Membentuk individu remaja yang bertakwa dan membina sebuah keluaraga sakinah mawadah wa rahmah memang penting, tapi tidak pernah cukup untuk menuntaskan problem seks bebas. Terutama kalau kita menggunakan nalar politik spiritual, problem dan bencana seks bebas ini disebabkan oleh tatanan masyarakat yang dibangun di atas asas sekulerisme dan liberalisme. Di satu sisi, tata kehidupan itu menghasilkan individu remaja yang lemah iman dan tergoda melakukan seks bebas. Di sisi yang lain, tata kehidupan itu menyediakan berbagai sarana dan fasilitas, bahkan insentif yang membuat para remaja itu kecanduan seks bebas. Maka untuk mengentikan bencana seks bebas ini secara tuntas, berhentilah berfikir bahwa ini adalah masalah individu per individu remaja saja, dan mulailah mengembangkan cakrawala berfikir Anda, sampai pada satu pemikiran bahwa ini juga menyangkut masalah sistem dan aturan yang melingkupi para remaja tadi. Bahwa sesungguhnya bencana seks bebas terkait dengan tata sosial, politik, ekonomi, dan hukum yang mengkondisikan mereka berbuat maksiyat. Bagaimana hal ini terjadi tepatnya? Mari kita urai satu per satu:

Posisikan diri Anda sebagai mereka, para remaja yang sedang beranjak dewasa. Anda lahir, tumbuh dan berkembang menjadi remaja di sebuah negeri yang tata pendidikannya tidak dirancang untuk membenamkan ruh akidah yang kokoh di jiwa Anda. Hanya dengan bekal pendidikan agama yang minim, seminggu hanya dua jam di sekolah, apalagi ketika kuliah frekuensinya jauh lebih minim lagi, bagaimana bisa mencetak pribadi-pribadi Islam yang berkarakter mulia? Bagaimana bisa mencetak pribadi-pribadi yang matang secara mental, emosional dan spiritual? Yang mampu mengendalikan diri, taat beribadah dan berahlak karimah? Saya yakin, jika Anda saat ini menjadi muslim yang baik, itu lebih banyak dihasilkan dari jalur pendidikan nonformal seperti pesantren atau organisasi Islam non-pemerintah, daripada jalur pendidikan formal. Saya sendiri dulu mengalami hal ini, dan merasakan betapa sebuah sistem pendidikan yang salah akan berdampak besar pada jiwa seseorang. Dan jangan lupa ketika sistem pendidikannya sebuah negara salah, bukan hanya seribu dua ribu tapi jutaan bahkan puluhan juta generasi muda menjadi korbannya, persis seperti yang terjadi sekarang ini. Apa hasilnya? Generasi muda yang gamang, tidak memiliki orientasi hidup yang jelas, dan lebih mencintai kehidupan dunia ketimbang akhirat.

Apa yang terjadi selanjutnya? Para remaja yang gagal mengenal dan mencintai Allah dan hari akhir tadi, akhirnya menjadi sasaran empuk bagi raksasa industri yang menjadikan syahwat dan birahi sebagai komoditas bisnisnya. Coba kita fikirkan. Salah satu industi yang tumbuh paling besar di dunia ini adalah industri seks. Mulai dari bisnis memantik syahwat dengan senjata pornografi dan pornoaksi, samapai bisnis yang memfasilitasi pelampiasan syahwat seperti prostitusi, baik yang terang-terangan atau terselubung. Mari kita tengok data di bawah ini:

Pada tahun 2003, keuntungan industri pornografi yang pasarnya mencapai seluruh dunia telah mencapai 57 miliar dolar AS. Keuntungan ini lebih besar daripada total keuntungan seluruh pemilik klub-klub sepak bola, baseball, dan basket profesional; juga melebihi keuntungan 3 jaringan TV ABC, CBS, dan NBC dijadikan satu. (Dr. Mohammad Omar Farooq dalam nation.ittefaq.com).

Itu baru keuntungan dari bidang yang jelas-jelas disebut pornografi. Belum lagi dari industri yang sebenarnya juga terkait dengan pamer aurat dan adegan-adegan mengundang birahi, misalnya industri hiburan di hotel-hotel atau kafe-kafe, fesyen, acara hiburan di televisi, dan juga industri film. Keuntungan di industri-industri ini pun tidak kalah menggiurkan. Walhasil, para remaja belia yang lemah iman dan lemah takwa ini menjadi menyerah dan tak berdaya disergap dan dicengkram oleh raksasa-raksasa industri seks dari delapan penjuru mata angin. Melihat realitas ini, maka wajar jika anak-anak kelas empat SD sudah mengkonsumsi pornografi.

Inilah alasannya mengapa Undang-undang Pornografi kemarin mendapat pertentangan yang sangat keras, salah-satunya karena ada kepentingan industri asing yang bermain di belakangnya. Ketua Pansus RUU Pornografi Balkan Kaplale ketika ditemui oleh DPP HTI pada bulan September 2008 silam menyatakan:

Banyak negara industri seks sangat keberatan dengan lahirnya UU ini. Ada tujuh negara, dua diantaranya Australia dan Inggris berusaha terus mengganjal lahirnya UU ini.

Malang benar nasib pemuda sekarang. Sudah lemah iman dan takwa akibat gagalnya sistem pendidikan, kemudian syahwat dan hasrat seksual mereka dipantik secara masif dan ekstensif oleh raksasa industri pornografi. Lewat televisi, VCD, DVD, situs porno, games, hp, komik, majalah, tabloid. Dan jangan lupa, akibat tidak ditatanya sistem sosial kita, laki-laki dan wanita-wanita bisa berbaur secara bebas, yang kemudian mendorong mereka untuk ber-khalwat, berdua-duaan dan bermesraan. Ditambah lagi para wanitanya dibiarkan memamerkan aurat mereka. Semua stimulus dan rangsangan eksternal ini terus mengikuti mereka dari mulai bangun tidur, sekolah, di rumah, menjelang tidur, sampai tidur dan bangun keesokan harinya, mereka masih mengalami hari naas yang sama. Jika Anda jadi mereka, apa yang Anda rasakan? Tidak sulit untuk menyimpulkan Anda sering “on” atau BT (birahi tinggi :)), dan butuh penyaluran kan? Anda masih manusia yang normal bukan?

Sampai di sini, apa yang Anda lakukan untuk menyalurkan hajat instingtif tadi? Selemah-lemahnya iman, Anda masih memahami cara yang paling benar adalah dengan menikahi baik-baik seorang wanita. Dan ketika Anda mengutarakan niat Anda kepada orangtua Anda dan calon mertua, bagaimana tanggapan mereka? Masih sekolah/belum lulus kuliah koq mau nikah -lagi-lagi kesalahan sistem pendidikan kita. Atau alasan lainnya, mau kamu kasih makan apa anak istrmu kelak -lag-lagi kesalahan sistem ekonomi kita, yang gagal memeratakan kesejahteraan dan berhasil memeratakan kemiskinan, karena hanya berpihak kepada pemilik modal dan kapital saja. Jangankan bagi yang belum lulus, bagi yang sudah lulus bahkan bertitel S2 dan S3 saja masih susah cari kerja dan mandiri secara finansial.

Lalu apa yang Anda lakukan selanjutnya? Sudah digempur syahwat di sana sini, mau menyalurkan dengan benar tapi susah, padahal sudah tidak tahan lagi. Ketika benteng iman sudah mulai luruh, dan Anda mulai tergoda melakukannya, Anda masih khawatir dengan sanksi hukum dan sosial yang berlaku di masyarakat. Sanksi hukum? Sepertinya tidak ada sepanjang suka sama suka dan tidak ada delik aduan (ini kegagalan sistem hukum sekuler, dalam Islam orang yang berzina akan dihukum sekalipun suka sama suka). Sanksi sosial? Siapa peduli, sekarang banyak kos-kosan campur dan bebas. Asal bayar kos tepat waktu, tidak jadi soal ajak wanita masuk kamar. Norma dan pengawasan masyarakat juga sudah mulai longgar terhadap pergaulan muda-mudi yang kian permisif. Saya pernah mendengar seorang Ibu yang justru khawatir mengapa anaknya tidak mau pacaran seperi layaknya pemuda seusianya.

Apa yang terjadi? Selemah-lemahnya iman di dada, Anda masih bisa bertahan tidak mau seks bebas. Tapi karena sistem sosial kita tidak pernah menata interaksi pria dan wanita, Anda mulai tergoda untuk berpacaran. Ketika berpacaran, pasti tidak hanya ngobrol-ngobrol saja kan selama tiga tahun? Anda mulai bosan dan ingin mencoba sesuatu yang baru. Dengan malu-malu Anda mulai memegang tangannya. Awalnya menegangkan, tapi lama-kelamaan Anda mulai bosan lagi, Anda ingin mencoba sesuatu yang baru lagi. Hmm, setelah tangan apa ya? Anda mencoba “itu” tapi belum yang “itu”, begitu seterusnya Anda mencoba teknik-teknik yang baru karena manusia dalam hal ini manusia cepat merasa bosan dan punya rasa ingin tahu yang tinggi. Sampai akhirnya, sadar atau tidak Anda terjerumus ke adalam zina! Awalnya Anda sempat merasa berdosa, tapi karena tidak ada sanksi sosial dan hukum, dan kebetulan teman-teman Anda juga melakukan hal yang sama secara berjamaah, jadi Anda semakin enjoy melakukannya. Akhirnya Anda mulai kecanduan dan berkubang dalam praktek pergaulan bebas. Setelah ini terjadilah hal-hal mengerikan seperti KTD (kehamilan tak diinginkan), aborsi, penyakit menular seksual, HIV, sampai hancurnya ahlak dan moralitas generasi muda.

Lalu bagaimana solusi tuntasnya? Seperi yang saya katakan di depan, disamping menempa keimanan dan ketaatan individu remaja, dan menjadikan keluarga samara sebagai basis pendidikan dan penjagaan yang efektif, kita juga harus segera merubah sistem dan tatanan yang berlaku. Mulai dari sistem pendidikan yang mampu membenamkan ruh akidah Islam yang kokoh tadi, sehingga mampu membentuk kepribadian Islam yang mulia. Lalu membenahi sistem ekonomi kapitalistik yang menjadikan syahwat dan aurat sebagai komoditas bisnis seperti yang terjadi sekarang. Antara lain dengan membuat undang-undang yang melarang semua bentuk eksploitasi seksualitas dan sensualitas, termasuk membuka aurat di tempat umum. Lalu terapkan sistem sosial Islam, yang mengatur interaksi pria dan wanita di masyarakat, tidak boleh mereka bercampur-baur apalagi bersepi-sepian.  Kemudian ciptakan lapangan kerja dan usaha seluas-luasnya dengan anggaran dari kekayaan alam kita yang melimpah ruah (setelah Freeport dan Exxon dinasionalisasi tentunya), sehingga generasi muda kita bisa cepat mandiri secara finansial dan menikah lebih awal untuk menjaga iffah dan kehormatan dirinya. Hapuskan juga undang-undang dan peraturan yang melarang poligami, karena bisa jadi ada sebagian orang yang sangat memerlukannya🙂.

Setelah semua pinta maksiyat ditutup dan semua pinta kebajikan di buka, maka tidak ada alasan lagi untuk tetap bermaksiyat. Apa alasannya? Tidak faham agama? Sudah difahamkan dengan sistem pendidikan yang benar. Ada rangsangan? Semua pornografi dan pornoaksi dilarang, bahkan wanita di tempat umum wajib menutup auratnya. Tergoda pacaran? Pria dan wanita interaksinya jelas-jelas dibatasi dan tidak diperbolehkan berdua-duaan. Sulit menikah karena belum dapat kerja? Sistem ekonomi Islam mampu menjamin kesejahteraan rakyatnya dengan nasionalisasi SDA dan kebijakan real-based economy-nya (bukan seperi monetary-based economy yang ribawi seperti sekarang). Sehingga semua lokalisasi bisa di tutup dan para PSK dapat ditampung di lapangan pekerjaan dan lapangan usaha yang tersedia luas. Harapannya para pemuda bisa meraih kemandirian finansial lebih awal dan bisa cepat menikah. Apa lagi? Masih ingin menikah lagi?  Bisa sampai empat kali dan tidak dilarang oleh undang-undang.

Apa lagi? Jika masih ada yang terbetik niat maksiyat, padahal sudah diberi pemenuhan dan berbagai solusi, ada hukuman tegas bagi para pezina yang membuat orang yang paling nekat pun akan berfikir seribu kali. Saya yakin orang yang masih berakal sehat tidak mau badannya ditanam di dalam tanah dan kepalanya dilempari batu sampai mati. Sehingga ahli maksiyat yang paling binal pun akan berfikir seribu kali untuk seks bebas. Dan laki-laki yang paling playboy dan paling belang hidungnya pun akan mengurungkan niatnya untuk selingkuh. Kejam? Mungkin, tapi itu sepadan karena celah-celah maksiyat telah ditutup rapat, dan pintu-pintu solusi dan kebaikan di buka lebar-lebar. Dan hukuman keras dan tegas ini pasti bisa menekan angka kejahatan seksual di titik yang paling rendah. Disamping itu, tidak ada alasan lagi bagi seseorang untuk seks bebas, karena dia sudah faham agama, terampil mengendalikan diri, tidak ada rangsangan, sudah mandiri dan bisa menikah, bahkan bisa tambah. Insya Allah dengan syariah Islam kehidupan masyarakat menjadi aman, tentram, penuh berkah serta terhindar dari bencana seks bebas. Ayo kita perjuangkan bersama!