You are currently browsing the tag archive for the ‘ideologi’ tag.
Setelah kita menyimak definisi ideologi dalam tulisan sebelumnya: Yuk Diskusi Ideologi, biasanya akan muncul pertanyaan-pertanyaan berikut: Apa saja ideologi yang ada di dunia ini? Apakah Islam agama atau ideologi? Mana yang bisa disebut ideologi dan mana yang tidak? Atau, apa yang membuat sebuah ideologi menjadi ideologi?
Sebagaimana yang saya sebutkan sebelumnya, saya tidak berniat mejadikan definisi ideologi ini sebagai satu-satunya definisi valid yang harus Anda pakai. Pertama, saya hanya berusaha menjawab ketika ada yang bertanya: Dude, what the heck is ideology? Dan kedua, saya hanya ingin mengajak Anda untuk melihat dunia secara berbeda berangkat dari definisi yang saya berikan tersebut.
Jika ideologi diartikan pandangan hidup rasional yang melahirkan aturan kehidupan integral, maka pandangan hidup tadi adalah ruh bagi ideologi tersebut. Ia seperti DNA bagi sebuah organisme biologis kompleks. Ia seperti akar yang menentukan buah apa yang akan dipetik nantinya. Ia seperti iman yang membuat ideologi menjadi nyaman dan mantap diyakini, sehingga mampu tumbuhkan militansi dan konsistensi yang luar biasa.
Pertanyaan berikutnya adalah, jika pandangan hidup begitu penting bagi keberadaan sebuah ideologi, jika pandangan hidup menentukan merah hijaunya sebuah ideologi, lantas apakah pandangan hidup itu? What the heck is view of life? Apa sebenarnya yang membuat seseorang memandang kehidupan ini dengan cara yang berbeda? Dan kemudian dia bertindak, berpolitik dan berekonomi dengan cara yang berbeda? Apa yang membuat sebuah pandangan hidup menjadi pandangan hidup? Jika DNA biologis terusun dari kode-kode protein ATGC, maka DNA ideologis tersusun atas apa?
Sederhananya, pandangan hidup adalah sebuah rumusan yang menggambarkan relasi-relasi antara kehidupan manusia saat ini, dengan sebelum dan sesudah kehidupan (life after death). Seperti isu-isu tentang Tuhan, penciptaan alam semsesta, akhirat, surga dan neraka. Nampaknya setiap ideologi dalam definisi saya tadi, berusaha memberikan penjelasan rasional terhadap relasi-relasi tersebut. Yang mana rumusan pandangan hidup tersebut kemudian digunakan untuk merancang sebuah tata sosial politik yang khas dan unik.
Mari kita mulai dari Sekulerisme. Ia mengakui agama, Tuhan dan akhirat, namun ia menolak intervensi agama, Tuhan dan akhirat tadi dalam kehidupan luas, khususnya politik. Seperti yang dijelaskan oleh Prof. Barry A. Kosmin berikut:
Secularism refers to a belief that human activities and decisions, especially political ones, should be based on evidence and fact unbiased by religious influence (Kosmin, Barry A. “Contemporary Secularity and Secularism.” Secularism & Secularity: Contemporary International Perspectives).
Beranjak dari sini, munculah pandangan hidup yang sekalipun tidak menolak agama, tapi mensterilkan peran agama dalam kehidupan luas. Manusia harus dibebaskan dalam menentukan sikap dan apa yang terbaik baginya, tanpa perlu tunduk dengan ketentuan agama mana pun. Halal-haram dan surga-neraka mungkin diakui, tapi tidak relevan dibawa-bawa dalam kehidupan publik.
Maka kemudian seluruh tatanan kehidupan seperti politik, ekonomi, sosial, hukum dan lain-lain disusun berdasarkan keyakinan separation of church and state ini. Jadi sekalipun dalam setiap lembar dollar tertulis: In God we trust, tapi God tidak boleh dibawa-bawa dalam mengatur ekonomi, yang kemudian menghasilkan corak ekonomi yang kapitalistik, yang bertumpu pada properti privat dan korporasi. Termasuk ketika presiden diambil sumpahnya di atas Injil atau Quran, tidak berarti pemerintahannya berpedoman kepada Kitab Suci tersebut. Tetap saja suara rakyat adalah suara Tuhan.
Bagaimana dengan Komunisme? Ideologi ini berangkat dari pandangan hidupnya; dialektika materialisme. Semua konsep-konsep Marx tentang politik, ekonomi dan revolusi bertumpu pada “akidah” dialektika materialisme ini. Seperti yang disebutkan Rob Sewell berikut:
Dialectical materialism is the philosophy of Marxism, which provides us with a scientific and comprehensive world outlook. It is the philosophical bedrock – the method – on which the whole of Marxist doctrine is founded (http://www.marxist.com/what-is-dialectical-materialism.htm).
Sederhananya, dialektika materialisme menganggap segala hal yang ada hanyalah dinamika materi yang berkembang, berubah dan berdialektika. Tidak ada tempat bagi Tuhan, surga ataupun neraka. Dari sinilah kemudian muncul konsep pertentangan kelas menuju masyarakat komunis yang dicita-citakan itu. Berbeda dengan Sekulerisme yang masih menerima agama, Komunisme justru menganggap agama, Tuhan dan akhirat sebagai penghambat kemajuan yang harus dihilangkan. Seperti yang dikatakan sendiri oleh Marx berikut:
Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless world, just as it is the spirit of spiritless conditions. It is the opium of the people (Karl Marx, Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right).
Bahkan lebih jelas lagi Lenin menyebutkan agama hanya akan menghambat jalannya revolusi yang bertumpu pada class strugle, sebab manusia rela menderita karena toh masih ada surga:
Impotence of the exploited classes in their struggle against the exploiters just as inevitably gives rise to the belief in a better life after death, as impotence of the savage in his battle with nature gives rise to belief in gods, devils, miracles, and the like (http://www.marxists.org/archive/lenin/works/1905/dec/03.htm).
Lalu bagaimana dengan Islam? Islam terdiri dari iman dan takwa. Akidah (pandangan hidup) dan syariah (aturan kehidupan). Akidah Islam itu sendiri adalah apa yang disebut dengan Rukun Iman: Iman kepada Allah, iman kepada Malaikat-malaikat-Nya, iman kepada kitab-kitab-Nya, iman kepada rasul-rasul-Nya, iman kepada hari akhir, serta iman kepada qadha dan qadar.
Dari Rukun Iman di atas dapat digambarkan relasi-relasi antara kehidupan saat ini dengan sebelum dan sesudah kehidupan: Bahwa Allah SWT telah menciptakan alam semesta dan seisinya. Tapi Dia tidak membiarkan manusia begitu saja, tanpa memberikan petunjuk untuk hidup di dunia dengan benar sesuai dengan perintah dan larangan-Nya. Sampai akhirnya manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas semua perbuatannya di dunia, dan ditentukan nasibnya apakah masuk surga atau neraka.
Dari prinsip halal-haram, pahala-siksa dan surga-neraka di atas, disusunlah sebuah tatanan kehidupan yang komprehensif baik pada lingkup pribadi, institusi dan negeri. Dalam ranah pribadi misalnya, seorang muslim wajib mencari nafkah dengan cara yang halal, makan minum yang halal, berpakaian dengan menutup aurat, menjalin hubungan dengan lawan jenis dengan cara yang halal (menikah), dan lain-lain. Semuanya ini dilandasi dengan kesadaran bahwa hidup adalah ibadah dengan menyempurnakan ketaatan kepada-Nya, mengharap ridha dan pahala-Nya, serta menghindari murka dan siksa-Nya.
Pada lingkup negeri misalnya kewajiban negara menjalankan Sharianomics, mengautur kepemilikan, produksi-konsumsi sampai distribusi sesuai dengan syariah. Melarang privatisasi dan praktek-praktek ekonomi berbasis riba. Termasuk juga menjalankan sistem pemerintahan Khilafah yang menempatkan kedaulatan (hak menetapkan hukum) di tangan syariat dan kekuasaan (hak mengangkat pemimpin) di tangan rakyat. Dan seterusnya.
Sampai di sini kita bisa melihat bagaimana pandangan hidup sebuah ideologi seperti sebuah DNA yang menentukan corak sistem politik, ekonomi, sosial, hukum yang khas dan unik. Jika DNA biologi terdiri dari kode-kode protein: Adenine (A), thymine (T), guanine (G), dan cytosine (C). Maka DNA ideologi terdiri dari relasi-relasi berikut ini:
| Sebelum Kehidupan (1) | Relasi (1)(2) |
Kehidupan Sekarang (2) |
Relasi (2)(3) | Setelah Kehidupan (3) |
|
| Sekulerisme |
Pencipta |
Nggak penting |
Mengikuti kehendak bebas manusia |
Nggak penting |
Akhirat |
| Islam |
Pencipta |
Halal dan Haram |
Mengikuti halal dan haram (ibadah) |
Pahala dan Siksa |
Akhirat |
| Komunisme |
Materi |
Materi |
Mengikuti dialektika materialisme |
Materi |
Materi |
Dengan penjabaran DNA ideologi ini kita bisa mengetahui bahwa Sekulerisme, Komunisme dan Islam adalah sebuah Ideologi. Khusus untuk Islam berarti dia adalah agama sekaligus ideologi. Sekedar iseng-iseng saja, jika ada klaim sebuah ideologi baru, katakanlah Holoholo, menarik untuk menguji DNA ideologi tersebut dengan memintanya merumuskan relasi-relasi di atas.
Perdebatan tentang ideologi di Pemilu mulai memanas belakangan ini (lihat artikel: Pemilu Tanpa Ideologi). Harus diakui memang, seringkali perdebatan menjadi kurang sehat karena belum adanya kesepakatan yang sama tentang pengertian sebuah istilah. Mestinya, beberapa istilah pokok harus disepakati dulu definisinya, well at least kalau pun tetap tidak sepakat tentang sebuah definisi, kita toh sudah mengetahui definisi dari perspektif lain serta mencoba memahami alur tali-temali logika argumennya. Sehingga para debaters berpijak pada “bumi” yang sama, dan mudah-mudahan perdebatan akan lebih atraktif dan konstruktif.
Berangkat dari sini saya menawarkan sebuah artikel yang mencoba mendefinisikan salah satu istilah yang sering dibahas belakangan ini: Ideologi. Oh ya, agar tidak salah persepsi lagi, ideologi yang dimaksud di sini adalah ideologi dalam konteks politik, bukan dalam konteks epistimologi apalagi seni, he..he… Ok, hanya sebagai pembukaan dan pemanasan saja, akan saya kutipkan beberapa definisi yang ada tentang ideologi:
An ideology is a form of social or political philosophy in which practical elements are as prominent as theoretical ones. It is a system of ideas that aspires both to explain the world and to change it (http://www.britannica.com/EBchecked/topic/281943/ideology).
An ideology is a set of aims and ideas, especially in politics. An ideology can be thought of as a comprehensive vision, as a way of looking at things, as in common sense and several philosophical tendencies, or a set of ideas proposed by the dominant class of a society to all members of this society (http://en.wikipedia.org/wiki/Ideology).
Ideology is the combination of organise ideas which give a new direction to the people for revolution (http://wiki.answers.com/Q/What_is_ideology).
Dari sample tiga definisi di atas, setidaknya kita bisa menyarikan beberapa kata kunci dari definisi ideologi: Pertama, dia terdiri dari sekumpulan gagasan, keyakinan dan pandangan komprehensif yang menjelaskan dunia dan kehidupan. Dan kedua, dia harus mencakup aspek praktis yang mampu menggambarkan tata dunia baru yang dicita-citakannya (ekonomi, sosial, politik, hukum, pendidikan, politik luar negeri, etc), sekaligus memberikan pedoman bagaimana merubah realitas yang ada menuju yang dicita-citakan tadi.
Dari definisi di atas akhirnya bisa ditemukan beberapa contoh ideologi yang sudah ada di dunia ini, seperti kapitalisme, neo-liberalisme, komunisme, sosialisme, dan lain-lain (I’ll save for “that one” latter). Jika kita lihat, masing-masing ideologi memiliki pandangan hidup dan tatanan kehidupan yang khas dan unik, yang berbeda satu dengan yang lain. Ibaratnya, mereka seperti sebuah pohon yang berbeda karena perbedaan benih dan akar yang tertanam sebelumnya. Dari sini juga bisa diamati bahwa kredibilitas sebuah definisi salah satunya dijamin dengan adanya realitas yang bersesuaian dengan definisi tersebut.
Tulisan ini tidak bermaksud untuk memaksakan satu definisi ideologi yang harus Anda gunakan. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, tulisan ini setidaknya bermaksud untuk bisa memahami “dunia lain” melalui definisi atau sudut pandang orang yang memiliki definisi tersebut. Ini seperti melihat dunia yang berbeda dengan meminjam kaca mata seseorang, atau menjalani hidup dengan cara yang berbeda dengan meminjam sepatu orang. Harapannya kita bisa memiliki sikap seperti pada quote: Don’t judge a man before walking a mile in his shoes!
Karena ini adalah tulisan opini, maka sekarang saya akan menunjukkan sepatu.. err.. maksudnya definisi ideologi yang saya dan teman-teman biasa gunakan dalam dunia pergerakan. Yups, mungkin ini bukan definisi yang Anda harapkan. Dan ini bukan definisi yang dirancang dari belakang meja luks akademik kampus. Tapi ini adalah sebuah definisi yang dirancang di jalan-jalan dan gang-gang kumuh dimana sebuah revolusi dilahirkan, yang sering kali harus kucing-kucingan dengan rezim represif yang hobinya main tangkap sembarangan.
Taqiyuddin An-Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir, mendefinisikan ideologi sebagai pendangan hidup rasional, yang melahirkan seperangkat aturan kehidupan integral yang saling terkait kelindan, apakah itu ekonomi, sosial, politik, hukum, pendidikan, politik luar negeri, dan lain-lain. Kalau diteliti, definisi ini mirip dengan definisi-definisi ideologi sebelumnya, yang di atas saya sarikan dengan dua hal pokok: Pertama, sekumpulan keyakinan dan gagasan yang menjelaskan dunia ini (pandangan hidup). Dan kedua, aspek praktis yang menggambarkan tatanan ideal masyarakat yang dicita-citakan, serta bagaimana mewujudkannya (aturan kehidupan komprehensif).
Satu-satunya perbedaan yang cukup kontras adalah, dalam definisi yang saya tawarkan disebutkan pandangan hidup rasional atau aqidah aqliyah. Pandangan hidup rasional yang dimaksud adalah pandangan hidup yang dihasilkan dari proses berfikir, berkebalikan dengan pandangan hidup yang diambil secara taken for granted atau ditelan mentah-mentah secara dogmatis; cukup yakini saja dan jangan banyak tanya!
Saya akan membahasnya lebih detil tentang aqidah aqliyah ini pada tulisan berikutnya. Oh ya satu hal lagi, dalam definisi di atas maupun definisi yang saya tawarkan, menunjukkan sebuah persyaratan penting yang harus dimiliki oleh sebuah ideologi. Hal itu adalah kesatuan organik antara pandangan hidup dan aturan kehidupan yang dilahirkannya. Seperti yang saya sebut di atas, keduanya seperti akar pohon dan buahnya. Kalau akar mangga maka akan berbuah mangga, kalau akar jeruk maka akan berbuah jeruk. Keduanya harus nyambung dan dapat dijelaskan secara logis. Karena ideologi (dalam tinjauan ilmu meta-ideologi) adalah coherent system of ideas. Saya juga akan memberikan contoh-contoh praktisnya di tulisan yang lain.
Tapi sederhananya begini, misalnya ada sebuah ideologi yang bernama Holoholo, yang (mengaku) memiliki pandangan hidup khas Holoholo, yang seharusnya juga memiliki tata sosial politik ekonomi yang khas Holoholo. Tapi kalau dicermati, ternyata tatanan ekonominya neo-liberal. Maka sebenarnya yang terjadi adalah: ideologi Holoholo tidak konsisten menderivasikan sistem ekonominya dari pandangan hidupnya. Atau the most common, Holoholo bukan sebuah ideologi.

Komentar Terbaru