Jika Anda cukup teliti membaca Al-Quran, Anda pasti termenung setelah membaca Surah Ali Imran ayat 110:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (3:110)

Mengapa? Di ayat itu diebutkan bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik, bahkan diantara semua umat manusia. Apakah Anda setuju bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik? Sebelum dijawab, kita tentu bisa membayangkan apa konsekuensi dari predikat terbaik. Kita biasanya menggunakan kata terbaik hanya untuk menggambarkan prestasi tertinggi. Terbaik adalah the best of the best. Bahkan runner up saja tidak kita sebut terbaik. Kita hanya akan sebut nomor dua terbaik. Malah ada yang mengatakan second place is the first looser! Intinya terbaik adalah yang nomor satu. Nomor dua apalagi nomor dua belas jelas tidak masuk kategori terbaik.

Sekarang mari kita lihat kenyataannya bersama. Apakah realitasnya umat Islam adalah umat yang terbaik, dibandingkan dengan seluruh umat manusia? Atau sederhananya apakah orang-orang yang mengaku beragama Islam (dimana pun mereka berada) adalah kelompok manusia nomor satu? Yang terbaik dalam setiap aspek kehidupan? Baik itu aspek politik, ekonomi, sains teknologi, dan lain-lain.

Dalam hal politik misalnya, umat Islam disebut terbaik kalau dia bisa menjadi pemain dalam pentas percaturan politik global. Bukan hanya penonton, apalagi korban. Dia menjadi penentu, bukan yang ditentukan. Dia akan menjadi subyek, bukan obyek. Dan dia juga punya dignity, berkarakter dan punya bargain power yang kuat. Kenyataanya, siapa umat di dunia ini yang paling tidak bisa melindungi dirinya sendiri? Umat Islam. Siapa umat di dunia ini yang paling mudah dijadikan sasaran empuk agresi militer? Umat Islam. Lihat saja nasib mereka di Afghanistan, Irak dan terakhir Palestina. Jelas umat Islam tidak bisa disebut yang terbaik dalam bidang politik.

Dalam hal ekonomi kriteria umat terbaik jauh lebih mudah dan gamblang. Umat terbaik seharusnya adalah umat yang makmur dan sejahtera, bukan umat yang miskin dan papa. Bukan sesuatu yang sulit untuk menyimpulkan bahwa umat Islam (secara kolektif) tidak bisa disebut umat yang makmur dan sejahtera. Lihat saja istilah yang disematkan kepada sebagian besar negeri Islam, negara-negara Dunia Ketiga, yang ada di bawah negara-negara dunia pertama dan kedua. Artinya kita juara tiga dari tiga peserta (Anda tidak pernah mendengar negara dunia keempat kan?). Atau sering disebut juga negara berkembang, yang ada di belakang negara maju. Dan kemiskinan itu sedemikian nyatanya, sampai ketika kita keluar rumah saja aroma dan panoramanya langsung bisa dirasakan dengan jelas. Para pengemis, pemulung, pengamen, pengangguran, peminta-minta, semuanya ada disekitar kita, umat Islam. Jelas umat Islam tidak bisa disebut yang terbaik dalam bidang ekonomi.

Dalam hal penguasaan sains dan teknologi nampaknya umat Islam tidak bisa dikatakan punya prestasi terbaik. Siapa yang nomor satu menemukan pesawat tercepat? Bukan umat Islam. Siapa yang nomor satu ke luar angkasa? Juga bukan umat Islam. Kita juga lebih dikenal sebagai negara konsumen produk teknologi, bukan produsen produk teknologi. Jelas umat Islam tidak bisa disebut yang terbaik dalam bidang sains dan teknologi.

Dalam tiga lapangan utama ini saja; politik, ekonomi dan teknologi, umat Islam jelas tidak menempati posisi terbaik, kalau kita enggan mengatakan yang terburuk. Belum lagi ditambah dengan masalah korupsi, kriminalitas, kasus bunuh diri, kemusyrikan yang makin merajalela di negeri kita, semakin menambah panjang bukti bahwa umat Islam bukan umat terbaik dan umat nomor satu.

Sekarang pertanyaannya adalah, ketika Allah menyatakan umat Islam adalah umat yang terbaik, padahal kenyataannya saat ini tidak. Siapa yang salah? Al-Quran-nya atau umat Islamnya? Kalau umat Islamnya yang salah, bagaimana persisnya kesalahan itu dilakukan? Kita akan membahasnya di tulisan berikutnya.