You are currently browsing the tag archive for the ‘dakwah’ tag.
Terjadinya penggrebekan tempat maksiyat, penghukuman pelaku maksiyat, teror dan sejenisnya yang dilakukan oleh kelompok, jamaah atau ormas Islam, telah menjadikan Islam sangat lekat dengan dunia kekerasan dan kesewenang-wenangan.
Sebenarnya dalam Islam, setiap tindakan harus didasarkan kepada dalil Quran dan Sunnah, karena hanya dengan keduanya itulah tindakan tersebut akan bernilai ibadah. Nabi pernah bersabda: Man amila amalan laisa alaihi amruna fahuwa raddun (barang siapa yang beramal tanpa mendasari kepada ketentuanku, maka perbuatan itu akan tertolak).
Perlu diketahui bahwa taklif (pembebanan) syariah Islam itu diberikan kepada tiga pihak: pribadi, kelompok dan negara. Masing-masing ada jatah dan porsinya sendiri-sendiri. Pribadi misalnya ada kewajiban shalat, puasa, zakat, haji dan lain-lain. Kelompok ada kewajiban dakwah amar makruf nahi munkar. Negara ada kewajiban menjalankan hukum-hukum pemerintahan, perekonomian, pendidikan, pidana, jihad, dan lain-lain. Nah apa yang menjadi jatah negara seperti memberikan sanksi dan hukuman, seharusnya tidak boleh diambil alih oleh kelompok.
Lalu apa sebenarnya tugas kelompok tadi? Tugas mereka semata-mata berdakwah, melakukan amar makruf (menyuruh kepada kebaikan) dan nahi munkar (saling mencegah melakukan keburukan). Jelas aktivitasnya adalah pemikiran dan penyadaran, bukan aktifitas fisik, apalagi angkat senjata. Nabi saw dan para sahabat dahulu ketika 13 tahun di Madinah mereka berjuang dengan cara pemikiran dan penyadaran ini.
Mengapa pemikiran dan penyadaran? Karena begitulah permintaan Allah: Yad’una ilal khair (menyeru kepada kebaikan), wa ya’muruna bil makruf (menyuruh kepada kebaikan), wa yanhauna anil munkar (saling mencegah kepada keburukan). Sederhana saja; bagaimana caranya agar orang tersadar dan mau masuk Islam? Atau menjadi lebih Islami dari sebelumnya? Atau menyadarkannya dari pola fikir dan pola sikap yang keliru? Dengan menyampaikan argumen (dakwah) kepadanya bukan?
Oleh karena itu, sekalipun Islam sangat mengecam praktek penyembahan berhala, adakah berhala-berhala itu yang dihancurkan selama periode Makkah? Saat itu disekitar Ka’bah ada 360 berhala yang disembah, adakah diantara mereka yang dihancurkan? Dicuil kupingnya pun tidak. Sekalipun Islam sangat membeci judi dan zina, adakah para ahli maksiyat itu dipukuli dan dihukum? Adakah terjadi peristiwa teror dan intimidasi fisik atas pelaku kemaksiyatan dan kemusyrikan? Tidak. Mereka hanya terus berdakwah, berdakwah dan berdakwah.
Tindakan fisik atau seruan angkat senjata itu tidak pernah terjadi. Tidak hanya setahun dua tahun, tapi selama 13 tahun mereka berdakwah di Makkah. Justru yang terjadi sebaliknya, Nabi dan para sahabat yang diteror, diintimidasi, disiksa bahkan diembargo oleh Quraisy. Sekalipun umat muslim saat itu tertindas, apakah terjadi Nabi memobilisir para sahabatnya untuk angkat senjata melakukan perlawanan? Tidak. Bukan karena mereka takut atau lemah, karena saat itu dua orang kuat telah masuk Islam: Hamzah dan Umat bin Khathab.
Nabi saw tidak melakukannya karena tindakan fisik itu tidak diizinkan Allah jika dilakukan kelompok. Ketika Nabi ditawari untuk menyerang Quraisy, Nabi hanya menjawab: Lam nukmar bidzalik (kita belum diperintah untuk itu). Bahkan ketika detik-detik Nabi saw akan dibaiat menjadi kepala negara, berbagai intimidasi dan teror diterima Nabi dan sahabat-sahabatnya. Itu pun tidak mengubah thariqah (metode) dakwah mereka dengan kudeta berdarah misalnya. Padahal saat itu, pedang selalu terselip di pinggang, tetapi mereka tetap memilih gagasan sebagai senjata.

Barulah ketika Nabi saw hijrah dan menjadi kepala negara di Madinah, turun ayat-ayat tentang muamalah, uqubah (pidana), jihad, dan lain sebagainya. Disinilah negara diizinkan untuk melakukan tindakan fisik (termasuk pemberian sanksi dan hukuman), yang sebelumnya dilarang jika dilakukan oleh kelompok. Jadi jika saat ini ada kelompok yang melakukan tindakan fisik seperti penggrebekan, pemukulan, penghukuman, teror atau intimidasi fisik, maka itu menyalahi ketentuan Allah dan RasulNya.
Halo Adnan..
Sori lama banget baru bales, wuih banyak kerjaan euy… deadline project so on… capee dee.. Bagini Mas Adnan.. Basically and ideally, seluruh syabab adalah pemimpin. Kullukum ra’in wa kullukum masulun.. kata Nabi saw… Bukan pemimpin secara formal atau struktural, tapi pemimpin dalam arti yang lebih substansial. Apakah kita sudah bisa jadi pemimpin seperti ini? Apa kriterianya?
Menurut saya, kriteria pemimpin yang berhasil cuma satu; dia punya pengikut. Gak ada ceritanya di dunia ini, sepanjang sejarah manusia, ada pemimpin sukses tapi tidak punya pengikut. Pemimpin jadi-jadian kaleee.. Mulai dari Rasulullah, An-Nabhani, Gandhi, bahkan sampai Hitler sekalipun telah mendemonstrasikan kapasitas mereka sebagai pemimpin sejati, yang ditandai dengan banyaknya pengikut yang mendukung gagasan-gagasan mereka. Untuk mendulang dukungan itu pemimpin menciptakan medan pengaruh disekitarnya. Itulah yang kita sebut sebagai dakwah…
Dan syabab pada hakekatnya HARUS BISA MENJADI PEMIMPIN SEJATI…Oleh karenanya ia harus senantiasa mengaktifkan dan meluaskan induksi medan pengaruhnya.. Kalo ada syabab yang belum terbukti punya pengaruh, sehingga minim pengikut, dan kurang terampil merekrut, sejatinya ia belum bisa disebut pemimpin, atau pengemban dakwah sejati. Sebab dakwah adalah pengaruh, dakwah adalah bagaimana kita mengajak orang untuk sepakat dan berjuang bersama kita, dakwah adalah ketika kita intens mengajak orang untuk mendukung ide dan gagasan kita.
Gampangnya begini, syabab itu harus TERBUKTI jadi pemimpin yang ditandai punya pengaruh dan pengikut. Dan itu adalah ketika ia menjadi ustadz yang membina sebuah halaqah. Antum sudah pernah punya binaan kan? Dan sekaligus menjadi pembimbing mereka? Saya pernah. Dan itu pengalaman yang tak terlupakan. Bagaima saya mengontak adik-adik kelas kuliah dulu. Padahal tsaqafah dan jam terbang saya dulu (7 tahun yang lalu) minim banget bo. Hanya hafal satu-dua ayat dan hadist. Tapi tetap semangat kontak, dekati secara personal, ajak ngaji rutin mingguan. Walau belepotan tapi semuanya saya jalani
dengan penuh suka cita. Seru baget deh! Mengajak orang dari nol, with my own bare hands… Sampai kajian itu berjalan berbulan-bulan dan sampai sekarang mereka masih commit memperjuangkan Islam.
And the good thing it’s addictive. Sekarang saya bukan mahasiswa lagi. Saya tinggal di masyarakat. Maka medan pengaruh saya saya aktifkan di tengah-tengah masarakat, di tengah-tengah kampung tempat saya tinggal. Pertanyaan waktu awal saya tinggal di sana; mampukah saya menjadi pemimpin dengan mempengaruhi mereka? Mampukah saya mengajak mereka untuk mendukung gagasan-gagasan yang saya yakini? Mampukah saya mengajak mereka berjuang bersama saya, seperti dulu saya berhasil mengajak mahasiswa? Lalu saya mulai terjun, kontak, dekati personal, ajak ngaji rutin. Thanks God, kajian itu sudah berjalan setahun lamanya.
Buktikan antum mampu melakukannya. And trust me, it’s fun, challenging, even adventurous… and addictive..!! So wait no more. Be a real leader. Talk less, do more. Let your life speak.
Regards.
Pedy.
PS:
Do me a little favor, never call me Pak Pedy again…
Just Pedy or Mas Pedy is much better… feels younger…
Thats why we’re called Syabab…
Besides I plan to “die young as late as possible…”
Dakwah sejatinya adalah ekspresi keyakinan seseorang. Maka dakwah bukan monopoli kalangan aktivis pergerakan saja. Karena kita dan setiap orang mestinya memiliki sebuah keyakinan, atau minimal sebah cara pandang dan hidup yang khas milik kita, yang sadar atau tidak senantiasa kita propagandakan ke orang lain.
Kita bisa melihat para artis, selebritis, konglomerat sering mem-publish gagasan-gagasan mereka dan gaya hidup mereka ke masyarakat luas, meski sering tidak selamanya benar. Oleh karena itu, ketika kita meyakini sebuah gagasan yang benar, sudah semestinya harus kita sebarkan dan fahamkan ke orang lain. Upaya untuk memahamkan ide-ide spiritual dengan cara persuasif, argumentatif, dan inspiratif inilah yang disebut dengan dakwah.
Lebih-lebih lagi ketika kita melihat krisis multidimensi akibat kapitalisme yang sudah lama menggerogoti masyarakat kita ini. Karenanya, sebelum krisis kapitalisme ini habis menggerogoti kita, bencana ini harus kita hentikan sebelum terlambat. Bagaimana caranya? Dengan dakwah kita sadarkan masyarakat untuk tidak lagi menjadikan kapitalisme sebagai cara pandang dan hidup mereka, dan kita bangun kembali tata sosial-politik yang baru berdasarkan nilai-nilai spiritual. Jika kita abai dan lalai berdakwah, maka diri kita sendiri yang kena akibatnya. Karena kita hidup di masyarakat ini, tidak di masyarakat yang lain.
Dan yang terpenting di atas semuanya tadi, dakwah adalah salah satu bentuk ibadah yang paling mulia. Sehingga, setiap orang yang menjadikan Allah sebagai tujuan hidupnya, seharusnya tidak abai dan lalai dari kewajiban mulia ini. Karena dengan dakwah kita bisa lebih dekat dan akrab dengan Allah Sang Pencipta.
Perlu diketahui, ada dua jenis dakwah; dakwah personal dan dakwah politik. Masing-masing memiliki karakteristik, metode dan sasaran yang berbeda-beda, yang tidak bisa dicampur-baurkan satu dengan yang lain. Dakwah personal sasarannya adalah individu, tujuannya untuk mengubah persepsi, perasaan dan tindakan individu dari salah menjadi benar. Sedangkan dakwah politik sasarannya adalah masyarakat, tujuannya untuk mengubah persepsi dan perasaan kolektif masyarakat, beserta tatanan/aturan yang berlaku di dalamnya.
Lebih jauh lagi, dakwah personal bicara Islam sebagai solusi pribadi; menyelesaikan problem-problem diri untuk meraih kebahagiaan personal. Temanya seputar sabar, syukur, ikhlash, tawakkal, rendah hati, berfikir positif, dan lain-lain. Sedangkan dakwah politik bicara Islam sebagai solusi sosial-politik; menyelesaikan problem-problem sistemik untuk meraih kebahagiaan sosial-kolektif. Temanya seputar solusi sistem ekonomi, politik, sosial Islam dalam mensejahterakaan umat manusia.
Kesalahan yang sering dilakukan dalam dakwah; problem sosial-politik diselesaikan dengan solusi personal. Contoh: BBM naik solusinya sabar. Atau berharap ada perbaikan sosial-politik dengan dakwah personal. Padahal sekalipun 200 juta rakyat telah sadar, tapi sadarnya hanya Islam sebagai solusi personal maka tidak akan ada efeknya buat sosial-politik. Sekalipun para jenderal telah sadar, tapi hanya solusi personal bukan sebagai solusi sosial-politik. Hal ini tetap membuka peluang lebar-lebar bercokolnya kapitalisme sebagai tatanan sosial-politik.

Komentar Terbaru