You are currently browsing the category archive for the ‘Halqah Online’ category.
Perdebatan tentang ideologi di Pemilu mulai memanas belakangan ini (lihat artikel: Pemilu Tanpa Ideologi). Harus diakui memang, seringkali perdebatan menjadi kurang sehat karena belum adanya kesepakatan yang sama tentang pengertian sebuah istilah. Mestinya, beberapa istilah pokok harus disepakati dulu definisinya, well at least kalau pun tetap tidak sepakat tentang sebuah definisi, kita toh sudah mengetahui definisi dari perspektif lain serta mencoba memahami alur tali-temali logika argumennya. Sehingga para debaters berpijak pada “bumi” yang sama, dan mudah-mudahan perdebatan akan lebih atraktif dan konstruktif.
Berangkat dari sini saya menawarkan sebuah artikel yang mencoba mendefinisikan salah satu istilah yang sering dibahas belakangan ini: Ideologi. Oh ya, agar tidak salah persepsi lagi, ideologi yang dimaksud di sini adalah ideologi dalam konteks politik, bukan dalam konteks epistimologi apalagi seni, he..he… Ok, hanya sebagai pembukaan dan pemanasan saja, akan saya kutipkan beberapa definisi yang ada tentang ideologi:
An ideology is a form of social or political philosophy in which practical elements are as prominent as theoretical ones. It is a system of ideas that aspires both to explain the world and to change it (http://www.britannica.com/EBchecked/topic/281943/ideology).
An ideology is a set of aims and ideas, especially in politics. An ideology can be thought of as a comprehensive vision, as a way of looking at things, as in common sense and several philosophical tendencies, or a set of ideas proposed by the dominant class of a society to all members of this society (http://en.wikipedia.org/wiki/Ideology).
Ideology is the combination of organise ideas which give a new direction to the people for revolution (http://wiki.answers.com/Q/What_is_ideology).
Dari sample tiga definisi di atas, setidaknya kita bisa menyarikan beberapa kata kunci dari definisi ideologi: Pertama, dia terdiri dari sekumpulan gagasan, keyakinan dan pandangan komprehensif yang menjelaskan dunia dan kehidupan. Dan kedua, dia harus mencakup aspek praktis yang mampu menggambarkan tata dunia baru yang dicita-citakannya (ekonomi, sosial, politik, hukum, pendidikan, politik luar negeri, etc), sekaligus memberikan pedoman bagaimana merubah realitas yang ada menuju yang dicita-citakan tadi.
Dari definisi di atas akhirnya bisa ditemukan beberapa contoh ideologi yang sudah ada di dunia ini, seperti kapitalisme, neo-liberalisme, komunisme, sosialisme, dan lain-lain (I’ll save for “that one” latter). Jika kita lihat, masing-masing ideologi memiliki pandangan hidup dan tatanan kehidupan yang khas dan unik, yang berbeda satu dengan yang lain. Ibaratnya, mereka seperti sebuah pohon yang berbeda karena perbedaan benih dan akar yang tertanam sebelumnya. Dari sini juga bisa diamati bahwa kredibilitas sebuah definisi salah satunya dijamin dengan adanya realitas yang bersesuaian dengan definisi tersebut.
Tulisan ini tidak bermaksud untuk memaksakan satu definisi ideologi yang harus Anda gunakan. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, tulisan ini setidaknya bermaksud untuk bisa memahami “dunia lain” melalui definisi atau sudut pandang orang yang memiliki definisi tersebut. Ini seperti melihat dunia yang berbeda dengan meminjam kaca mata seseorang, atau menjalani hidup dengan cara yang berbeda dengan meminjam sepatu orang. Harapannya kita bisa memiliki sikap seperti pada quote: Don’t judge a man before walking a mile in his shoes!
Karena ini adalah tulisan opini, maka sekarang saya akan menunjukkan sepatu.. err.. maksudnya definisi ideologi yang saya dan teman-teman biasa gunakan dalam dunia pergerakan. Yups, mungkin ini bukan definisi yang Anda harapkan. Dan ini bukan definisi yang dirancang dari belakang meja luks akademik kampus. Tapi ini adalah sebuah definisi yang dirancang di jalan-jalan dan gang-gang kumuh dimana sebuah revolusi dilahirkan, yang sering kali harus kucing-kucingan dengan rezim represif yang hobinya main tangkap sembarangan.
Taqiyuddin An-Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir, mendefinisikan ideologi sebagai pendangan hidup rasional, yang melahirkan seperangkat aturan kehidupan integral yang saling terkait kelindan, apakah itu ekonomi, sosial, politik, hukum, pendidikan, politik luar negeri, dan lain-lain. Kalau diteliti, definisi ini mirip dengan definisi-definisi ideologi sebelumnya, yang di atas saya sarikan dengan dua hal pokok: Pertama, sekumpulan keyakinan dan gagasan yang menjelaskan dunia ini (pandangan hidup). Dan kedua, aspek praktis yang menggambarkan tatanan ideal masyarakat yang dicita-citakan, serta bagaimana mewujudkannya (aturan kehidupan komprehensif).
Satu-satunya perbedaan yang cukup kontras adalah, dalam definisi yang saya tawarkan disebutkan pandangan hidup rasional atau aqidah aqliyah. Pandangan hidup rasional yang dimaksud adalah pandangan hidup yang dihasilkan dari proses berfikir, berkebalikan dengan pandangan hidup yang diambil secara taken for granted atau ditelan mentah-mentah secara dogmatis; cukup yakini saja dan jangan banyak tanya!
Saya akan membahasnya lebih detil tentang aqidah aqliyah ini pada tulisan berikutnya. Oh ya satu hal lagi, dalam definisi di atas maupun definisi yang saya tawarkan, menunjukkan sebuah persyaratan penting yang harus dimiliki oleh sebuah ideologi. Hal itu adalah kesatuan organik antara pandangan hidup dan aturan kehidupan yang dilahirkannya. Seperti yang saya sebut di atas, keduanya seperti akar pohon dan buahnya. Kalau akar mangga maka akan berbuah mangga, kalau akar jeruk maka akan berbuah jeruk. Keduanya harus nyambung dan dapat dijelaskan secara logis. Karena ideologi (dalam tinjauan ilmu meta-ideologi) adalah coherent system of ideas. Saya juga akan memberikan contoh-contoh praktisnya di tulisan yang lain.
Tapi sederhananya begini, misalnya ada sebuah ideologi yang bernama Holoholo, yang (mengaku) memiliki pandangan hidup khas Holoholo, yang seharusnya juga memiliki tata sosial politik ekonomi yang khas Holoholo. Tapi kalau dicermati, ternyata tatanan ekonominya neo-liberal. Maka sebenarnya yang terjadi adalah: ideologi Holoholo tidak konsisten menderivasikan sistem ekonominya dari pandangan hidupnya. Atau the most common, Holoholo bukan sebuah ideologi.
Coba Anda tengok gambar pohon yang ada di pojok kanan atas web site ini. Pohon memberikan manfaat yang sangat besar bagi manusia.Tidak ada bagian dari pohon yang tidak memberi manfaat kepada manusia. Mulai dari akar, batang dan daunnya. Tapi pohon itu baru bisa memberikan banyak manfaat jika diperlakukan dengan benar. Dia harus ditanam dengan benar, dipupuk, disirami dan dirawat dengan baik setiap saat. Kalau pohon itu kehilangan bagian pentingnya maka dia tidak akan pernah bisa memberi manfaat besar bagi manusia. Misalnya ketika Anda memotong akarnya, maka dia tidak akan bisa hidup untuk memberi manfaat bagi manusia. Hal yang sama terjadi ketika Anda memotong batang dan semua daunnya.
Demikian juga dengan Islam. Islam baru akan bisa memberi manfaat ketika kita “menanamnya” dengan benar di jiwa kita. Kita tidak memotong atau memenggal bagian-bagian pentingnya:
- Akar Islam adalah akidah. Bagian inilah yang memberi kehidupan dan kekuatan ke seluruh bagian lain yang ada. Orang-orang yang mencoba mengamalkan Islam tanpa akidah sama saja dengan memotong akar dari pohonnya. Maka pohon itu hanya akan bisa hidup sebentar, kemudian akan mengering dan akhirnya mati. Saat ini banyak sekali orang yang mengaku Islam, yang menyatakan agamanya Islam, yang KTP-nya Islam, tapi sesungguhnya ruh atau akar Islam tidak tertatam dengan baik di jiwanya, sehingga Islam tidak berfaedah sedikitpun baginya. Kering, gersang dan nyaris seperti orang yang mati. Karena ia hanya hidup secara biologis saja, tapi jiwanya telah lama mati. Inilah salah satu sebab mengapa umat Islam saat ini terpuruk.
- Batang Islam adalah syariah. Bagian inilah yang menegakkan kemanfaatan sehingga bisa dirasakan oleh diri sendiri dan orang di sekitarnya. Islam tanpa syariah ibaratnya seperti pohon tanpa batang. Manfaat apa yang bisa diberikannya? Saat ini banyak umat Islam yang dengan sengaja memenggal sebagian besar batang atau syariah Islam, dan hanya menyisakan dahan dan ranting kecil yang tidak berarti. Wajar saja kalau manfaat dan rahmat Islam tidak bisa dirasakan oleh umat manusia.
- Daun Islam adalah dakwah. Apa manfaat terbesar daun bagi manusia? Melalui fotosintesis daun memberikan kehidupan dengan mensuplai oksigen dan glukosa yang menjadi bentuk dasar energi bagi semua makhluk hidup. Dan juga merubah racun karbon dioksida yang berbahaya menjadi oksigen yang memberi kehidupan. Tanpa ada daun, seluruh umat manusia akan binasa. Demikian analoginya ketika umat Islam meninggalkan dakwah, hal ini sama saja dengan memangkas semua daun yang ada pada setiap pohon. Akibatnya umat akan kehilangan pasokan energi dan menjadi lemah. Lalu racun-racun dunia bak karbon dioksida berupa kemaksiyatan mengakibatkan kesengsaraan merajalela dimana-mana. Persis seperti yang kita alami saat ini ketika umat mengabaikan dakwah dan amar makruf nahi munkar.
Inilah sebabnya mengapa Islam selama ini tidak mampu menebarkan rahmat dan manfaatnya bagi kita dan umat manusia seluruhnya. Karena ibarat sebuah pohon, kita tidak memperlakukannya dengan benar. Topik-topik kita berikutnya akan membahas lebih detil dari akar, batang dan daun Islam ini.
Mengapa umat Islam sekarang terpuruk dan tidak bisa menjadi umat terbaik? Apakah yang salah Islamnya atau umatnya? Bisa saja Islamnya yang salah, jika terbukti seluruh umat Islam dari generasi awal sampai sekarang, semuanya terpuruk! Tapi jika ada sebagian saja dari generasi Islam terdahulu mampu menjadi umat terbaik dan memimpin dunia, berarti yang salah adalah kita atau umatnya. Analoginya kalau Anda seorang murid yang belajar di sekolah terbaik, tapi kenyataannya Anda tidak gagal dan tidak lulus, siapa yang salah, Anda atau sekolahnya? Jawabannya harus dilihat dulu siapa saja yang gagal. Kalau semua murid gagal dan tidak lulus, berarti sekolahnya yang salah dan jelek. Tapi kalau hanya Anda sendiri yang gagal, berarti Andalah yang salah, bukan sekolahnya. Dan itu tidak mengubah predikat sekolah terbaik tadi.
Kenyataannya generasi awal Islam, yang diperjuangkan oleh Baginda Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat, berhasil membangun peradaban Islam dari nol sampai bisa sejajar dengan dua kekuatan adi daya besar saat ini, Persia dan Romawi. Bahkan sepeninggal Baginda yang mulia, dua adi daya besar itu takluk oleh kaum muslimin! Sangat layak disebut umat terbaik, apalagi mengingat mereka merintisnya dari nol besar. Dari upaya dakwah dengan beberapa gelintir pengikut, sempat dikucilkan dan diembargo oleh sanak kerabat mereka, bahkan dihina dan dianiaya oleh Bani Tsaqif di Thaif. Sungguh sulit membayangkan, kelompok kecil lemah yang kerap dinjak-injak tadi akhirnya bisa membangun supremasi politk yang superior. Spirit umat terbaik ini diteruskan oleh generasi Islam sesudahnya. Ada nama-nama yang ditulis dengan tinta emas sejarah seperti Tariq bin Ziyyad, Shalahuddin Al-Ayubi dan Muhammad Al-Fatih. Yang telah memberikan banyak kontribusi berupa peninggalan bekas-bekas wilayah kekuasaan yang luas, khasanah ilmu-ilmu Islam, sastra, sains dan teknologi. Bahkan prestasi-prestasi ini dicapai tatkala umat yang lain mengalami kemunduran di titik yang paling rendah, yang mereka sebut sendiri sebagai the dark ages, abad-abad kegelapan. Ini membuktikan bahwa umat Islam mencapai prestasi gemilangnya atas usahanya dan jerih payahnya sendiri. Umat Islam pernah menjadi umat terbaik. Kalau sekarang tidak, berarti yang salah adalah umatnya.
Kapan tepatnya kita kehilangan predikat umat terbaik tadi? Anda nanti mungkin akan terkejut dengan jawabannya. Perjuangan umat Islam dimulai sekitar abad ke-7 M, dan terus berlangsung sampai awal abad ke-20 M. Selama kurun waktu 13 abad itu umat Islam terus eksis di pentas politk ekonomi global. Memang terjadi naik turun tapi warna Islam tetap dominan dan terlihat jelas. Tidak pernah seorang khalifah menerapkan hukum selain hukum Islam, baik dalam dan luar negeri. Tidak pernah seorang khalifah meninggalkan dakwah dan jihad. Kecuali menjelang akhir abad ke-19 umat Islam mulai melemah dan limbung, dan akhirnya jatuh dengan telak pada tahun 1924. Saat itu, pertama kalinya dalam 13 abad, umat Islam mencampakan syariah-nya dan mulai memberlakukan hukum-hukum sekuler. Saat itulah umat Islam mulai kehilangan identitasnya seperti anak ayam kehilangan induk, bergumul dengan penjajahan, kemiskinan dan keterbelakangan. Sampai sekarang.
Kalau kita hitung-hitung, kita telah berada dalam keadaan terpuruk mulai dari 1924 sampai sekarang, belum lebih dari 90 tahun atau satu abad. Apa artinya? Artinya umat Islam menjadi umat yang terpuruk baru sekitar satu abad dibandingkan dengan masa-masa terbaiknya selama 13 abad. Dengan kata lain, kita sakarang berada pada awal-awal keterpurukan kita, setelah 13 abad lamanya kita berprestasi. Kembali ke analogi sekolah di awal tulisan, ibaratnya kita adalah murid angkatan ke-14 yang gagal setelah 13 angkatan sebelumnya lulus dengan predikat terbaik!
Dan semua itu terjadi ketika kita mulai lemah dalam menggenggam Islam. Coba kita tengok ayat-ayat Al-Quran di bawah ini:
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (24:55)
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (2:208)
“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (2:85)
Allah telah berjanji kepada kita, bahwa kita akan berkuasa atau eksis seperti halnya generasi terdahulu, jika dan hanya jika kita beriman dan bertakwa, mengamalkan Islam dengan utuh dan sempurna. Lalu seperti apakah Islam yang utuh dan sempurna itu? Kalau kita tidak tahu seperti apa keutuhan dan kesempurnaan Islam, maka wajar keadaan kita terpuruk seperti sekarang. Kita akan membahasnya pada topik yang akan datang.
Jika Anda cukup teliti membaca Al-Quran, Anda pasti termenung setelah membaca Surah Ali Imran ayat 110:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (3:110)
Mengapa? Di ayat itu diebutkan bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik, bahkan diantara semua umat manusia. Apakah Anda setuju bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik? Sebelum dijawab, kita tentu bisa membayangkan apa konsekuensi dari predikat terbaik. Kita biasanya menggunakan kata terbaik hanya untuk menggambarkan prestasi tertinggi. Terbaik adalah the best of the best. Bahkan runner up saja tidak kita sebut terbaik. Kita hanya akan sebut nomor dua terbaik. Malah ada yang mengatakan second place is the first looser! Intinya terbaik adalah yang nomor satu. Nomor dua apalagi nomor dua belas jelas tidak masuk kategori terbaik.
Sekarang mari kita lihat kenyataannya bersama. Apakah realitasnya umat Islam adalah umat yang terbaik, dibandingkan dengan seluruh umat manusia? Atau sederhananya apakah orang-orang yang mengaku beragama Islam (dimana pun mereka berada) adalah kelompok manusia nomor satu? Yang terbaik dalam setiap aspek kehidupan? Baik itu aspek politik, ekonomi, sains teknologi, dan lain-lain.
Dalam hal politik misalnya, umat Islam disebut terbaik kalau dia bisa menjadi pemain dalam pentas percaturan politik global. Bukan hanya penonton, apalagi korban. Dia menjadi penentu, bukan yang ditentukan. Dia akan menjadi subyek, bukan obyek. Dan dia juga punya dignity, berkarakter dan punya bargain power yang kuat. Kenyataanya, siapa umat di dunia ini yang paling tidak bisa melindungi dirinya sendiri? Umat Islam. Siapa umat di dunia ini yang paling mudah dijadikan sasaran empuk agresi militer? Umat Islam. Lihat saja nasib mereka di Afghanistan, Irak dan terakhir Palestina. Jelas umat Islam tidak bisa disebut yang terbaik dalam bidang politik.
Dalam hal ekonomi kriteria umat terbaik jauh lebih mudah dan gamblang. Umat terbaik seharusnya adalah umat yang makmur dan sejahtera, bukan umat yang miskin dan papa. Bukan sesuatu yang sulit untuk menyimpulkan bahwa umat Islam (secara kolektif) tidak bisa disebut umat yang makmur dan sejahtera. Lihat saja istilah yang disematkan kepada sebagian besar negeri Islam, negara-negara Dunia Ketiga, yang ada di bawah negara-negara dunia pertama dan kedua. Artinya kita juara tiga dari tiga peserta (Anda tidak pernah mendengar negara dunia keempat kan?). Atau sering disebut juga negara berkembang, yang ada di belakang negara maju. Dan kemiskinan itu sedemikian nyatanya, sampai ketika kita keluar rumah saja aroma dan panoramanya langsung bisa dirasakan dengan jelas. Para pengemis, pemulung, pengamen, pengangguran, peminta-minta, semuanya ada disekitar kita, umat Islam. Jelas umat Islam tidak bisa disebut yang terbaik dalam bidang ekonomi.
Dalam hal penguasaan sains dan teknologi nampaknya umat Islam tidak bisa dikatakan punya prestasi terbaik. Siapa yang nomor satu menemukan pesawat tercepat? Bukan umat Islam. Siapa yang nomor satu ke luar angkasa? Juga bukan umat Islam. Kita juga lebih dikenal sebagai negara konsumen produk teknologi, bukan produsen produk teknologi. Jelas umat Islam tidak bisa disebut yang terbaik dalam bidang sains dan teknologi.
Dalam tiga lapangan utama ini saja; politik, ekonomi dan teknologi, umat Islam jelas tidak menempati posisi terbaik, kalau kita enggan mengatakan yang terburuk. Belum lagi ditambah dengan masalah korupsi, kriminalitas, kasus bunuh diri, kemusyrikan yang makin merajalela di negeri kita, semakin menambah panjang bukti bahwa umat Islam bukan umat terbaik dan umat nomor satu.
Sekarang pertanyaannya adalah, ketika Allah menyatakan umat Islam adalah umat yang terbaik, padahal kenyataannya saat ini tidak. Siapa yang salah? Al-Quran-nya atau umat Islamnya? Kalau umat Islamnya yang salah, bagaimana persisnya kesalahan itu dilakukan? Kita akan membahasnya di tulisan berikutnya.

Komentar Terbaru