Saudaraku…
Tak terasa 61 tahun sudah bangsa ini meraih kemerdekaan, 61 tahun sudah bangsa ini lepas dari cengkraman penjajah, 61 tahun sudah bangsa ini menapaki alam kemerdekaan. Sungguh, betapa besar jasa dan upaya para pahlawan dan pejuang kita, yang tidak mengenal lelah dan letih, siang dan malam, berteman duka dan lara, berjuang sampai titik darah penghabisan, mengusir para penjajah asing dari negeri kita tercinta. Sehingga sampai pada hari ini, detik ini, kita bisa menikmati indahnya alam kemerdekaan. Pada hari ini, kita bisa tertawa bahagia, kita bisa bercanda ceria, kita bisa bekerja dan berkarya. Terbebaskan dari ketakutan dan kekhawatiran. Sungguh tak terbayangkan, jika hari ini, detik ini, kita masih harus bersusah-payah bahu-membahu berjuang melawan penjajah asing. Jika hari ini, kita masih harus memanggul senjata dan mencium bau bubuk mesiu. Jika hari ini, kita masih terpaksa tidur tak nyenyak, berteman suara dentuman bom bersahut-sahutan. Jika hari ini, kita masih harus dicekam kekhawatiran, apakah besok kita masih bisa hidup dan melihat mentari pagi?

Saudarku…
Sungguh kemerdekaan ini merupakan rahmat dan nikmat Allah yang tak ternilai harganya. Karena toh mudah bagi Allah untuk menimpakan bencana penjajahan kepada kita semua, sehingga kita belum bisa menikmati kemerdekaan seperti yang kita rasakan sekarang. Dan kenyataannya, atas kehendak-Nya masih ada bangsa-bangsa di dunia ini yang belum bisa mencicipi nikmat dan khidmat kemerdekaan seperti yang kita rasakan sekarang. Seperti saudara-saudara kita yang ada di Palestina misalnya, sejak 60 tahun silam sampai hari ini harus terus berjuang melawan penindasan dan penjajahan, mempertahankan harta, jiwa dan kehormatan mereka dari para penjajah Israel. Mereka harus rela hidup berkawan desingan peluru, letupan mortir, dan serpihan granat yang melesat ke sana ke mari. Mungkin kita jarang merenung dan bertanya, mengapa nasib kita yang di Indonesia jauh lebih baik dari mereka yang ada di Palestina? Tapi yakinlah, bahwa mereka pasti telah merenung dan bertanya, mengapa mereka dan bukan kita yang ada di Indonesia yang harus terus merasakan derita berkepanjangan ini? Yakinlah bahwa mereka terus memimpikan dan merindukan untuk dapat hidup seperti kehidupan yang kita nikmati saat ini. Merasakan anggunnya malam-malam berpurnama dan cerianya hari-hari bermentari. Yakinlah wahai saudaraku, bahwa sejuk dan segarnya udara kemerdekaan yang kita hirup sekarang, adalah rahmat dan nikmat Allah yang tak ternilai harganya…

Saudaraku…
Sungguh adalah perbuatan yang sangat nista jika kita mensia-siakan kemerdekaan ini. Dan lebih nista lagi jika kita tidak menjaga kemerdekaan ini, serta membiarkan para penjajah asing itu kembali lagi dan menjarah kehormatan dan kekayaan negeri kita tercinta. Mestinya kita bertanya, mengapa para penjajah asing itu dengan mudahnya dan relanya melepaskan tanah jajahannya setelah 350 tahun lamanya? Kita saja pasti merasa sulit melepaskan barang yang sudah kita miliki puluhan tahun, apalagi ratusan tahun? Bukankah ketamakan orang-orang yang tamak, dan kerakusan orang-orang yang rakus, selalu ada dari dulu, sekarang, dan di masa yang akan datang? Mungkin kita sudah mengamankan tanah kita dari penjajah, tapi sudahkan kita mengamankan kekayaan alam kita dari penjajah? Mungkin kita sudah mengusir keberadaan penjajah, tapi sudahkah kita mengusir budayanya dan ajarannya yang meracuni pikiran kita? Mungkinkah para penjajah itu mengecoh kita, dan dengan lihainya merubah strategi penjajahannya? Bukan hal yang mustahil penjajah asing itu kembali lagi, atau jangan-jangan mereka tidak pernah benar-benar pergi dan menghentikan penjajahannya atas negeri kita. Sebagian dari kita mungkin pernah mengajukan sebuah pertanyaan, apakah saat ini kita sudah merdeka? Saudaraku, pertanyaannya bukanlah apakah saat ini kita sudah merdeka. Tapi apakah kita pernah merdeka sebelumnya? Waspadalah, waspadalah, waspadalah!

Karena wahai saudaraku, jika kita benar-benar telah merdeka, dan para penjajah itu benar-benar telah pergi, mengapa hidup kita semakin hari semakin sulit? Mengapa BBM dari dulu sampai sekarang tidak pernah tidak naik? Mengapa hanya untuk menyekolahkan anak, di sekolah kita sendiri, yang dibangun di atas tanah-tanah kita sendiri, semakin tinggi semakin sulit melilit? Mengapa banyak orang yang lebih memilih menahan perih sakitnya di rumah, karena biaya berobat makin lama makin melangit? Jawablah saudaraku, mengapa banyak anak-anak balita mengidap malnutrisi dan kurang gizi. Mengapa kemiskinan tak juga kunjung terurusi. Mengapa kriminalitas kian marak tak tertangani. Mengapa upaya memberantas korupsi kian tak bernyali. Mengapa angka pengangguran terus naik tak terkendali. Mengapa hutang negara tak kunjung tertalangi. Mengapa semua derita ini kian tak terperi? Mengapa?

Padahal saudaraku…
Negeri kita bukanlah sebuah negeri di tengah padang pasir tandus tak berpenghuni. Juga bukan sebuah negeri berbatuan cadas yang tak bisa ditanami. Juga bukan sebuah negeri tanpa hutan tanpa tambang. Dan juga bukan sebuah negeri tanpa pulau dan lautan. Negeri kita adalah negeri yang kaya raya, bak zamrud di khatulistiwa, alamnya indah mempesona, penduduknya ramah berbudaya. Hutan hujan tropis membentang luas di Kalimantan, dikenal sebagai paru-paru dunia. Kekayaan tambang tembaga, emas, dan perak yang tertanam di bumi papua, merupakan yang terbesar di dunia. Ribuan pulau besar kecil bertebaran seantero nusantara, membentangkan garis pantai yang menyimpan potensi laut yang kaya raya. Tapi saudaraku, jutaan hektar hutan hujan tropis kini telah tergunduli. Kayu-kayunya dijarah dibawa lari entah kemana. Menghasilkan bencana banjir, longsor, dan kekeringan dimana-mana. Gunung-gunung di Papua dikeruk habis menjadi lembah, emasnya dibawa pergi ke Amerika, limbahnya dibiarkan meracuni manusia dan satwa di sana. Mereka para penjajah itu mengambil keuntungannya saja, dan meninggalkan racunnya kepada kita. Seperti yang terjadi pada kasus pencemaran PT. Freeport Indonesia di Papua, kasus pencemaran PT. Newmount di Minahasa, dan terakhir kasus lumpur panas PT. Lapindo Brantas di Sidoarjo. Sungguh tak terbayangkan, negeri indah kaya raya ini tidak bisa mengelola dan memanfaatkan kekayaannya. Bahkan untuk membangun negeri kita ini, sejak 61 tahun silam sampai sekarang, kita harus bergantung kepada utang luar negeri. Padahal negara-negara pemberi utang itu meminta kita untuk mengikuti kehendaknya dalam menentukan kebijakan negara, yang sering kali merugikan kita. Buruknya layanan negara dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan umum, juga disebabkan karena tiap tahun anggaran negara ini terkuras untuk membayar utang beserta bunganya. Sungguh mengherankan, sampai hari ini negara kita masih terus-menerus mengandalkan utang, dan tidak pernah berfikir untuk mandiri, atau setidaknya mulai mengurangi ketergantungan kepada hutang, seperti Argentina misalnya. Setiap wajah pemimpin negara berganti, maka skenario pencairan utang baru pun dijalankan. Ibaratnya, negeri kita ini sebuah keluarga yang sekarat terjerat utang rentenir, tapi masih terus saja bergantung pada rentenir tadi untuk menyelamatkan diri.

Saudaraku…
Mungkin permasalahan pelik yang menimpa kita ini juga karena ulah kita sendiri. Karena kita tak peduli dengan keadaan sekitar kita. Acuh tak acuh dengan nasib bangsa kita sendiri. Mungkin sudah terlalu lama kita ini terbius dan terlelap, sehingga Allah harus menguncang-guncangkan bumi ini dengan gempa, agar nurani kita terbangun, kesadaran kita tergugah dan sikap welas asih kita terasah. Wahai saudaraku, apakah belum cukup dahsyat goncangan gempa 27 Mei yang lalu, untuk membuat kita terbangun dan tersadar? Apakah kita ingin Allah yang menggenggam alam semesta ini, memberikan goncangan yang jauh lebih dahsyat, agar kita terbangun dan tersadar, dan kembali ke jalan-Nya yang benar? Mungkin sudah terlalu lama kita ini tertidur dan terlena, sehingga Allah harus menyiramkan air laut tsunami ke wajah kita, agar terbelalakkan mata hati kita untuk melihat dan menjalani kebenaran. Wahai saudaraku, apakah belum cukup dahsyat gemuruh ombak tsunami aceh dan pangandaran yang lalu, untuk membuat kita terbangun dan tersadarkan diri. Apakah kita ingin Allah memberikan gelombang tsunami yang jauh lebih besar, agar kita terbangun dan tersadar, dan kembali ke jalan-Nya yang benar? Wahai saudaraku, hidup di dunia ini hanya satu kali. Kesempatan emas tidak datang dua kali. Dengan momentum kemerdekaan ini, marilah kita menata kehidupan pribadi, keluarga, serta masyarakat kita sebaik-baiknya. Mudah-mudahan Allah SWT memudahkan dan meridhai semua urusan kita…