Pada malam itu, sekitar jam 20:00, di salah satu rumah warga yang sederhana beratapkan genteng merah dan berdindingkan anyaman bambu, di tengah riuh-rendahnya pertemuan warga bulanan, sebuah keputusan besar akan dibuat. Hanya ada dua kemungkinan, warga setuju praktek riba dihapuskan dari usaha simpan pinjam, atau warga menolak maka praktek yang sangat dibenci Allah ini akan terus berjalan sesuai tradisi turun-temurun.

Setelah berbagai acara seremonial dan agenda rutin selesai, masuklah kepada acara lain-lain, sebuah acara dimana warga bisa mengusulkan sesuatu. Pada acara inilah saya diminta meyakinkan mereka untuk meninggalkan riba itu. Nampaknya Pak RT sebagai pemimpin forum juga sudah tidak sabar menunggu acara inti yang sudah dirancang bersama ini.

“Ya, silahkan siapa yang mau usul sesuatu..” Kata Pak RT.

Jantung saya sepertinya sempat berhenti beberapa detik. Inilah saatnya, pikir saya dalam hati, sembari mengacungkan tangan perlahan.

“Ya, silahkan Pak Pedi..” Sambung Pak RT.

“Bapak-bapak yang saya hormati, saya ingin menyampaikan sesuatu kepada Bapak-bapak sekalian.” Saya mengawali pidato pembukaan saya. Dan sungguh saat itu saya bisa mendengar suara saya sendiri yang gemetaran dengan tempo naik turun berusaha menstabilkan ritme suara.

“Pertama, saya ingin menyampaikan bahwa dalam beberapa bulan ke depan saya akan pindah tempat, karena rumah yang sekarang akan ditempati sendiri oleh yang punya.” Warga yang sebelumnya sempat ribut mendadak menjadi hening seolah bisa menangkap ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang penting.

“Pada kesempatan yang sangat baik ini, saya ingin pamitan, mohon maaf yang sebesar-besarnya jika selama saya tinggal di sini ada salah dan khilaf.. Dan sungguh, saya sangat senang tinggal di sini bersama Bapak-bapak.. Melihat sikap gotong-royong dan saling bantu-membantu yang menjadi tradisi di kampung ini..” Saya melanjutkan dengan intonasi dan ritme suara yang mulai stabil.

“Ya sudah Pak, rumahnya yang sekarang ditinggali dibeli aja, jadi Pak Pedy tidak perlu pindah..” Pak RT nyeletuk yang langsung disambut tawa renyah warga.

“Ya Pak, pinginnya juga gitu, tapi uangnya nggak punya..” Saya menjawab singkat. Suasana jadi agak lebih cair dengan gurauan Pak RT tadi.

“Sekali lagi saya sebenarnya sangat senang tinggal di sini jadi tetangga Bapak-bapak semua.” Saya menyambung lagi mengembalikan kepada topik awal.

“Saya ingat dulu waktu saya kecelakaan dan kaki saya nyaris patah, saya nggak nyangka dijenguk oleh para pemuda di kampung ini, hampir semuanya ikut besuk. Padahal saya warga baru di situ. Saya dan keluarga sempat terenyuh.. Lha wong teman-teman terdekat saya saja saat itu belum ada yang jenguk.” Saya menjelaskan.

“Dan saya masih ingat dan sangat terkesan ketika Bapak mertua saya meninggal. Hampir semua Bapak-bapak yang hadir malam ini, menyempatkan takziah ke rumah mertua saya, padahal itu jauh di luar kota..” Saya menambahkan lagi. Semua yang saya sampaikan langsung dari hati, jujur dan tidak dibuat-buat. Saya dulu sering bertanya, apa sebenarnya yang membuat mereka punya solidaritas yang sangat tinggi, hingga takziyah ke luar kota saja mereka jalani, bahkan kepada warga baru yang tidak begitu mereka kenal. Lebih mengherankan lagi, si warga baru itu (saya) pasti malas melakukan sebaliknya, untuk takziyah ke luar kota hanya karena tetangga dan bukan saudara! Ini yang membuat saya takjub dan respek terhadap solidaritas penduduk kampung ini.

“Semuanya yang Bapak-bapak lakukan memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada saya. Terutama ketulusan dalam bantu-membantu dan tolong-menolong.. Tapi izinkanlah saya untuk menyampaikan sedikit masukan kepada Bapak-bapak sekalian. Dan mohon maaf sebelumnya jika apa yang akan saya sampaikan dirasa kurang berkenan dan kurang sopan. Karena saya merasa bersalah jika ada sesuatu yang kurang pas tidak saya kemukakan, apalagi saya mau pindah..” Suasana masih hening, mereka pasti menerka-nerka apa yang akan saya kemukakan. Inilah saatnya masuk kepada inti pidato yang sudah saya persiapkan dan latih berhari-hari yang lalu.

“Saya merasa ada hal yang tidak sejalan dengan semangat tolong-menolong dan bantu-membantu yang menjadi tradisi dan kebiasaaan baik warga masyarakat di kampung ini. Yaitu kebiasaan pinjam-meminjam dengan bunga. Mohon maaf, terutama bagi yang beragama Islam, bunga atau riba adalah salah satu dosa besar yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Saya yakin, kampung ini tidak akan diberkahi Allah selama kita masih memakan riba atau bunga.” Saya berusaha menyampaikan sebaik-baiknya dan selugas-lugasnya.

Lalu kemudian saya masuk kepada penjelasan beberapa aspek teknis dan alternatif pembiayaan non-riba. Seperti misalnya RT membelikan sebuah barang dengan cash, yang di jual kepada warga yang membutuhkan dengan mencicil tanpa bunga, dengan margin keuntungan tertentu dari pihak RT. Saya juga banyak mencontohkan (dari hasil riset saya kecil-kecilan) beberapa praktek kampung yang terbukti berhasil meninggalkan riba, tanpa mengurangi cashflow keuangan RT. Tidak terasa akhirnya saya menyudahi pidato saya.

“Ya, silahkan Bapak-bapak yang mau memberikan tanggapan.” Pak RT mem-floorkan usulan saya ke warga. Ini adalah mekanisme yang biasa dilakukan. Sebuah keputusan baru dianggap sah jika disetujui secara aklamasi oleh warga di pertemuan bulanan ini. Inilah saat-saat yang paling menegangkan bagi saya.

Tiba-tiba sebuah tanggapan muncul dari Pak Kaum, pemuka agama di kampung itu: “Usulan Pak Pedi bagus, hanya saja mungkin bunganya dikurangi secara bertahap, tidak langsung nol persen.” Waduh, sebuah tanggapan yang kontra produktif, batin saya. Padahal riba sekecil apa pun itu tetap riba. Memang beliau kelihatan agak pesimis dengan gagasan ini sejak awal, ketika teman-teman meminta dukungannya untuk menghilangkan praktek riba di dusun ini. Biasa, orang-orang sepuh biasanya cenderung status-quo dan agak khawatir kehilangan pengaruh mereka. Saya masih diam, menerka-nerka apa yang akan terjadi berikutnya.

“Saya mau bicara!” Sahut seorang Bapak sepuh dengan suara yang sangat lantang. Ternyata salah satu tokoh sepuh yang angkat bicara, se-level dengan Pak Kaum, hanya saja agamanya Kristen. Dan beliau tinggal persis di depan rumah saya. Saat itu saya hanya bisa pasrah. Kalo tokoh sepuh yang satu ini juga tidak mendukung, habislah sudah. Hanya tinggal menunggu efek domino penolakan usulan haramnya riba ini.

“Saya ingin menyampaikan pendapat saya. Saya setuju dengan usulan Pak Pedy, kalau bunga pinjaman dihilangkan sama sekali! Karena riba (ya beliau menyebutnya riba), juga berdosa menurut agama saya. Saya setuju ini dihiangkan. Toh kita juga masih bisa mensiasati agar kas RT tidak berkurang..” Bapak itu menjelaskan dengan lugas dan tegas. Sepertinya ia tahu posisinya sebagai sesepuh yang dihormati di kampung ini.

“Dan satu lagi, saya sebenarnya sedih kalo Pak Pedy sekeluarga pindah, karena saya sudah merasa dekat dengan Pak Pedy sekeluarga. Terutama anak-anak Pak Pedy sudah saya anggap sebagai cucu saya sendiri. Saya ucapkan selamat pindahan bagi Pak Pedi semoga berbahagia di tempat yang baru..” Ucapnya jujur tanpa dibuat-buat. Memang selama ini hubungan kami cukup dekat dan akrab, sekalipun berbeda agama.

Dari tanggapan terakhir tadi, akhirnya dukungan demi dukungan mulai datang sambung-menyambung. Suasana menjadi ramai dengan berbagai usulan dan dukungan untuk menghilangkan riba. Merasa ada angin segar, Pak RT dan teman-temanya yang sejak awal anti riba juga angkat bicara. Dari salah seorang warga yang pengusaha bahkan rela infak rutin 100 ribu sebulan untuk menutup kekurangan kas RT akibat distopnya bunga. Diantara mereka yang hadir ada yang sangat tegas dan antusias mendukung, namun ada pula yang kelihatan setengah-setengah karena terbawa arus forum. Tapi secara umum keputusan aklamasi untuk meninggalkan praktek riba telah dicapai. Saya hanya bisa tersenyum dan terharu menundukkan wajah..

Tiba-tiba salah seorang Bapak yang duduk di samping saya menyikut bahu saya dan berkata, “Tindakan yang bagus Pak Pedy, saya sebenarnya sejak dulu ingin usul seperti ini, tapi koq nggak jadi-jadi terus.” Bapak-bapak yang mendengar percakapan kami juga mengiyakan, bahwa mereka sebenarnya sejak dulu juga tidak rela dengan praktek riba, hanya saja mereka kurang berani untuk menyampaikannya. Tiba-tiba semuanya menjadi jelas bagi saya, sebagian dari mereka sudah membenci riba, tapi mereka menyimpannya di hati, tidak saling memberitahukan karena takut tidak disetujui dan dibenci oleh masyarakat. Jadi mereka hanya menyimpannya saja dalam hati dan merasa sepenuhnya sendirian. Padahal kenyataannya mereka cukup banyak, tapi mereka hanya diam. Pidato saya sepertinya hanya membobol sumbat aspirasi hati dan kecenderungan mereka kepada kebaikan.

“Pak Pedy..” sahut Bapak yang lain berbisik.. “Selamat Pak, jenengan punya peninggalan yang baik sebelum pergi..” Lagi-lagi saya hanya bisa tersenyum.

“Ini usaha kita bersama Pak, bukan cuma saya.” Saya menanggapi singkat.

Usailah sudah pertemuan bersejarah malam itu, bagi penduduk kampung yang sangat ramah itu, dan pasti bagi saya. Saya pulang malam itu dengan mata dan hati yang berbinar, tidak sabar untuk berbagi cerita dengan sang Istri tercinta, karena dia juga punya andil besar sebagai PR (public relations) keluarga kami di tengah masyarakat dusun tempat kami tinggal.

Farewell my village. Saya tidak akan pernah melupakanmu kampungku. Saya sungguh belajar banyak darimu. Tentang ketulusan, tentang keberanian, tentang kebersamaan, tentang keterbukaan dan kejujuran dalam memperjuangkan segala hal, termasuk memperjuangkan tegaknya syariah Islam. Dan yang terpenting, kita sering gagal karena fikiran kita yang mensabotase diri kita sendiri, karena ketakutan, tembok dan penjara yang kita ciptakan untuk membelenggu diri kita sendiri. Tidak ada kegagalan yang paling fatal, kecuali kita telah mensabotase diri untuk tidak bertindak dengan benar dan tegas, karena kita berfikir orang lain tidak akan mendukung dan sepakat dengan tindakan kita. Padahal kenyataannya mereka sangat mendukung dan menanti-nanti orang seperti kita, untuk membebaskan sumbatan aspirasi dan memberi sedikit dorongan kepada diri mereka. Jika ini bisa berhasil di sebuah kampung, di lapangan kehidupan mana lagi kiranya ini bisa berhasil? Jika mereka setuju mencampakkan riba, kemaksiyatan lebih besar apa lagi yang kiranya bisa mereka tinggalkan?