You are currently browsing the tag archive for the ‘ikhlas’ tag.

Bencana akibat kapitalisme berawal ketika materi atau kesenangan duniawi dijadikan tujuan tertinggi manusia. Sebuah masyarakat yang meyakini kapitalisme sebagai sebuah cara pandang dan cara hidup pasti akan menjadi masyarakat yang rentan terhadap konflik horizontal karena saling memperebutkan materi. Pada lingkup personal, seseorang yang telah diperbudak oleh harta bisa saja tega menghabisi nyawa orang lain dengan merampok dan membunuh misalnya. Pada lingkup sosial dan politik, sebuah negara bisa saja tega menginvasi negara lain untuk kepentingan segelintir orang yang berkuasa. Contohnya adalah invasi AS ke Irak yang hanya menghasilkan ratusan ribu nyawa melayang dan konflik dalam negeri yang berkepanjangan.

Bencana akibat kapitalisme ini hanya bisa diakhiri dengan ketika manusia tidak menjadikan materi sebagai tujuan tertinggi dalam hidupnya. Materi memang harus diperoleh dan tanpa materi kita tidak bisa bertahan. Tapi materi seharusnya menjadi tujuan antara, bukan tujuan tertinggi (the highest goal). Materi hanyalah alat untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Yang layak dijadikan tujuan tertinggi adalah menyembah, mengabdi dan beribadah kepada Allah SWT Sang Pencipta kita. Inilah yang disebut dengan ikhlash. Menjadikan Allah SWT sebagai tujuan tertinggi, baik dalam lingkup personal ataupun sosial-politik.

Mengapa kita harus ikhlas dan mengabdi ke Allah? Karena sesungguhnya hanya Allah sajalah yang layak untuk dijadikan tujuan hakiki. Allah bersifat mutlak, kekal, abadi, serba sempurna. Sedangkan materi bersifat fana, serba nisbi, dan tidak sempurna. Ketika Allah dijadikan tujuan, hati manusia akan menjadi tentram dan tenang. Sedangkan ketika materi dijadikan tujuan, hati manusia justru menjadi gusar, galau, dan terasa hampa memilukan.

Orang yang tidak ikhlas biasanya dalam beraktifitas termotivasi dan tergerakkan oleh motif-motif horizontal (diniawi:harta,tahta,wanita). Dia melakukan suatu perbuatan karena adanya keuntungan intrinsik yang ada atau dihasilkan dari perbuatan tersebut. Karena dunia ini fana, serba nisbi dan tidak sempurna, maka motif-motif horisontal tadi berpeluang besar memunculkan konflik-konflik horisontal (baik dalam lingkup personal atau sosial-politik), sehingga akhirnya menyengsarakan diri dan orang lain.

Orang yang ikhlas berusaha tidak terperdaya oleh motif-motif horisontal, dan senantiasa melandasi perbuatannya dengan motif-motif vertikal-transendental (ukrawi: menyembah dan beribadah kepada Allah). Karena Allah SWT Sang Pencipta Maha Sempurna, Maha Kasihsayang, Maha Bijaksana, maka motif vertikal-transendental tadi menjadi buhul tali yang kokoh (urwatil wutsqa’) bagi manusia untuk menapaki kebahagiaan hakiki, personal dan sosial-politik.

Ikhlas adalah tentang komitmen bagaimana agar seluruh aktivitas dan perbuatan kita diterima Allah SWT. Dari mana kita tahu diterima atau ditolak oleh Allah SWT? Bukankah kita tidak bisa bertanya langsung kepadaNya? Kita bisa mendapatkan restu persetujuanNya melalui wahyuNya yaitu Al-Quran dan Al-Hadist. Dari sinilah dirumuskan apa-apa yang mendatangkan kerelaanNya dan apa-apa yang mendatangkan murkaNya. Kita tinggal menunaikan ketaatan dalam menata diri (personal) dan menata negeri (sosial-politik).

Polling

Sedjak satoe maret 2009

  • 26,965 hits
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.