcard yang dikirim 3 Februari kemarin:

iPadPostee02.jpg

Yang menarik adalah gambar dan tulisan di belakang postcard-nya:

iPadPetitionFront02.jpg

Sudah lihat? Coba perhatikan lagi, baris-baris titik yang ada pada gambar di atas. Itu adalah 5.000 nama yang ikut petisi! Kalau di-close up akan tampak seperti ini:

iPadCloseUp.jpg

Nama Anda ada? Kalau tidak jangan kuatir, dukung petisi sekarang, mudah-mudahan nama Anda akan keluar di edisi postcard berikutnya, karena mereka akan mengirimkannya setiap 5.000 dukungan. Ayo dukung sekarang!

Tahun 639 M, wabah mengerikan menyerang Syria. Berita wabah ganas itu mengganggu Khalifah Umar di Madinah. Ia segera pergi meninggalkan Madinah untuk menyelesaikan urusan tersebut ke Syiria.

Bilal yang dikenal sebagai muadzin pertama Rasulullah atau orang yang pertama kali mengkumandangkan adzan, pada waktu itu tinggal di Syiria. Setelah Rasulullah meninggal di Madinah, ia menolak tugas sebagai muadzin dan menyerahkannya kepada orang lain. Beberapa tahun kemudian ia turut serta dalam ekspedisi militer ke Syiria dan menghabiskan masa tuanya di sana.

Pada malam keberangkatan Khalifah Umar meninggalkan Syiria, gubernur kota Damaskus menyarankan kepada Bilal, agar berkenan mengkumandangkan adzan pada kesempatan terakhir ini. Akhirnya Bilal memenuhi permintaan mereka.

Lelaki lanjut usia itu naik ke puncak menara masjid. Kemudian ia mulai mengkumandangkan adzan. Suaranya yang merdu dan lantang, membahana dan menggema di langit kota Damaskus. Para jamaah yang hadir di masjid, dan orang-orang yang mendengar suara adzan tersebut, tak kuasa menahan isak tangis mereka. Sekilas terlintas dalam ingatan mereka, masa-masa shalat berjamaah bersama Rasulullah. Teringat pula saat-saat bersama Rasulullah, ketika beliau mengajarkan dan memahamkan Islam kepada mereka, dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Terbayang dalam ingatan mereka, saat-saat berjuang bersama Rasul yang mulia, melewati hari-hari penuh duka, lara dan derita, demi tegaknya agama yang mulia. Sungguh, kenangan-kenangan tadi memunculkan kerinduan yang tak terperi untuk bisa berjumpa kembali dengan Rasulullah tercinta. Mereka semua larut dalam kenangan dan kerinduan yang amat dalam. Bahkan para tentara muslim yang ikut serta, yang sebagian besar pernah berjuang bersama Rasul, tenggelam dalam genangan isak tangis air mata.

LOS ANGELES, KOMPAS.com – Facebook ternyata telah mengubah banyak hal. Tidak saja soal model pergaulan, tapi juga kegemaran para remaja untuk menulis. Selama tiga tahun terakhir, kecanduan remaja akan facebook membuat minat untuk menulis jurnal atau blog turun.

Sebuah studi baru yang dirilis Pew Internet dan American Life pekan ini menunjukkan hanya 14 persen dari remaja yang menggunakan internet mengatakan mereka terus menulis jurnal online atau blog. Angka ini turun hampir separo dibandingkan dengan puncaknya pada tahun 2006 yakni di kisaran 28 dan hanya 8 persen menggunakan Twitter.

“Itu sedikit mengejutkan, walaupun ada penjelasan soal teknologi tersebut,” kata peneliti Pew, Aaron Smith kepada Reuters.

Sekadar diketahui, survei ini dilakukan dengan mewawancarai 800 responden usia 12 sampai 17 tahun. Survei digelar dari Juni-September 2009.

Smith mengatakan, menurunnya tulisan-tulisan di blog karena terjadi ledakan pada situs jaringan sosial seperti Facebook, yang menekankan pembaruan status pendek atas pribadi.

Menurut studi itu, 73 persen dari remaja yang sedang online menggunakan situs jejaring sosial. Dia juga mengutip banyak remaja melakukan hal itu dengan ponsel di mana-mana.  Komunikasi antara orang-orang muda terjadi pada perangkat ponsel, bukan lagi dalam bentuk tulisan yang panjang. “Itu agak menarik dalam arti remaja cenderung
menjadi pengadopsi awal, “kata Smith.

Menurut Pew, blogging di kalangan orang dewasa telah dilakukan sejak 2005, tetapi di kalangan pengguna internet antara usia dari 18 dan 29 tahun jumlahnya menurun, sementara bagi yang berusia 30 tahun cenderung naik.

“Orang-orang tua menjadi lebih nyaman dengan lingkungan online, sementara anak-anak muda telah pindah ke jejaring sosial dan pesan teks,” kata Smith.

Zallum Ar-Rantissi’s Photos

Bagi saya sendiri, shalat terasa sebagai penolong dan penghibur yang utama. Shalat subuh adalah yang paling banyak menuntut kesabaran, dan saya merasa hampir mustahil menyeret diri saya sendiri dari tempat tidur setiap pagi jam 5:00, sampai akhirnya saya temukan cara yang efektif.

Saya meletakkan tiga jam beker dengan jarak tertentu, yang disetel dengan selang lima menit, antara tempat tidur saya dan kamar mandi. Ketika jam yang pertama berdering pada pukul 4:50 pagi, saya tekan tombol shut-off-nya dan, seperti biasa, saya pun tertidur kembali. Lima menit kemudian, jam yang terletak di tengah antara tempat tidur dan kamar mandi berbunyi, dan saya praktis akan merangkak ke arah jam itu, mematikannya kemudian jatuh tertidur disampingnya. Ketika jam terakhir yang terletak di dekat kamar mandi berbunyi lima menit kemudian, saya akan berjuang keras menghampirinya lalu mematikannya dan, karena saya sudah begitu dekat dengan tempat air, saya akan berdiri dan membasuh diri untuk shalat.

— Jeffrey Lang, Struggling to Surrender, hal. 142

Bagi saya, shalat subuh di masjid adalah salah satu ritual dalam Islam yang paling indah dan menggetarkan. Ada sesuatu yang bersifat mistik ketika Anda bangun manakala orang lain tertidur, lalu Anda mendengarkan alunan Al-Quran mengisi kegelapan. Seolah-olah Anda meninggalkan dunia ini untuk sementara waktu dan berkumpul dengan para malaikat untuk memuji Allah sebelum fajar tiba.

— Jeffrey Lang, Struggling to Surrender, hal. 142

According to NPR, “In 2003, a survey of female veterans found that 30 percent said they were raped in the military. A 2004 study of veterans who were seeking help for post-traumatic stress disorder found that 71 percent of the women said they were sexually assaulted or raped while serving. And a 1995 study of female veterans of the Gulf and earlier wars, found that 90 percent had been sexually harassed.”

Ck ck ck ck, temen sendiri aja diperkosa, apalagi warga sipilnya ya?

Hendaknya seseorang tahu akan kemuliaan dan nilai waktunya, sehingga tidak sedetik pun waktunya berlalu tanpa mendekatkan diri kepada-Nya. Maka, dia pun harus melakukan yang terbaik dan terbaik, baik perkataan maupun perbuatan. Tekadnya untuk melakukan kebaikan pun ditunaikan dan tidak pernah luntur, meski badan tak sanggup lagi melakukan. Dia harus melakukan kebaikan sehingga perbuatannya ditiru orang lain. Itulah orang yang tidak pernah mati. Boleh jadi seseorang itu telah pergi, tetapi dia tetap hidup di tengah-tengah manusia.

– Ibn Jauzi, Shaid al-Khathir, hal. 7

Ketika kesulitan mengepung Anda dari delapan penjuru mata angin, jangan pernah kehilangan kepercayaan bahwa Allah adalah sebaik-baik pelindung dan penolong! Tidak ada pelindung dan penolong sebaik Dia. Sesulit apa pun keadaan yang menghimpit Anda, sedramatis apa pun masalah Anda, sebrutal apa pun musibah yang Anda alami, yakinlah Allah pasti tetap akan melindungi dan menolong Anda, karena Dialah Al-Wakil, Ar-Rahman, Ar-Rahim. Percayalah kepada Allah, jangan percaya kepada ketakutan Anda, pikiran negatif Anda, atau bisikan setan lainnya. Yakinlah Anda pasti bisa melaluinya dan keadaan akan baik-baik saja. Hasbunallah wa ni'mal wakil, ni'mal maula wa ni'man nashir...

Anda tidak dapat membaca Al-Quran begitu saja, tidak demikian jika Anda ingin memberi perhatian yang sungguh-sungguh. Anda menyerah saja kepadanya, atau Anda melawannya. Al-Quran akan menyerang dengan kuat, langsung dan tertuju pada setiap pribadi. Al-Quran mendebat, mengkritik, mempermalukan, dan menantang Anda. Dari semula Al-Quran menarik garis batas pertempuran, dan saya berada di sisi yang diperangi. Saya berada pada posisi yang sangat tidak menguntungkan, karena menjadi jelas bahwa pengarangnya mengenali saya lebih baik daripada saya mengenali-Nya.

— Prof. Jeffery Lang, Struggling to Surrender, hal. 36

Sedjak satoe maret 2009

  • 9,640 hits