Pada suatu hari di kampung tempat saya tinggal, tiba-tiba mendadak saya dipanggil Pak RT. Dia bilang ada agenda penting mendesak dan harus segera datang. Waduhh, ada apa nih, pikir saya dalam hati. Karena saya termasuk warga yang jarang berbaur dengan penduduk, apalagi kerja bakti dan ronda..hehe. Padahal warga solidaritas sosialnya tinggi banget.

Dengan hati masih berdegup kencang, karena saya suudzhon bahwa saya nanti akan diberi teguran dan peringatan keras, saya memberanikan diri bertandang ke rumah Pak RT. Wajah Pak RT tampak serius seolah ada masalah besar yang akan disampaikan ke saya. Saya hanya bisa pasrah saja…

Pak Pedy.. Ada hal penting yang harus saya bicarakan..” Kata Pak RT tegas. Saya berhenti bernafas beberapa detik. Menerka-nerka kalimat mengerikan apa yang akan muncul berikutnya. “Menurut Pak Pedy, bunga pinjaman hukumnya apa?” Tanya Pak RT. Alhamdulillah, dalam hati saya bersorak lega. Ternyata saya tidak ditegur, malah ditanyai syariat.

“Bunga pinjaman termasuk riba Pak, jadi hukumnya haram.” Saya menjawab apa adanya. Pak RT mendesah dalam, seolah ada beban berat di hatinya. “Begini Pak Pedy,” ia melanjutkan, “Saya sebagai Ketua RT merasa bersalah dan berdosa, karena di setiap pertemuan bulanan RT ada praktek simpan pinjam berbunga.. Kalau itu tidak dicegah, maka saya sebagai Pimpinan berarti ikut memfasilitasi dosa itu… Memang ini praktek yang sudah sangat lama berjalan.. Tapi saya ingin menghentikannya…”

Wah, hebat juga Pak RT ini, faham syariat dan berani mendobrak budaya masyarakat yang jelek. Saya tentu setuju-setuju saja. Pokoknya saya dukung 100% pekik saya dalam hati. Saya lega sekali, karena tidak jadi ditegur, malah diskusi syariat.

“Tapi saya butuh bantuan Pak Pedy untuk hilangkan praktek riba ini…” Sambung Pak RT tegas. Hah! Dalam hati saya kaget bukan kepalang. Saya jadi panik lagi. Ada apa ini..?!? Koq saya dibawa-bawa?

“Saya ingin Pak Pedy yang menjelaskan bahwa bunga haram kepada warga, pas pertemuan bulanan besok…” Wah, bisa repot nih. Bukannya apa-apa. Saya selama 4-5 tahun tinggal di kampung itu, paling hanya 3-4 kali datang ke pertemuan bulanan RT, jarang ikut ronda dan kerja bakti. Bagaimana bisa orang yang tidak akrab dengan warga, tiba-tiba menasehati warga dengan nasehat yang radikal! Waduh, gawat nih!

Tapi bagaimana pun juga yang namanya kebenaran harus disampaikan! Amar makruf nahi munkar harus ditegakkan! Akhirnya saya memberanikan diri…

“Ya Pak, insya Allah saya bantu…” Jawab saya tegas.

(…to be continued.. hehehe kayak sinetron aja…maklum harus kerja dulu..)