Setelah saya pulang dari rumah Pak RT, otak saya mulai berfikir keras, meraba-raba apa yang akan saya sampaikan besok untuk meyakinkan warga meninggalkan riba. Ada beberapa permasalahan di sini. Pertama, sekalipun saya dikenal sebagai ustadz yang sering mengisi pengajian, tapi seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, saya tidak begitu akrab dengan mereka, jarang sekali datang pertemuan RT bulanan. Yang lebih ngeri lagi ketika saya sadar, kalau pun saya menyempatkan datang ke pertemuan RT, saya tidak pernah angkat bicara, usul, atau aktif nimbrung dalam diskusi mereka. Bayangkan saja ada warga yang jarang datang pertemuan RT, kalau pun datang tidak pernah bicara, tiba-tiba datang, bicara lalu usul hilangkan riba yang sudah berpuluh-puluh tahun jadi tradisi! Kedua, sekalipun saya gak gaul dengan mereka, tapi mereka begitu baik dengan saya dan keluarga. Saya baru merasakan tepa salira hidup di kampung seperti ini, karena sebelumnya saya tinggal di perumahan. Misalnya ketika saya sakit, mereka jenguk dan bawa oleh-oleh. Atau ketika Bapak almarhum mertua meninggal, sekampung pada ikut takziah semuanya! Dan itu di luar kota yang jarak tempuhnya kira-kira satu jam dari kampung kami! Ini buat saya agak gak enak, karena mereka sudah begitu baik selama ini, meskipun saya tidak dekat dengan mereka. Padahal besok saya akan memberi nasehat radikal yang mungkin mereka benci! Ketiga, dalam beberapa bulan ke depan, saya berencana akan pindah dari kampung itu. Biasa, habis kontrak dan harus cari rumah baru untuk keluarga kami. Ini sedikit memberi motivasi, kalau ini berhasil, saya akan mempunya tinggalan atau legacy yang baik di kampung ini. Kalo ini gagal, mereka pasti akan membencinya. Yah sudah nasib kalau mereka mencap saya sebagai warga yang gak tahu diri. Sudah jarang akrab dengan masyarakat, sudah dibaik-baikin sama warga, eehh malah kasih nasihat dan uslul macem-macem yang melanggar tradisi turun-temurun!

Saya terus berfikir dan memutar otak bagaimana menyusun pidato saya dihadapan warga. Sejauh ini belum ada titik terang apa dan bagaimana saya akan menyampaikan seruan untuk meninggalkan riba itu. Saya dapat sedikit bantuan karena Pak RT ternyata sudah mengontak sahabat-sahabatnya untuk mendukung gagasan anti riba ini. Diantara mereka bahkan ada yang mau infak rutin bulanan sekitar 100 ribu untuk mengganti kas riba yang selama ini jadi pemasukan utama. Dan beliau siap akan mem-backup usulan saya nanti di forum pertemuan RT bulanan itu. Tatpi tetap saja, semuanya itu hanya pendukung, yang utama adalah opening speech yang akan saya sampaikan. Oleh karena itu saya harus membuat argumen dan pidato yang benar-benar bagus dan mengena. Kalo tidak mereka pasti akan menolaknya dan semuanya akan sia-sia! Dan saya juga baru sadar bahwa pertemuan RT itu yang hadir tidak hanya muslim, tapi juga non-muslim! Saya langsung lemas ketika membayangkan harus memberi argumen yang meyakinkan, tidak hanya di kalangan muslim, tapi juga non-muslim!

Pada malam hari itu, saya nyaris gak bisa tidur. Mempersiapkan argumen dan ceramah yang intinya mengajak warga meninggalkan praktek riba di kampung mereka, yang sudah menjadi tradisi turun-temurun selama puluhan tahun. Semua jurus-jurus dan teknik-teknik retorika yang pernah “diturunkan” dari Suhu saya dulu, saya review dan latih ulang. Saya menyusun sebuah alur gagasan, saya uji, saya campakkan, lalu saya buat ulang yang lebih baik. Begitu seterusnya sampai saya merasa sedikit yakin dengan rumusan pidato yang saya buat. Tanpa saya sadari, saya telah menyelesaikan the greatest and most influenced speech in my entirely life.. Apakah pidato saya berhasil? Kita lihat bersama besok..