Saat ini kita tengah menghadapi krisis kapitalisme global, yang berdampak pada tatanan politik yang oportunistik, pendidikan yang dehumanistik, budaya yang hedonistik-materialistik, dan tatanan ekonomi yang kapitalistik. Semuanya ini menyebabkan krisis multidimensi yang berkepanjangan (kapitalisme adalah faham yang menjadikan materi sebagai tujuan tertinggi yang layak dicapai manusia).

Krisis akibat kapitalisme global ini tentunya berdampak pada pribadi-pribadi. Menghasilkan pribadi-pribadi yang menjadikan materi sebagai tujuan tertinggi dalam hidupnya, dan rela melakukan apa pun untuk meraihnya. Contoh yang paling ekstrem adalah seseorang yang hidupnya diperbudak oleh harta, dan melakukan apa pun untuk memilikinya, sekalipun harus korupsi atau mengorbankan orang lain. Atau sekedar orang yang tidak bahagia dengan hidupnya, selalu digelayuti oleh perasaan risau dan galau, mudah stress dan depresi, termasuk korban dari krisis kapitalisme global.

Yang perlu dicermati, krisis ini tidak hanya berdampak pada lingkup pribadi atau personal saja, tapi juga pada lingkup sosial-politik. Sehingga tidak hanya mencelakakan individu, tapi juga secara masif mencelakakan masyarakat luas. Sebagai contoh tatanan ekonomi kita yang gagal menciptakan pemerataan kesejahteraan, dan sangat sukses menciptakaan pemerataan kemiskinan. Sistem ekonomi kita terbukti berhasil membuat segelintir orang menjadi kaya raya, dan ratusan juta lainnya jatuh miskin. Lihat saja bagaimana PT. Freeport di Papua bisa meraup untung besar, sedangkan penduduk pribuminya menderita busung lapar.

Tentunya kita bertanya, apa peran kita – terlebih sebagai seorang muslim, menghadapi krisis kapitalisme global ini? Tentunya Islam diharapkan bisa memberikan penyelesaian tidak hanya pada dimensi personal semata, tapi juga pada dimensi sosial-politik. Dengan kata lain, keislaman kita harus bisa menjadi inspirasi yang mampu memandu dan mengarahkan kita meraih sukses personal dan sukses sosial sehingga berhasil mencapai sukses sejati. Jangan sampai kita hanya bisa meraih sukses semu yaitu berhasil meraih sukses personal, tapi gagal meraih sukses sosial. Atau berhasil secara pribadi tapi jadi beban secara sosial-politik. Dan Islam sendiri diturunkan Allah SWT sebagai sebuah cara pandang dan cara hidup yang komprehensif, baik pada aspek personal maupun aspek sosial-politik.

Bukankah Nabi saw telah bersabda: “Khairunnas anfa’uhum linnas (HR. Bukhari Muslim).” Sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat kepada manusia lainnya. Fakta menunjukkan ada dua bentuk manfaat yang dihasilkan manusia: Manfaat jangka pendek dan manfaat jangka panjang. Ketika dengan Islam kita berhasil meraih sukses personal, pada hakekatnya kita memberikan manfaat jangka pendek kepada diri dan orang-orang disekitar kita (keluarga atau kerja). Tetapi semenjak kehadiran kita tidak memberikan andil untuk membenahi tata sosial-politik yang zhalim, atau justru melanggengkannya, maka kehadiran kita tidak bisa memberikan manfaat jangka panjang. Saat ini yang dibutuhkan adalah orang-orang yang bisa meraih sukses personal, pada saat bersamaan ambil bagian dari proses panjang dan berkelanjutan membenahi tatanan kehidupan yang ada (sukses sosial-politik).

Namun amat disayangkan, saat ini yang menjadi wacana publik yang dominan adalah Islam sebatas dimensi personalnya saja, dan cenderung mengabaikan dimensi sosial-politiknya. Lihat saja penyajian Islam di media-media kita, baik cetak ataupun elektronik, yang melulu mengupas tema-tema ritual dan moral semata. Jarang sekali menyajikan Islam secara komprehensif termasuk dimensi sosial-politiknya. Bukankah kita sudah sering mendengar pentingnya menata hati, tapi pernahkah kita mendengar pentingnya menata negeri? Bukankah kita sudah sering mendengar kecerdasan emosional/spiritual, tapi pernahkah kita mendengar kecerdasan politik?

Sebuah analogi: Syahdan ada sebuah negeri yang selalu dilanda bencana banjir dahsyat. Para penduduk yang tertimpa bencana naas itu ada yang gagal menyelamatkan diri dan orang-orang disekitarnya (gagal secara personal). Ada yang berhasil menyelamatkan diri dan orang-orang disekitarnya (berhasil secara personal), tapi tidak berhasil menemukan dan menghentikan penyebab utama banjir, sehingga masih banyak korban tewas tenggelam (gagal secara sosial-politik). Mereka yang menjadi solusi adalah orang yang berhasil menyelamatkan diri dan orang-orang disekitarnya (berhasil secara personal), dan berhasil menemukan dan menghentikan penyebab utama bencana banjir (berhasil secara sosial-politik). Kapitalisme global ibarat bencana banjir yang membinasakan tadi, maka solusinya adalah bagaimana Islam bisa menjadi inspirasi dan pedoman kita untuk meraih sukses personal dan sukses sosial-politik. Inilah paradigma baru tentang kesuksesan, berhasil secara personal dan berhasil secara sosial-politik. Tidak hanya sebatas keberhasilan personal saja, seperti yang telah menjadi mainstream belakangan ini. Oleh karena itu, pola pikir yang keliru ini harus segera diubah, atau umat manusia akan terus menjadi bulan-bulanan oleh problem kapitalisme global yang mencelakakan dan membinasakan umat manusia.