Krisis finansial global yang telah menimbulkan badai ekonomi di banyak negara telah memaksa beberapa pakar ekonomi untuk mencari solusi alternatif. Beberapa diantaranya adalah dua orang ekonom Itali, Loretta Napoleoni dan Claudia Serge, yang pada tanggal 4 Maret 2009 lalu menulis gagasan ekonominya pada koran resmi Vatikan, L’Osservatore Romano. Dalam artikel aslinya yang berjudul: I meccanismi alternativi di credito basati su un codice etico: Dalla finanza islamica proposte e idee per l’Occidente in crisi (mekanisme alternatif untuk kredit berdasarkan kode etik: proposal dan ide keuangan Islam untuk menghadapi krisis di Barat), antara lain memberikan penjelasan sebagai berikut:

We believe that Islamic finance can contribute to renew rules for the Western finance, as we are facing a crisis, overcome the initial problems of liquidity, now has become eminently a crisis of confidence in the system. The international banking system needs tools that reflect the focus of business ethics, tools that will collect cash and help rebuild the reputation of a capitalist model that has failed (http://sadefenza.blogspot.com/2009/03/i-meccanismi-alternativi-di-credito.html).

Lalu ekonomi syariah seperti apakah yang dimaksud? Apakah seperti bank-bank syariah yang saat ini menjamur (mulai dari BNI Syariah sampai HSBC Amanah Syariah)? Kalau kita berbicara subyek pelaksana syariah, sebenarnya mencakup tiga pihak: pribadi, institusi dan negeri. Nah munculnya trend bank syariah itu masuk pada ranah pribadi dan institusi. Sedangkan pada ranah negeri, syariah nampaknya masih belum diadopsi. Oleh karena itu, berbagai upaya penerapan ekonomi syariah oleh negara tidak boleh dilupakan. Hal ini pernah disampaikan oleh Dosen Fakultas Ekonomi UGM sekaligus Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (Pustep) UGM, Dr. Revrisond Baswir:

Bila memang serius mau menegakkan sistem ekonomi Islam solusi yang pertama yang harus diterapkan adalah merubah institusi (negara) tersebut. Bukan pada hal-hal yang sifatnya instrumen pelengkap, seperti perbankan, dan alat tukar. Karena tidak berbicara soal yang pokok, sehingga bank-bank syariah yang menjamur saat ini secara institusional tetap saja bersifat kapitalistik. Bila umat hanya berkutat di ranah instrumen, itu sangat bermasalah dan tidak terkategori membangun sistem ekonomi Islam. Sambil berkelekar Revrison mengatakan “Itulah yang disebut sebagai Kapitalisme Syariah” (http://hizbut-tahrir.or.id/2009/01/23/pesan-hip-ke-5-bangun-ekonomi-islam-bukannya-kapitalisme-syariah/).

Lalu seperti apa bentuk sistem ekonomi Islam yang utuh itu, baik pada lingkup pribadi, institusi dan negeri? Tulisan ini mencoba memberikan a brief look at the sharia economics (sharianomics).

Pertama-tama, kita harus membedakan antara sains ekonomi (‘ilmun iqtishadiyun) dan sistem ekonomi (nizhamun iqtishadiyun). Ya, Anda mungkin tidak mendapatkannya waktu kuliah pengantar ekonomi dulu. Karena memang dalam dalam konteks dan praktek ekonomi sekarang, kedua hal tersebut bersatu-padu dan tidak penting untuk dibeda-bedakan. Tapi ketika kita berbicara Sharianomics, keduanya penting untuk dibedakan.

Sains ekonomi berbicara tentang bagaimana meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam men-deliver barang dan jasa ke pasar. Yang melahirkan disiplin ilmu seperti Manajemen, Akuntansi, Administrasi dan Pemasaran. Termasuk juga Total Quality Management (TQM), Lean Six Sigma, Balanced Scorecard, Blue Ocean Strategy, dan lain sebagainya. Sains ekonomi bersifat netral dan steril dari pengaruh ideologi.

Sedangkan sistem ekonomi berbicara tentang sekumpulan aturan ekonomi yang diderivasikan dari ideologi tertentu. Karena sebagaimana yang telah dijelaskan dalam tulisan Yuk Diskusi Ideologi, ideologi adalah pandangan hidup rasional yang melahirkan aturan kehidupan integral. Salah satunya adalah sistem ekonomi tadi. Maka ketika kita membahas sebuah sistem ekonomi, pada hakekatnya adalah membahas sebuah sistem ekonomi yang muncul dari pandangan hidup tertentu. Rancang bangun sistem ekonomi Kapitalis misalnya, berangkat dari prinsip baik buruk menurut interpretasi manusia, sesuai dengan pandangan hidup sekuler yang menihilkan peran agama dalam kehidupan. Sebaliknya rancang bangun sistem ekonomi Islam, berangkat dari prinsip baik buruk menurut Allah SWT melalui dalil Al-Quran dan Al-Hadist, sesuai dengan pandangan hidup Islam yang meyakini semua perbuatan manusia akan diaudit oleh-Nya di Hari Akhir. For the sake of simplicity, dalil-dalil legitimasi Al-Quran dan Al-Hadist tidak saya sertakan satu per satu di sini, mengingat keterbatasan kanvas yang ada.

Ringkasnya, sistem ekonomi Islam memiliki tiga pilar utama:

  1. Properti (al-milkiyah).
  2. Konsumsi dan produksi (tasharruf fil milkiyah).
  3. Distribusi (tauzi’ul tsarwah bayna an-naas).

Tulisan-tulisan saya berikutnya akan membahas satu per satu poin-poin di atas.