139438d975b4bc30ee2148025e68a318-grandeFenomena pergaulan bebas dan free sex nampaknya sudah sampai pada taraf yang memprihatinkan. Mengapa kita harus peduli? Jika Anda punya adik atau saudara remaja maka harus peduli. Jika Anda punya anak laki-laki apalagi perempuan maka Anda harus peduli. Jika Anda khawatir terinveksi HIV karena petugas medis lupa mensterilkan jarum suntik maka Anda harus peduli. Jika kejahatan dan pelecehan seksual merajalela karena terinspirasi oleh pornografi, maka Anda harus peduli. Jika majalah-majalah panas seperti Playboy dan FHM masih bisa dibeli di kios dakat rumah Anda, maka Anda harus peduli. Jika Anda pernah dikabari ada tetangga atau kenalan dekat yang married by accident, maka Anda harus peduli. Anda masih tidak mau peduli? Bagaimana dengan ini:

Survei yang dilakukan Komnas Perlindungan Anak terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar selama tahun 2007 diperoleh fakta bahwa 97 persen remaja pernah nonton film porno, 93,7 pernah ciuman, petting dan oral seks, 62,7 persen remaja SMP sudah tidak perawan serta 21,2 persen remaja SMU pernah aborsi.

Anda masih tidak mau peduli? Bagaimana dengan ini:

Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyatakan dalam sebuah survey yang mengambil sampel di 33 provinsi pada tahun 2008, diperoleh fakta bahwa 63 persen remaja usia sekolah SMP dan SMU mengaku pernah melakukan hubungan seks, dan 21 persen diantaranya pernah melakukan aborsi.

Mengapa mereka bisa melakukan semua itu? Siapa yang mengenalkan dan mengajari mereka prilaku seks bebas? Jika SMP atau SMU mereka sudah biasa seks bebas, apa yang terjadi saat usia SD?

Sebuah survey oleh Yayasan Kita dan Buah Hati terhadap 1.625 siswa SD kelas 4 hingga 6 di Jabodetabek sepanjang 2008, diperoleh fakta bahwa 66 persen dari mereka pernah melihat hal-hal berbau pornografi, sekitar 24 persen melalui komik 18 persen melalui games, 16 persen melalui situs porno, 14 persen melalui film, 10 persen VCD dan DVD, 8 persen melalui HP, dan 4-6 persen melalui majalah atau koran.

Saya sudah katakan, jika adik atau anak Anda akan beranjak dewasa, sebaiknya Anda harus peduli. Kalo yang melakukan seks bebas hanya 5 sampai 10 persen, Anda boleh tidak peduli. Tapi jika 60 bahkan 90 persen (6 sampai 9 dari 10 remaja), Anda tidak boleh tidak peduli. Kecuali tentu saja, Anda salah satu dari 60 atau 90 persen tadišŸ™‚.

Dan jika Anda masih tidak mau peduli, bersama dengan jutaan orang lainnya, jangan salahkan jika pada pemilu tahun 2014 nanti ada PSI (Partai Seks Indonesia) yang bertujuan melanggengkan budaya seks bebas, homoseksualitas dan pornografi di Indonesia. Tidak mungkin? Sangat mungkin. Karena orang-orang kita biasanya suka meniru dan latah dengan budaya dan gaya hidup asing. Dan sekarang pun para pemuja seks bebas dan homoseksualitas sudah banyak jumlahnya. Saya pernah mendapati majalah GAYA (GAY nusantarA) dijual bebas di toko buku besar. Juga pernah mendengar talk show di radio swasta yang secara tidak langsung mempromosikan gaya hidup gay dan lesbian. Dan bukankah berbagai LSM dan organisasi yang mendukung liberalisasi pergaulan banyak jumlahnya di negeri ini? Dan bisa juga mereka terinspirasi oleh ASP (Australian Sex Party), sebuah parpol baru di Australia yang dideklarasikan pada bulan November 2008 silam, dengan slogan “we’re serious about sex”, yang bertujuan membebaskan Australia dari semua belenggu seksualitas dan kebebasan berekspresi. Indonesia menyusul? Sangat mungkin kalau kita tidak peduli dan bertindak dari sekarang.

Kalau Anda peduli dan setuju dengan saya, lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasinya? Pastikan para remaja itu tertempa karakternya, matang secara mental, emosional dan spiritual, sehingga memiliki kepribadian Islam yang mulia. Caranya? Jadikan mereka kader-kader dakwah dan pejuang syariah yang militan! Jangan hanya suruh mereka belajar Islam ala kadarnya saja, tapi suruh mereka bergabung dan berkiprah bersama organisasi Islam yang akan men-drill mereka menjadi pengemban dakwah yang ikhlas dan antusias dalam berjuang tegakkan syariah dan khilafah. Jika Anda ingin anak atau saudara Anda aman dari bencana free sex, jangan hanya minta mereka bertahan dan defensif saja. Resikonya suatu saat benteng defensif mereka bisa ambrol, habis lah sudah. Tapi minta mereka untuk menyerang (ofensif) dengan merubah tatanan masyarakat yang menyuburkan seks bebas ini menjadi lebih Islami. Insya Allah, mereka tidak hanya akan bisa bertahan, tapi juga berpahala menyelamatkan yang lain dari kemaksiyatan. Ingat kata pepatah Arab, khairu ad-difai al-hujumi, atau dalam bahasa penggemar sepak bola, the best defense is offense! Saya kebetulan pernah bincang-bincang dengan Ketua PDM Muhammadiyah di kota tempat saya tinggal. Beliau satu sisi agak terganggu dengan banyaknya kader-kader muda Muhammadiyah yang hijrah ke organisasi Islam hard-liner (dimana saya adalah salah satunya :)), tapi di sisi lain beliau respek dengan semangat dan militansi mereka. Yang menarik adalah komentar beliau: “Lebih baik menjadi militan dalam memperjuangkan syariah Islam, ketimbang menjadi militan dalam pergaulan bebas dan obat-obatan terlarang!” Anda setuju?

Tapi jangan lupa, kalau Anda meminta anak menjadi pejuang Islam, sedangkan Anda sendiri tidak melakukannya, cara ini tidak akan efektif. Kalau Anda meminta anak Anda untuk rajin ngaji dan halqah, tapi Anda sendiri tidak melakukannya, maka cara ini juga tidak akan efektif. Anda harus melakukannya lebih dulu, lalu ajak dan minta mereka melakukan hal yang sama. Ingat, satu keteladanan berbicara lebih banyak ketimbang seribu argumen. Ajak anak-anak Anda ketika Anda mengikuti atau mengisi pengajian-pengajian. Biarkan mereka mengenal siapa ayah dan ibu mereka, kiprah dan idealismenya. Sesekali ajak mereka berdemonstrasi turun ke jalan, dan melihat ayah dan ibu mereka mengepalkan tangan ke udara, meneriakkan pekik takbir yang membahana di langit luas, menentang segala bentuk kezhaliman dan kemaksiyatan yang dimapankan. Bina keluarga Anda, tidak hanya menjadi keluarga samara (sakinah mawadah wa rahmah), tapi sebagai keluarga yang cerdas dan berdaya secara politis-ideologis, sebagai sebuah keluarga yang sekaligus sebuah team dan unit yang solid dalam berjuang menegakkan syariah dan khilafah, yang dengannya umat muslim sedunia bisa bersatu.

Tapi hanya dengan membina individuĀ  remaja dan membentuk keluarga samara yang akrab dan bersahabat dengan remaja, belumlah cukup untuk menghentikan bencana seks bebas yang telah mengakar saat ini. Apalagi yang perlu kita lakukan? Lihat tulisan saya berikutnya..