You are currently browsing the tag archive for the ‘kepribadian’ tag.

Sukses dan keberhasilan seseorang sangat ditentukan oleh kepribadian atau karakter yang dimilikinya. Ketika kepribadiannya dibangun di atas nilai-nilai material maka hampir bisa dipastikan ia akan senantiasa dirundung kegagalan. Sebaliknya ketika seseorang membangun kepribadiannya di atas nilai-nilai spiritual, ia akan memiliki kepribadian kuat dan karakter yang jelas, maka hampir bisa dipastikan ia mampu meraih keberhasilan dalam hidupnya.

Untuk bisa membangun kepribadian spiritual, kita harus memahami elemen-elemen/bahan baku penyusunnya, yakni pemikiran (akal), perasaan (hati), dan tindakan. Kepribadian kita sesungguhnya adalah ekspresi dari pemikiran, perasaan, dan tindakan kita sehari-hari. Lihat saja bagaimana sejarah mengenang orang-orang besar dan tokoh-tokoh berpengaruh? Dari pemikiran/gagasan mereka, hasrat/semangat mereka, dan tindakan-tindakan mereka yang inspirasional.

Lalu apa yang membedakannya dengan kepribadian orang lain? Karakter/warna kepribadian kita ditentukan oleh tujuan hidup yang telah ditetapkan sebelumnya. Tujuan hidup inilah yang nantinya menghasilkan cara padang dan cara hidup. Ketika tujuan hidup kita adalah tujuan material (harta,tahta,wanita) maka kepribadian kita akan memiliki karakter materialistik/ kapitalistik. Sebaliknya ketika tujuan hidup kita adalah tujuan spiritual (menyembah dan beribadah kepada Allah) maka kepribadian kita akan memiliki karakter spiritualistik.

Apa perbedaan konkrit antara kepribadian yang berkarakter spiritualistik dan kepribadian yang berkarakter materialistik? Perbedaannya dapat diamati dari ekspresi pemikiran (penilaian baik atau buruk), ekspresi perasaan (senang atau benci), dan tindakannya (melakukan atau meninggalkan). Bagi orang yang berkepribadian materialistik (orientasi kepada kebahagiaan duniawi), baik/buruk, senang/benci, melakukan/meninggalkan tergantung dari ada tidaknya keuntungan materi yang akan diperoleh. Sebagai contoh pergaulan bebas, karena ada keuntungan emosional, maka ia akan menilai sebagai sesuatu yang baik, menyenangkan, dan layak dilakukan.

Sedangkan bagi orang yang berkepribadian spiritualistik (orientasi kepada kebahagiaan ukhrawi), baik/buruk, senang/benci, melakukan/meninggalkan tergantung dari ada tidaknya kerelaan dan keridhaan Allah SWT. Sebagai contoh pergaulan bebas, karena Allah membenci dan mengharamkannya, maka ia akan menilai sebagai sesuatu yang buruk, ia akan membencinya, dan meninggalkannya.

Bagaimana dengan kepribadian negeri? Kepribadian atau negeri sebagaimana kepribadian diri juga memiliki karakteristik/corak tergantung dari tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Ketika sebuah negeri dibangun di atas tujuan materialistik/kapitalistik, maka ia akan memiliki karakter materialistik/kapitalistik. Hal ini akan tercermin dalam pemikiran dan perasaan kolektif masyarakat, serta aturan/tatanan yang berlaku di dalamnya. Sebagai contoh, pornografi/aksi dan pergaulan bebas di AS adalah sesuatu yang baik dan legal. Di sini ada keselarasan antara penilaian dan perasaan kolektif masyarakat, dengan aturan yang berlaku di dalamnya.

Lalu bagaimana dengan kepribadian negeri kita?

Polling

Sedjak satoe maret 2009

  • 26,965 hits
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.