earth-hour1Earth Hour merupakan kampanye perubahan iklim global WWF. Individu, pelaku bisnis, pemerintah dari berbagai negara di semua belahan dunia akan mematikan lampu selama satu jam sebagai pernyataan dukungan upaya penanggulangan perubahan iklim pada Sabtu, 28 Maret pukul 20.30 – 21.30. Tahun ini, untuk pertama kalinya Earth Hour dilakukan di Indonesia, di mana  Jakarta dipilih menjadi kota pertama tempat penyelenggaraannya. Pada Sabtu, 28 Maret 2009, tepat pukul 20.30, masyarakat Jakarta akan menyaksikan dan menjadi bagian dari aksi global dalam memadamkan lampu selama 1 jam.

Dan pada saat yang bersamaan, lampu-lampu di bangunan bersejarah seperti Monumen Nasional (Monas) serta di beberapa ciri khas kota Jakarta lainnya, seperti Patung Pemuda, Jembatan Semanggi, Bundaran HI, Air Mancur Arjuna Wiwaha dan tak terkecuali kantor gubernur balaikota akan dipadamkan.

Klaimnya, memadamkan lampu di DKI Jakarta 1 jam, sama dengan:
• Mengistirahatkan 1 pembangkit listrik dan menyalakan 900 desa
• Mengurangi beban biaya listrik Jakarta sekitar Rp 200 juta
• Mengurangi emisi sekitar 284 ton CO2
• Menyelamatkan lebih dari 284 pohon
• Menghasilkan O2 untuk lebih dari 568 orang

Semalam saya juga menyaksikan iklan Earth Hour di televisi swasta. Saya sama sekali tidak tahu cara berfikir WWF dan pihak-pihak yang mendukungnya. Apa sebenarnya yang ingin dicapai dengan campaign ini? Selamatkan bumi? Membuat orang sadar tentang Global Warming? Mematikan lampu jelas memiliki dampak besar seperti paparan di atas. Tapi coba kita renungkan bersama, apa sebenarnya akar permasalahan Global Warming? Dan apakah bisa selesai dengan Earth Hour? Lalu apa pesan yang ingin disampaikan oleh WWF? Apakah pesan itu bisa mendidik masyarakat sehingga bisa menghentikan problem Global Warming ke depan?

Menurut saya akar permasalahan dari Global Warming adalah adanya ideologi sekular-liberal-kapital yang mengatur dunia saat ini. Sebuah tata dunia yang digerakkan oleh sifat keserakahan dan ketamakan untuk meraup sebesar-besar kenikmatan duniawi dan jasadi. Sebuah tata dunia yang menghamba kepada tujuan-tujuan material, dan mengabaikan tujuan-tujuan spiritual. Sebuah tata dunia yang hipokrit yang rela berperang dan membunuh hanya karena minyak dan kekuasaan. Sebuah tata dunia yang jantungnya adalah industrialisasi dan korporasi yang menghisap habis SDA dan tidak menyisakan apa pun selain limbah beracun. Sebuah tata dunia YANG SAAT INI TENGAH BERJALAN DAN ENTAH SAMPAI KAPAN AKAN TERUS BERTAHAN AKIBATKAN KERUSAKAN YANG LEBIH MASIF DAN EKSTENSIF!

Lalu mengapa kenyataan ini tidak diungkap dan dipropagandakan kepada masyarakat oleh WWF? Mengapa hanya mematikan lampu saja? Mengapa tidak mendidik masyarakat agar memiliki kesadaran politik spiritual, memberdayakan dan menggerakkan mereka untuk melawan hegomoni kekuatan politik sekular-liberal-kapital tadi? Apa artinya mematikan lampu satu jam, setelah itu beribu-ribu bahkan berjuta-juta jam berikutnya, mesin-mesin industri kapitalis-liberal yang tamak dan serakah kembali bising beroprasi mengeruk, mengeksploitasi dan merusak bumi kita? Berbarengan dengan itu mesin-mesin raksasa itu memuntahkan limbah dan racun dalam jumlah yang sangat bear. Mengapa realitas ini tidak pernah disampaikan dalam iklan-iklan dan campaign WWF?

Kalau saya jadi WWF saya akan buat iklan yang tidak hanya mengajak masyarakat untuk hemat energi. Tapi mengajak masyarakat untuk bangkit dan bergerak melawan kekuatan kapitalisme dan liberalisme yang self-destruktif tadi! Saya juga mengajak mereka untuk memprotes pemerintah yang telah memberi izin kepada korporasi asing untuk mengeksploitasi SDA kita! Saya juga akan menyerukan tidak hanya kita yang harus mematikan lampu 60 menit, tapi juga Freeport dan korporasi asing lainnya, mereka juga harus mematikan mesin-mesin raksasa industri penghasil limbah beracun mereka yang bising dan mengerikan itu, mereka semua harus mematikan pabriknya, dan segera angkat kaki dari negeri kita! Kalau hanya kita orang-orang kecil ini bisa menghemat banyak, apalagi korporasi-korporasi besar itu pasti akan sangat signifikan hasilnya, jika mereka tidak rakus dan tamak. Sampai kapan kenyataan pahit ini akan terus berjalan?