Ketika SBY menang kemarin, saya tiba-tiba teringat pembahasan Pancasila vs Blackberry pada artikel Politikana.com milik Bung Guntur Pratama: “Email Andi Mallarangeng Bocor, Pemilu makin panas”. Saya terkagum-kagum dengan tingkat percaya diri dan analisis penulis email itu (siapa pun dia), yang yakin 100% bahwa SBY akan menang, mengingat email itu beredar hanya tiga hari sebelum pilpres. Berikut ini petikannya:

Bangsa kita berada pada tahap puncak konsumerisme yang menyebabkan kaburnya identitas Nasional. Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila itu tinggal jargon2 saja. Jadi orang akan memiih dari apa yang mereka lihat dan sukai dan itu jelas masalah pembawaan dan penampilan. Masyarakat konsumen tidak akan  peduli dengan apa yang dibawa oleh orang tersebut. Mau kapatalis, sosialis, atau neolib sekalipun, mereka tidak akan pedulikan. Yang penting mereka puas dengan penampilan si kandidat.. Dan kandidat itu adalah SBY-Boediono..

Tetapi lihatlah pada hari pencontrengan nanti, masyarakat tetap tidak akan  bergeming dari pilihan kita. Sebab bagi masyarakat konsumen, yang penting bukanlah isu, tetapi penampilan dari kandidat. Ibaratnya blackberry vs pancasila, jelas ketahuan mana yang laku dan tidak sekarang ini. Masyarakat kita mati2an berhutang kiri kanan buat beli blackberry makin lupa lah sama pancasila.

Kita mengontrol pikiran dan sentiment public sekarang, ndak ada yang bisa kalahkan itu.

Lagipula, taruhlah media tidak lagi “bersahabat”, itu hanya segelintir. Media itu bisnis bung, owner nya ndak mungkin ambil risiko untuk lima tahun ke depan. bisa ndak makan mereka kan. Yang penting anda kan sudah dijelaskan dan ditunjukkan. selama skenario utama tetap terjaga, Cuma hitungan hari kok dan jadilah kita berangkat ke Bermuda kan haha…… ingat saja, skenario ini sudah lima kali dites dan tidak pernah gagal.. Dengan persiapan sudah lebih lama dan panjang, skenario sekarang jauh lebih sempurna.

Siapa pun penulis email itu, he really knows what he’s doing, and he really damn good about it! Salah satunya adalah kalimatnya yang ini: “Masyarakat kita mati2an berhutang kiri kanan buat beli blackberry makin lupa lah sama pancasila.” Sebagian dari Anda mungkin masih ingat artikel lain tentang Blackberry yang ditulis Bung Tkp: “Ini Blackberryku, Mana Blackberrymu?”, yang menceritakan derita dan keluh kesah seorang ibu yang anaknya mogok kuliah minta dibelikan Blackberry. Berikut ini kutipannya:

Rupanya asal bunyi itu adalah Blackberry Bold-nya yang berbunyi. Ada email masuk. Dia sigap membukanya, lalu tersenyum. Tampaknya ada kabar gembira mampir di Blackberrynya. Setelah itu telepon berbunyi. Dan si gadis bercakap dengan orang di seberang: “Iya, udah. Coba kamu lihat di Facebook. Aku udah kirim. Ok,” rupanya dia sedang berkirim pesan via email dan jejaring pertemanan Facebook yang lagi booming itu. Perantaranya Blackberry. Dia tampak riang.

Ibu murung yang duduk di sebelahnya tampak kontras dengan kegembiraan itu. Setelah si gadis selesai dengan Blackberrynya, si ibu tiba-tiba menyapa membuka percakapan. “Seperti itu harganya berapa, Mbak,” ujar si Ibu sembari menunjuk ke Blackberry.

“Oh, Blackberry. Ini 7 juta bu,” jawab si gadis kaya enteng. Si Ibu tampak mengela napas. “Semua harganya segitu?” Ibu bertanya lagi. Si gadis menjawab,”Oh, tidak Bu. Macam-macam kok, ada yang lebih murah, sekitar 4 jutaan. Itu yang paling murah.”

Si Ibu menghela napas lagi. “Itu yang paling murah?” tanyanya lagi pada si gadis. “Oh, ada yang murah lagi Bu, tapi barang bekas. Paling 2 jutaan,” jawab si gadis mantap, seperti makelar saja.

Si Ibu, lagi-lagi, menghela. Saya tak menanya si Ibu kenapa menghela, tapi dari petunjuk mimiknya, saya merasa, dia tidak setuju dengan angka “murah” yang dibilang si gadis.

“Memang kenapa Bu? Mau beli? Memang ini sekarang barang penting lho Bu, apalagi buat yang kuliah atau kerja,” katanya sok menasehati.

“Bukan buat saya, Mbak. Tapi anak saya yang masih kuliah. Anak perempuan saya satu-satunya. Dia mogok nggak mau kuliah kalau tidak dibelikan yang seperti itu (Blackberry). Tapi saya kan tidak punya uang,” si Ibu mulai menjelaskan alasan helaannya. “Semua temannya punya yang seperti itu. Makanya dia kepingin. Padahal dia sudah punya HP, tapi dia minta diganti sama yang itu. Dan saya tak punya uang. Makanya, saya ke Jakarta ini pinjam uang 1 juta sama adik saya. Ternyata masih kurang ya..?”

Saya tidak akan menulis artikel ini, kalau saya tidak mendengar keluh kesah dan derita Ibu yang lain, karena anaknya merengek minta Blackberry. Barusan tadi sore, ada Ibu-ibu pemilik kios kosmetik di Pasar Lempuyangan Yogyakarta, yang curhat ke teman-temannya pedagang pasar yang lain. Bahwa ia pernah berjanji kepada anaknya, jika lulus SMP dan diterima di SMU Negeri, maka si anak tadi akan diberi hadiah Blackberry. Dan ternyata anaknya diterima di SMU Negeri! Maka pusinglah sang Ibu untuk memenuhi janjinya membelikan Blackberry.

Saya juga tidak akan menulis artikel ini, kalau saya tidak ingat artikel inspiratif Bung Haris Firdaus, “Pemilu Tanpa Ideologi”:

Pada sebuah sore, beberapa hari setelah Pemilu, saya melihat seorang penjual makanan keliling sedang mendorong gerobaknya. Ia memakai kaos Partai Gerindra. Di gerobaknya, saya melihat sebuah stiker Partai Keadilan Sejahtera.

Seandainya hal itu tak terjadi di Indonesia pada hari ini, kita bisa menyebut sang penjual makanan tadi sebagai seorang yang plin-plan, seorang bunglon, atau semacamnya. Tapi ini Indonesia tahun 2009, dan orang tak akan peduli jika kau memakai kaos Partai Golkar tapi di rumah atau motormu terpasang stiker Partai Demokrat. Kaos, stiker, umbul-umbul, gambar, dan segala atribut partai politik di Indonesia pada hari ini, sama sekali bukan sebuah simbol yang sifatnya ideologis. Semua atribut partai yang kau pakai tak akan serta merta diartikan sebagai tanda afiliasi politikmu.

Sekali lagi, ini Indonesia tahun 2009, dan kau bisa saja ikut kampanye PDIP pada hari ini tapi di lusa kau akan serta saat Hanura atau Demokrat berkampanye. Tentu saja kau tak perlu hirau dengan perbedaan-perbedaan antar partai-partai yang kau ikuti kampanyenya. Kau tak usah ambil pusing soal ideologi, platform partai, kebijakan, atau bahkan kau tak perlu berpikir bahwa PDIP dan Partai Demokrat sedang saling serang.

Jika ada sesuatu yang absen dari praktik berpolitik kita hari ini, maka itu adalah ideologi. Politik kita makin menjelma menjadi sebuah kegiatan praktis dan taktis serta makin menjauh dari apa yang bisa kita sebut sebagai “tindakan ideologis”. Partai-partai kita adalah lembaga-lembaga politik yang kebanyakan hidup tanpa ideologi, tanpa sebuah ide besar yang memandu. Oleh karena itu, wajar jika yang kita jumpai adalah oportunisme dan pragmatisme dalam segala laku politik. Sikap politik tak pernah menjadi sesuatu yang kaku. Politik pada akhirnya menjadi laku yang lentur. Selalu ada toleransi, selalu ada kepentingan yang bisa dikompromikan, didagangkan.

Mau bagaimana lagi, kita bukan hidup di tahun 1955 di mana masyarakat masih sangat ideologis. Pada kala itu, mereka yang ikut kampanye tak pernah dibayar. Justru sebaliknya: rakyat yang datang ke kampanye akan mengisi kotak sumbangan sukarela yang ada di lokasi kampanye. Masa-masa itu tentu sudah lewat. Kini, realitanya, Pemilu kita adalah Pemilu tanpa ideologi.

Nampaknya, jika ada ideologi yang menang pada pemilu kali ini, maka itu adalah ideologi Blackberry (kapitalisme, konsumerisme, materialisme, dkk).

(sumber gambar: blog.laptopmag.com/wpress/wp-content/uploads/2008/04/sniffer.jpg)