You are currently browsing the monthly archive for Mei 2009.
Pernah lihat Valkyrie? Film true story yang memiliki tag line “Many Saw Evil. They Dared to Stop It” ini berkisah tentang upaya para perwira tinggi reich Jerman yang berkomplot memberontak rencana jahat Hiltler. Diceritakan bagaimana perjuangan para perwira tinggi yang mengikuti kata hati mereka, tepat di tengah jantung hirarki militer fasis Hitler yang meyakini komando setingkat firman Tuhan.
Heroik? Dramatisasi Hollywood? Tidak juga kalau kita mengetahui saat ini tidak sedikit tentara dan perwira yang berani resist menolak rencana “jahat” pemimpin mereka. Salah satunya adalah gerakan yang bernama www.couragetoresist.org, yang memobilisasi dukungan kepada tentara yang menolak kebijakan AS dalam perang ala “Hiltler” seperti Irak dan Afghanistan.

Dalam salah satu pernyataan tertulisnya mereka -para resisters- menjelaskan alasannya:
There is no way I will deploy to Afghanistan. The occupation is immoral and unjust. It does not make the American People any safer. It has the opposite effect (Victor Agosto).
Tentunya tidak mudah melawan kebijakan pimpinan, terlebih dalam tradisi militer. Apalagi ketika AS memutuskan untuk tetap meneruskan operasi militer di Irak dan Afganistan, dan menolak penutupan tahanan Guantanamo yang kejam itu. Seperti yang dilansir oleh VOA News 22 Mei berikut:
Senat Amerika telah menyetujui 91,3 milyar dolar rancangan pengeluaran yang akan membiayai operasi militer di Afghanistan dan Irak, tetapi menolak dana untuk menutup pusat tahanan Teluk Guantanamo.
Salut untuk para resisters! Tiba-tiba saya teringat salah satu cuplikan di Valkyrie: “When others follow orders, they follow their conscience”. Sebagai militer mereka berani take risk dan resist, lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai sipil? Mereka yang di front line sudah menunjukan courage mereka, bagaimana dengan kita?
Dalam Islam yang saya fahami, harus dibedakan antara hadharah dan madaniyah. Hadharah adalah sekumpulan ide, keyakinan, konsep yang muncul dari ideologi tertentu, atau merupakan derivasi dari pandangan hidup tertentu, seperti yang sudah dibahas pada artikel: DNA Ideologi. Maka jika sekumpulan ide, keyakinan, konsep ini bertentangan dengan akidah Islam maka hukumnya haram.
Sedangkan iptek setahu saya itu termasuk madaniyah ‘aam yang bebas nilai. Termasuk internet dan segala aplikasinya. Kalau pun dianggap haram, yang lebih tepat adalah ide, gagasan atau tindakan (hadharah) yang menciptakan aplikasi internet itu, bukan internetnya sendiri. Toko on-line seperti Amazon atau eBay itu halal, tapi toko on-line yang menjual produk dan jasa pornografi dan prostitusi itu haram. Situs jejaring sosial yang bisa merekatkan silaturahmi itu halal (apalagi untuk dakwah), tetapi situs jejaring sosial untuk kencan sex itu yang haram.
Lebih efektif jika wacananya diarahkan kepada tindakan orang dan policy-nya yang ada dibalik internet atau aplikasinya. Merasa Facebook banyak mudharatnya? Usulkan policy yang bisa menghilangkan kemudharatan tersebut. Atau buat aplikasi jejaring yang baru yang lebih baik, seperti http://muxlim.com misalnya.
Sama seperti jika ada buku porno, yang haram adalah tindakan orang dan policy yang mencetak buku porno tersebut, bukan mesin cetaknya. Kalau mesin cetak dianggap haram, ulama yang menfatwakan itu sama konyolnya dengan ulama Ottoman abad ke-19 yang mengharamkan mesin cetak.

Sembari menulis artikel ini, saya masih bisa mendengar bunyi sirine meraung-raung, diiringi oleh suara galak polisi berteriak-teriak (dengan pengeras suara yang terpasang di atap mobil patrolinya): “Minggir! Minggir! Merapat ke tepi! Merapat ke tepi!” Para pengendara motor dan mobil dibuat kocar-kacir menepi kelimpungan. Orang-orang memanjat di tembok-tembok celingukan, penasaran ingin tahu dewa apa gerangan yang bakal lewat. Dari kejauhan, melaju segerombolan mobil mewah hitam mengkilat, diiringi oleh mobil dan motor patroli berkecepatan tinggi yang kelihatannya siap menabrak apa pun yang menghalangi mereka.
Saya yang kebetulan berada tidak jauh dari lokasi, bertanya kepada salah satu polisi, “RI 2″, jawabnya singkat. Kata polisi itu sebelumnya beliau dari Pasar Beringharjo dan sekarang menuju ke Asrama Haji di dekat Monumen Jogja Kembali. Jam saya saat itu menunjukkan sekitar pukul 16:30.

Pasar Beringharjo? Tiba-tiba saya teringat kepada jargon pemimpin yang welas asih kepada rakyat kecil. Tiba-tiba saya juga teringat kepada Megawati yang dulu tahun 2004 ketika maju lagi menjadi capres, mengadakan acara makan malam di warung lesehan Malioboro dan paginya sarapan dengan para pedagang kecil di Beringharjo. Tiba-tiba saya juga teringat kepada Wiranto yang beberapa waktu lalu berdemonstrasi memakan nasi aking yang katanya sangat tidak enak, untuk menunjukkan pentingnya empati dan nurani kepada rakyat kecil. Tiba-tiba saya merasa muak. Muak ketika rakyat kecil hanya dijadikan simbol untuk meraih jenjang kekuasaan. Muak seperti halnya agama dijadikan simbol untuk memoles kekuasaan (ingat shalawat Badar pada deklarasi SBY Berbudi?).
Saya sungguh heran, mengapa semua bentuk simbolisme yang memuakkan ini terus menjadi tren? Mengapa basa-basi marketing politik dan strategi ala window dressing basi ini terus diulang-ulang? Apakah para politisi itu tidak menyadari tingkah polahnya telah menyerupai dunia sinetron yang pathetic dan ridiculous itu? Apakah mereka mengira, kita rakyat biasa sedemikian bodohnya tidak bisa menilai tindakan mereka? Apakah mereka mengira, kita tidak bisa membedakan mana tindakan yang hanya sebatas simbol dan basa-basi palsu, mana tindakan yang muncul dari laku keikhlasan dan pengorbanan yang mengakar dalam? Yah, kecuali memang kita sudah tersihir oleh tayangan sinetron yang pathetic dan ridiculous itu, serta meyakininya sebagai sebuah realitas yang harus dimaklumi.
Sebagai perbandingan, saya akan menunjukkan dua kisah dalam sejarah yang mudah-mudahan bisa mengilhami arti dan laku pemimpin sejati. Pemimpin yang memaknai kepemimpinan adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Pemimpin yang mau lapar duluan tapi kenyang belakangan. Pemimpin yang mau berkorban ala prinsip dan tradisi Kapten Backdraft: “First In, Last Out”, yang mengilhami mereka untuk menjadi yang pertama maju mendobrak api yang berkobar-kobar berusaha menyelamatkan nyawa.
Pemimpin yang tidak butuh simbol dan basa-basi politik untuk mendongkrak popularitasnya, yang hanya sok akrab dengan rakyat kecil pas kampanye saja. Inilah kisah dua pemimpin, kisah dua Khalifah pewaris Nabi, yang sekalipun terpisah ruang dan waktu; Madinah abad ke 7 M dan “Beringharjo” abad ke 20 M, tetapi memiliki ruh dan semangat yang sama. Yang dari Madinah bergelar: Khalifah Amirul Mukminin. Sedangkan yang dari “Beringharjo” bergelar: Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono, Senopati Ing Ngalogo, Abdurrahman Sayidin Panoto Gomo, Khalifatullah Ingkang Kaping Songo.
Madinah, abad ke-7 M. Umar bin Khaththab adalah sosok peronda nomor satu. Sementara orang-orang di ibu kota kekhalifahan terlelap dalam tidur sedang dirinya tidak, orang-orang kenyang sedang dirinya tidak, orang-orang santai sedang dirinya tidak. Pada suatu malam, ketika menyusuri lorong-lorong kota Madinah, tiba-tiba ia melihat seorang ibu berada di dalam rumahnya bersama beberapa anak kecil yang terus menangis mengelilingi sang ibu. Di sudut lain, tampak sebuah panci berisi air diletakkan di atas perapian. Umar kemudian mendekati pintu dan berkata,
“Wahai hamba Allah, kenapa anak-anak ini menangis?”
“Mereka menangis karena lapar,” sahut wanita itu.
“Lalu, untuk apa panci di atas api itu?”
“Aku mengisinya dengan air. Ini dia. Aku mengalihkan perhatian mereka dengan air itu sampai mereka tertidur. Aku mengelabui mereka supaya mengira di dalam panci itu ada sesuatu yang dimasak.”
Mendengar itu Umar menangis. Ia bergegas mendatangi tempat penyimpanan kas negara (baytul mâl). Ia mengambil sebuah karung, kemudian mengisinya dengan terigu, minyak, mentega, kurma kering, baju dan uang. Ia mengisi karung itu sampai penuh. Ia berkata pada ajudannya,
“Wahai ‘Aslam, angkat karung ini ke atas pundakku!”
“Wahai Amirul Mukminin, aku saja yang mengangkatnya,” kata ‘Aslam.
“Tidak, ini bukan kewajibanmu, wahai ‘Aslam. Sebab, aku yang akan bertanggung jawab di akhirat nanti.”
Umar membawa karung itu dan pergi menuju rumah wanita tersebut. Ia kemudian mengambil panci, mengisinya dengan terigu, sedikit minyak dan kurma kering. Ia mengaduknya, dan meniup api yang ada di bawah panci. ‘Aslam berkata,
“Aku melihat asap keluar dari sela-sela janggut Umar, dan ia memasak makanan itu sampai selesai. Ia lalu menciduknya, dan memberi makan anak-anak itu sampai mereka kenyang.”
Yogyakarta, abad ke-20 M. Sri Sultan Hamengku Buwono IX ini kegemarannya naik mobil sendiri. Beliau sering mengendarai mobil sendiri dari Yogya-Jakarta kadang-kadang ke Bandung. Dulu ketika Sri Sultan sedang berjalan-jalan dengan mobilnya ia dihentikan oleh seorang perempuan separuh umur. Ibu-ibu itu mengira Sri Sultan adalah sopir angkutan sayur. Mobil berhenti.
“Ada apa Bu…?” Tanya Sri Sultan.
“Ini Pak Sopir tolong naikkan karung-karung sayur saya mau antar barang ini ke Pasar Beringharjo” Perintah Ibu itu tegas.
Sri Sultan yang mengenakan kaca mata hitam tersenyum dan turun ia pun mengangkut karung-karung sayur itu. Setelah karung-karung sayur dinaikkan, Ibu itu juga naik ke dalam mobil dan duduk di belakang.
Setelah sampai depan pasar Beringharjo Sri Sultan turun dan mengangkut karung-karung itu sampai ke dalam pasar, si Ibu itu berjalan di depannya. Seorang mantri polisi memperhatikan dengan cermat kejadian itu. Setelah karung-karung sayur ditaruh ditempatnya, Ibu itu bertanya,
“Berapa ongkosnya, Pak Sopir?”
“Wah… Ndak usah Bu.” Jawab Sri Sultan.
“Walaah… Pak Sopir… Pak Sopir kayak ndak butuh uang saja?” Sergah Ibu itu lagi.
“Sudah tidak Bu terima kasih.” Sri Sultan kembali menolak sopan.
“Lho, kurang tho… Biasanya saya ngasihnya juga segini?” kata Ibu itu yang mengira sopir itu menolak uangnya karena kecewa pemberiannya kurang.
“Ndak apa-apa Bu, saya cuma membantu…” Sultan tetap menolak sopan.
“Sudah merasa kaya tho Pak Sopir? Ndak mau terima uang?” kata si Ibu sinis. Sri Sultan tersenyum dan kemudian pamit keluar pasar.
Saat Sri Sultan pergi si Ibu masih saja ngedumel,
“Dasar Sopir gemblung dikasih duit ndak mau!” Ujar Ibu itu sambil memberesi karung-karung sayurannya…
Mantri Polisi yang sedari tadi mengamati peristiwa itu mendekati Ibu pedagang sayur itu.
“Bu…tadi Ibu tahu bicara dengan siapa?”
“Dengan siapa? Ya dengan Pak Sopir… Piye tho sampeyan iki (gimana sih kamu)!” Jawab si Ibu kesal.
“Ibu tahu, tadi Ibu bicara kaliyan sing nduwe ringin kembar kuwi… (tadi ibu bicara dengan yang punya beringin kembar itu)” Kata Mantri Polisi itu seraya menunjuk ke arah beringin kembar di depan Keraton Yogya.
Sang Ibu tadi langsung jatuh pingsan di tempat.
Suara raungan sirine dan bentakan kasar polisi tadi masih terngiang-ngiang di kepala saya. Begitu pula dengan kisah dua Khalifah Madinah dan “Beringharjo” di atas. Sungguh saya merindukan hadirnya pemimpin sejati seperti Umar bin Khaththab dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX (yang juga berani memimpin di medan laga pada serangan umum satoe maret 1949 yang berhasil usir penjajah).
Sumber berita:
http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/03/apa-kita-terjangkit-penyakit-sombong-4.html
http://orgawam.wordpress.com/2007/09/24/sri-sultan-hamengku-buwono-ix/
Akhirnya, tadi pagi saya sempat juga menyaksikan berita yang sedang hawt-hawt-nya di televisi tentang AA, RJ dan tewasnya NZ itu. Sebuah kesempatan langka karena selain kesibukan sehari-hari, biasalah seorang ayah yang baik katanya harus mengalah kepada anak-anaknya yang suka nonton Tom and Jerry atau Spongebob Squarepants (just to be honest here, I love Spongebob! Selalu ceria, tertawa dan rajin bekerja).
Bagi media kasus AA, RJ dan NZ pasti berasa surga, yah bagaimana pun Bad News Is Still Good News. Apalagi bagi musuh-musuh politik KPK, entah berapa kali mereka sudah angkat gelas dan toast celebrating terjeratnya AA dalam kasus ini. Dan tidak ketinggalan para penikmat gossip, infotainment dan bahkan penggemar teori konspirasi yang berimajinasi merangkai berbagai motif dan skenario yang mungkin terjadi.
But come on guys; pernahkah kita berfikir tentang bagaimana suasana hati mereka? AA, RJ, NZ dan keluarganya? Sedih, tertekan, malu, bahkan marah? Mungkin lebih dari itu semua; tercabik, terkoyak, terhempas, terkucilkan dalam dunia gelap-pekat-dingin-menyedihkan-memalukan-melelahkan, yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Saya tidak berbicara benar dan salah di sini, karena bagainamapun juga; The Truth Is Out There! Saya hanya mencoba membayangkan; apa yang saya rasakan ketika saya jadi mereka? Ketika saya jadi keluarga mereka? Ketika saya jadi anak mereka atau ayah mereka?
Pada tayangan berita televisi itu, sekilas saya melihat wajah sayu istri AA di-shoot berkali-kali. Termasuk foto AA bersama keluarga yang dipajang di dinding. Mereka terlihat sangat bahagia. Entah apa yang mereka fikirkan saat itu, mungkin mereka tidak pernah membayangkan akan mengalami episode hidup seperti ini sebelumnya. Ada juga kakek RJ yang kebingungan entah dimana cucunya sekarang; mereka sekeluarga merindukan kepulangannya. Belum lagi amarah dan kesedihan keluarga NZ, karena apa pun yang terjadi, NZ tidak akan mungkin kembali.
Terlepas dari benar salahnya tindakan mereka, dan terlepas juga dari konsekuensi logis (balasan setimpal) dari tindakan mereka, sungguh kesedihan dan penderitaan mereka pasti tiada terperi. Dan seperti biasa, akhirnya penyesalan pun selalu datang terlambat (kayaknya dia memang tidak pernah datang di awal, apalagi on time). Para pelaku ataupun korban kasus ini akhirnya hanya bisa berkata: What if…
Saya tidak tahu apa yang Anda fikirkan, tapi jika saya tengah disekap oleh persoalan pelik seperti ini -apalagi jika persoalan tersebut akibat kesalahan saya sendiri- maka saya akan berfikir; betapa indah dan berharganya saat-saat itu; saat-saat ketika semuanya ini belum terjadi; berkumpul bercengkrama bercanda dengan keluarga. Tertawa bersama, bermain bersama, makan bersama. Sebuah keluarga yang hangat dan harmonis; membantu membuatkan PR anak pada malam hari, dan mengantarkan mereka ke sekolah pagi harinya. Kegiatan yang dulu sepele tapi kini menjadi permata tak ternilai harganya; terlebih jika Anda sekarang mendekam di penjara, apalagi di alam baka.

Saat-saat bak permata itu, adalah saat-saat sekarang yang saya miliki bersama keluarga. Cherish it, don’t waste it.
(sumber gambar http://zenhabits.net/fotos/20090205family.jpg)
Setelah kita menyimak definisi ideologi dalam tulisan sebelumnya: Yuk Diskusi Ideologi, biasanya akan muncul pertanyaan-pertanyaan berikut: Apa saja ideologi yang ada di dunia ini? Apakah Islam agama atau ideologi? Mana yang bisa disebut ideologi dan mana yang tidak? Atau, apa yang membuat sebuah ideologi menjadi ideologi?
Sebagaimana yang saya sebutkan sebelumnya, saya tidak berniat mejadikan definisi ideologi ini sebagai satu-satunya definisi valid yang harus Anda pakai. Pertama, saya hanya berusaha menjawab ketika ada yang bertanya: Dude, what the heck is ideology? Dan kedua, saya hanya ingin mengajak Anda untuk melihat dunia secara berbeda berangkat dari definisi yang saya berikan tersebut.
Jika ideologi diartikan pandangan hidup rasional yang melahirkan aturan kehidupan integral, maka pandangan hidup tadi adalah ruh bagi ideologi tersebut. Ia seperti DNA bagi sebuah organisme biologis kompleks. Ia seperti akar yang menentukan buah apa yang akan dipetik nantinya. Ia seperti iman yang membuat ideologi menjadi nyaman dan mantap diyakini, sehingga mampu tumbuhkan militansi dan konsistensi yang luar biasa.
Pertanyaan berikutnya adalah, jika pandangan hidup begitu penting bagi keberadaan sebuah ideologi, jika pandangan hidup menentukan merah hijaunya sebuah ideologi, lantas apakah pandangan hidup itu? What the heck is view of life? Apa sebenarnya yang membuat seseorang memandang kehidupan ini dengan cara yang berbeda? Dan kemudian dia bertindak, berpolitik dan berekonomi dengan cara yang berbeda? Apa yang membuat sebuah pandangan hidup menjadi pandangan hidup? Jika DNA biologis terusun dari kode-kode protein ATGC, maka DNA ideologis tersusun atas apa?
Sederhananya, pandangan hidup adalah sebuah rumusan yang menggambarkan relasi-relasi antara kehidupan manusia saat ini, dengan sebelum dan sesudah kehidupan (life after death). Seperti isu-isu tentang Tuhan, penciptaan alam semsesta, akhirat, surga dan neraka. Nampaknya setiap ideologi dalam definisi saya tadi, berusaha memberikan penjelasan rasional terhadap relasi-relasi tersebut. Yang mana rumusan pandangan hidup tersebut kemudian digunakan untuk merancang sebuah tata sosial politik yang khas dan unik.
Mari kita mulai dari Sekulerisme. Ia mengakui agama, Tuhan dan akhirat, namun ia menolak intervensi agama, Tuhan dan akhirat tadi dalam kehidupan luas, khususnya politik. Seperti yang dijelaskan oleh Prof. Barry A. Kosmin berikut:
Secularism refers to a belief that human activities and decisions, especially political ones, should be based on evidence and fact unbiased by religious influence (Kosmin, Barry A. “Contemporary Secularity and Secularism.” Secularism & Secularity: Contemporary International Perspectives).
Beranjak dari sini, munculah pandangan hidup yang sekalipun tidak menolak agama, tapi mensterilkan peran agama dalam kehidupan luas. Manusia harus dibebaskan dalam menentukan sikap dan apa yang terbaik baginya, tanpa perlu tunduk dengan ketentuan agama mana pun. Halal-haram dan surga-neraka mungkin diakui, tapi tidak relevan dibawa-bawa dalam kehidupan publik.
Maka kemudian seluruh tatanan kehidupan seperti politik, ekonomi, sosial, hukum dan lain-lain disusun berdasarkan keyakinan separation of church and state ini. Jadi sekalipun dalam setiap lembar dollar tertulis: In God we trust, tapi God tidak boleh dibawa-bawa dalam mengatur ekonomi, yang kemudian menghasilkan corak ekonomi yang kapitalistik, yang bertumpu pada properti privat dan korporasi. Termasuk ketika presiden diambil sumpahnya di atas Injil atau Quran, tidak berarti pemerintahannya berpedoman kepada Kitab Suci tersebut. Tetap saja suara rakyat adalah suara Tuhan.
Bagaimana dengan Komunisme? Ideologi ini berangkat dari pandangan hidupnya; dialektika materialisme. Semua konsep-konsep Marx tentang politik, ekonomi dan revolusi bertumpu pada “akidah” dialektika materialisme ini. Seperti yang disebutkan Rob Sewell berikut:
Dialectical materialism is the philosophy of Marxism, which provides us with a scientific and comprehensive world outlook. It is the philosophical bedrock – the method – on which the whole of Marxist doctrine is founded (http://www.marxist.com/what-is-dialectical-materialism.htm).
Sederhananya, dialektika materialisme menganggap segala hal yang ada hanyalah dinamika materi yang berkembang, berubah dan berdialektika. Tidak ada tempat bagi Tuhan, surga ataupun neraka. Dari sinilah kemudian muncul konsep pertentangan kelas menuju masyarakat komunis yang dicita-citakan itu. Berbeda dengan Sekulerisme yang masih menerima agama, Komunisme justru menganggap agama, Tuhan dan akhirat sebagai penghambat kemajuan yang harus dihilangkan. Seperti yang dikatakan sendiri oleh Marx berikut:
Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless world, just as it is the spirit of spiritless conditions. It is the opium of the people (Karl Marx, Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right).
Bahkan lebih jelas lagi Lenin menyebutkan agama hanya akan menghambat jalannya revolusi yang bertumpu pada class strugle, sebab manusia rela menderita karena toh masih ada surga:
Impotence of the exploited classes in their struggle against the exploiters just as inevitably gives rise to the belief in a better life after death, as impotence of the savage in his battle with nature gives rise to belief in gods, devils, miracles, and the like (http://www.marxists.org/archive/lenin/works/1905/dec/03.htm).
Lalu bagaimana dengan Islam? Islam terdiri dari iman dan takwa. Akidah (pandangan hidup) dan syariah (aturan kehidupan). Akidah Islam itu sendiri adalah apa yang disebut dengan Rukun Iman: Iman kepada Allah, iman kepada Malaikat-malaikat-Nya, iman kepada kitab-kitab-Nya, iman kepada rasul-rasul-Nya, iman kepada hari akhir, serta iman kepada qadha dan qadar.
Dari Rukun Iman di atas dapat digambarkan relasi-relasi antara kehidupan saat ini dengan sebelum dan sesudah kehidupan: Bahwa Allah SWT telah menciptakan alam semesta dan seisinya. Tapi Dia tidak membiarkan manusia begitu saja, tanpa memberikan petunjuk untuk hidup di dunia dengan benar sesuai dengan perintah dan larangan-Nya. Sampai akhirnya manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas semua perbuatannya di dunia, dan ditentukan nasibnya apakah masuk surga atau neraka.
Dari prinsip halal-haram, pahala-siksa dan surga-neraka di atas, disusunlah sebuah tatanan kehidupan yang komprehensif baik pada lingkup pribadi, institusi dan negeri. Dalam ranah pribadi misalnya, seorang muslim wajib mencari nafkah dengan cara yang halal, makan minum yang halal, berpakaian dengan menutup aurat, menjalin hubungan dengan lawan jenis dengan cara yang halal (menikah), dan lain-lain. Semuanya ini dilandasi dengan kesadaran bahwa hidup adalah ibadah dengan menyempurnakan ketaatan kepada-Nya, mengharap ridha dan pahala-Nya, serta menghindari murka dan siksa-Nya.
Pada lingkup negeri misalnya kewajiban negara menjalankan Sharianomics, mengautur kepemilikan, produksi-konsumsi sampai distribusi sesuai dengan syariah. Melarang privatisasi dan praktek-praktek ekonomi berbasis riba. Termasuk juga menjalankan sistem pemerintahan Khilafah yang menempatkan kedaulatan (hak menetapkan hukum) di tangan syariat dan kekuasaan (hak mengangkat pemimpin) di tangan rakyat. Dan seterusnya.
Sampai di sini kita bisa melihat bagaimana pandangan hidup sebuah ideologi seperti sebuah DNA yang menentukan corak sistem politik, ekonomi, sosial, hukum yang khas dan unik. Jika DNA biologi terdiri dari kode-kode protein: Adenine (A), thymine (T), guanine (G), dan cytosine (C). Maka DNA ideologi terdiri dari relasi-relasi berikut ini:
| Sebelum Kehidupan (1) | Relasi (1)(2) |
Kehidupan Sekarang (2) |
Relasi (2)(3) | Setelah Kehidupan (3) |
|
| Sekulerisme |
Pencipta |
Nggak penting |
Mengikuti kehendak bebas manusia |
Nggak penting |
Akhirat |
| Islam |
Pencipta |
Halal dan Haram |
Mengikuti halal dan haram (ibadah) |
Pahala dan Siksa |
Akhirat |
| Komunisme |
Materi |
Materi |
Mengikuti dialektika materialisme |
Materi |
Materi |
Dengan penjabaran DNA ideologi ini kita bisa mengetahui bahwa Sekulerisme, Komunisme dan Islam adalah sebuah Ideologi. Khusus untuk Islam berarti dia adalah agama sekaligus ideologi. Sekedar iseng-iseng saja, jika ada klaim sebuah ideologi baru, katakanlah Holoholo, menarik untuk menguji DNA ideologi tersebut dengan memintanya merumuskan relasi-relasi di atas.

Komentar Terbaru