Baca ini dulu: Keutuhan dan Kesempurnaan Islam. Sudah? Anda masih mengatakan bahwa dalam Islam yang penting pemimpinnya saja? Sedangkan sistem dan aturannya bisa bebas? Oke kalau Anda masih yakin bahwa Islam tidak mengatur aspek sistem politik, ekonomi, sosial, hukum, pidana, dan lain-lain, coba anda buka Al-Quran dari awal sampai akhir, dan juga kitab-kitab Hadist dari awal sampai akhir, dan pisahkan ayat-ayat dan hadist-hadist yang berbicara tentang pemerintaham, perekonomian, pendidikan, sosial, hukum, pidana, politik luar negeri, dan hukum-hukum muamalah lainnya. Pisahkan semuanya dari tema-tema hukum ibadah dan akhlak karimah. Ketika Anda memisahkan tema-tema muamalah tadi dari Al-Quran dan Al-Hadist, berapa persen yang tersisa? Mungkin tidak lebih dari sepuluh persen. Karena sebagian besar Islam adalah hukum-hukum tentang muamalah yang mengatur aspek sistem dan aturan manusia.

Anda masih ragu? Oke saya ingin bertanya kepada Anda? Pernahkah Anda mendengar di IAIN membuka fakultas Ibadah, dengan jurusan-jurusan sholat, zakat, puasa dan haji? Tidak kan? Tapi Anda pernah mendengar di IAIN membuka fakultas muamalah, dengan jurusan-jurusan siyasah, uqubah, jinayah, dll. Ada juga jurusan ahwal syaksiyah yang mempelajari hukum-hukum Islam tentang nikah talak rujuk cerai waris dll, yang lulusannya biasanya menjadi hakim agama. Coba Anda renungkan, untuk menjadi hakim agama saja, yang hanya mengurusi sub domain hukum Islam seputar nikah dan waris yang sangat sepesifik, harus kuliah 4-5 tahun. Belum lagi seputar politik/siyasah. ekonomi/iqtisadiyah, hukum/uqubah, dll. Sebaliknya, Anda tidak perlu kuliah dan belajar 4-5 tahun untuk belajar sholat atau naik haji. Paham yang saya maksud? Artinya hukum-hukum muamalah mencakup 90% atau sebahagian besar dari agama Islam itu sendiri. Dan kesemuanya itu berbicara tentang sistem atau sekumpulan aturan yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia. Jadi jelas sekali Islam disamping berbicara tentang orang/pemimpin, Islam juga berbicara tentang aturan dan sistem yang melingkupinya. Dua-duanya harus dipastikan berjalan beriringan, atau rahmat Islam tidak akan pernah bisa kita rasakan.

Topik Utama: Top 10 Alasan Sesat Wajibnya Pemilu