Lagi-lagi alasan pemimpin yang baik. Sepertinya susah sekali menyadarkan orang bahwa ada perbedaan mendasar antara orang dan sistem. Seperti halnya orang ada yang baik dan buruk, sistem juga ada yang baik dan buruk. Ada orang yang taat ada pula orang yang maksiyat. Dan ada sistem yang taat ada pula sistem yang maksiyat. Islam telah diturunkan untuk membentuk orang yang baik (taat beribadah dan berahlak karimah), dan juga sistem yang baik (muamalah Islami di berbagai aspek kehidupan). Maka yang harus kita pastikan adalah orangnya harus baik, dan sistemnya juga harus baik. Orangnya taat syariah, sistemnya juga taat syariah. Jangan hanya orangnya saja yang dinilai, tetapi sistemnya tidak pernah dinilai.

Kalo hanya salah satunya, mana bisa hasilkan perubahan hakiki? Selain itu tidak ada jaminan orang yang baik akan menjalankan kebijakan yang baik pula. Dan kalau kita memilih orang yang baik tapi menjalankan sistem yang buruk, sama saja dengan meminta seorang yang alim dan amanah untuk menjalankan kebijakan negeri yang maksiyat. Seperti meletakkan kedaulatan di tangan rakyat, yang seharusnya di tangan syariat. Atau terus melanggengkan tatanan ekonomi berbasis riba. Atau terus menjalankan kebijakan privatisasi SDA. Atau tidak tegas memberantas pornografi dan pornoaksi. Kalau semua pemimpin (sekalipun baik, shiddiq, amanah, fathanah dll) tapi terus menerapkan semua kebijakan maksiyat barusan, apa mau tetap dipilih? Apa malah wajib tidak memilih alias golput?

Topik Utama: Top 10 Alasan Sesat Wajibnya Pemilu