Akhirnya, tadi pagi saya sempat juga menyaksikan berita yang sedang hawt-hawt-nya di televisi tentang AA, RJ dan tewasnya NZ itu. Sebuah kesempatan langka karena selain kesibukan sehari-hari, biasalah seorang ayah yang baik katanya harus mengalah kepada anak-anaknya yang suka nonton Tom and Jerry atau Spongebob Squarepants (just to be honest here, I love Spongebob! Selalu ceria, tertawa dan rajin bekerja).

Bagi media kasus AA, RJ dan NZ pasti berasa surga, yah bagaimana pun Bad News Is Still Good News. Apalagi bagi musuh-musuh politik KPK, entah berapa kali mereka sudah angkat gelas dan toast celebrating terjeratnya AA dalam kasus ini. Dan tidak ketinggalan para penikmat gossip, infotainment dan bahkan penggemar teori konspirasi yang berimajinasi merangkai berbagai motif dan skenario yang mungkin terjadi.

But come on guys; pernahkah kita berfikir tentang bagaimana suasana hati mereka? AA, RJ, NZ dan keluarganya? Sedih, tertekan, malu, bahkan marah? Mungkin lebih dari itu semua; tercabik, terkoyak, terhempas, terkucilkan dalam dunia gelap-pekat-dingin-menyedihkan-memalukan-melelahkan, yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Saya tidak berbicara benar dan salah di sini, karena bagainamapun juga; The Truth Is Out There! Saya hanya mencoba membayangkan; apa yang saya rasakan ketika saya jadi mereka? Ketika saya jadi keluarga mereka? Ketika saya jadi anak mereka atau ayah mereka?

Pada tayangan berita televisi itu, sekilas saya melihat wajah sayu istri AA di-shoot berkali-kali. Termasuk foto AA bersama keluarga yang dipajang di dinding. Mereka terlihat sangat bahagia. Entah apa yang mereka fikirkan saat itu, mungkin mereka tidak pernah membayangkan akan mengalami episode hidup seperti ini sebelumnya. Ada juga kakek RJ yang kebingungan entah dimana cucunya sekarang; mereka sekeluarga merindukan kepulangannya. Belum lagi amarah dan kesedihan keluarga NZ, karena apa pun yang terjadi, NZ tidak akan mungkin kembali.

Terlepas dari benar salahnya tindakan mereka, dan terlepas juga dari konsekuensi logis (balasan setimpal) dari tindakan mereka, sungguh kesedihan dan penderitaan mereka pasti tiada terperi. Dan seperti biasa, akhirnya penyesalan pun selalu datang terlambat (kayaknya dia memang tidak pernah datang di awal, apalagi on time). Para pelaku ataupun korban kasus ini akhirnya hanya bisa berkata: What if…

Saya tidak tahu apa yang Anda fikirkan, tapi jika saya tengah disekap oleh persoalan pelik seperti ini -apalagi jika persoalan tersebut akibat kesalahan saya sendiri- maka saya akan berfikir; betapa indah dan berharganya saat-saat itu; saat-saat ketika semuanya ini belum terjadi; berkumpul bercengkrama bercanda dengan keluarga. Tertawa bersama, bermain bersama, makan bersama. Sebuah keluarga yang hangat dan harmonis; membantu membuatkan PR anak pada malam hari, dan mengantarkan mereka ke sekolah pagi harinya. Kegiatan yang dulu sepele tapi kini menjadi permata tak ternilai harganya; terlebih jika Anda sekarang mendekam di penjara, apalagi di alam baka.

Saat-saat bak permata itu, adalah saat-saat sekarang yang saya miliki bersama keluarga. Cherish it, don’t waste it.

(sumber gambar http://zenhabits.net/fotos/20090205family.jpg)