Sembari menulis artikel ini, saya masih bisa mendengar bunyi sirine meraung-raung, diiringi oleh suara galak polisi berteriak-teriak (dengan pengeras suara yang terpasang di atap mobil patrolinya): “Minggir! Minggir! Merapat ke tepi! Merapat ke tepi!” Para pengendara motor dan mobil dibuat kocar-kacir menepi kelimpungan. Orang-orang memanjat di tembok-tembok celingukan, penasaran ingin tahu dewa apa gerangan yang bakal lewat. Dari kejauhan, melaju segerombolan mobil mewah hitam mengkilat, diiringi oleh mobil dan motor patroli berkecepatan tinggi yang kelihatannya siap menabrak apa pun yang menghalangi mereka.

Saya yang kebetulan berada tidak jauh dari lokasi, bertanya kepada salah satu polisi, “RI 2”, jawabnya singkat. Kata polisi itu sebelumnya beliau dari Pasar Beringharjo dan sekarang menuju ke Asrama Haji di dekat Monumen Jogja Kembali. Jam saya saat itu menunjukkan sekitar pukul 16:30.

Beringharjo2

Pasar Beringharjo? Tiba-tiba saya teringat kepada jargon pemimpin yang welas asih kepada rakyat kecil. Tiba-tiba saya juga teringat kepada Megawati yang dulu tahun 2004 ketika maju lagi menjadi capres, mengadakan acara makan malam di warung lesehan Malioboro dan paginya sarapan dengan para pedagang kecil di Beringharjo. Tiba-tiba saya juga teringat kepada Wiranto yang beberapa waktu lalu berdemonstrasi memakan nasi aking yang katanya sangat tidak enak, untuk menunjukkan pentingnya empati dan nurani kepada rakyat kecil. Tiba-tiba saya merasa muak. Muak ketika rakyat kecil hanya dijadikan simbol untuk meraih jenjang kekuasaan. Muak seperti halnya agama dijadikan simbol untuk memoles kekuasaan (ingat shalawat Badar pada deklarasi SBY Berbudi?).

Saya sungguh heran, mengapa semua bentuk simbolisme yang memuakkan ini terus menjadi tren? Mengapa basa-basi marketing politik dan strategi ala window dressing basi ini terus diulang-ulang? Apakah para politisi itu tidak menyadari tingkah polahnya telah menyerupai dunia sinetron yang pathetic dan ridiculous itu? Apakah mereka mengira, kita rakyat biasa sedemikian bodohnya tidak bisa menilai tindakan mereka? Apakah mereka mengira, kita tidak bisa membedakan mana tindakan yang hanya sebatas simbol dan basa-basi palsu, mana tindakan yang muncul dari laku keikhlasan dan pengorbanan yang mengakar dalam? Yah, kecuali memang kita sudah tersihir oleh tayangan sinetron yang pathetic dan ridiculous itu, serta meyakininya sebagai sebuah realitas yang harus dimaklumi.

Sebagai perbandingan, saya akan menunjukkan dua kisah dalam sejarah yang mudah-mudahan bisa mengilhami arti dan laku pemimpin sejati. Pemimpin yang memaknai kepemimpinan adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Pemimpin yang mau lapar duluan tapi kenyang belakangan. Pemimpin yang mau berkorban ala prinsip dan tradisi Kapten Backdraft: “First In, Last Out”, yang mengilhami mereka untuk menjadi yang pertama maju mendobrak api yang berkobar-kobar berusaha menyelamatkan nyawa.

Pemimpin yang tidak butuh simbol dan basa-basi politik untuk mendongkrak popularitasnya, yang hanya sok akrab dengan rakyat kecil pas kampanye saja. Inilah kisah dua pemimpin, kisah dua Khalifah pewaris Nabi, yang sekalipun terpisah ruang dan waktu; Madinah abad ke 7 M dan “Beringharjo” abad ke 20 M, tetapi memiliki ruh dan semangat yang sama. Yang dari Madinah bergelar: Khalifah Amirul Mukminin. Sedangkan yang dari “Beringharjo” bergelar: Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono, Senopati Ing Ngalogo, Abdurrahman Sayidin Panoto Gomo, Khalifatullah Ingkang Kaping Songo.

Madinah, abad ke-7 M. Umar bin Khaththab adalah sosok peronda nomor satu. Sementara orang-orang di ibu kota kekhalifahan terlelap dalam tidur sedang dirinya tidak, orang-orang kenyang sedang dirinya tidak, orang-orang santai sedang dirinya tidak. Pada suatu malam, ketika menyusuri lorong-lorong kota Madinah, tiba-tiba ia melihat seorang ibu berada di dalam rumahnya bersama beberapa anak kecil yang terus menangis mengelilingi sang ibu. Di sudut lain, tampak sebuah panci berisi air diletakkan di atas perapian. Umar kemudian mendekati pintu dan berkata,

“Wahai hamba Allah, kenapa anak-anak ini menangis?”

“Mereka menangis karena lapar,” sahut wanita itu.

“Lalu, untuk apa panci di atas api itu?”

“Aku mengisinya dengan air. Ini dia. Aku mengalihkan perhatian mereka dengan air itu sampai mereka tertidur. Aku mengelabui mereka supaya mengira di dalam panci itu ada sesuatu yang dimasak.”

Mendengar itu Umar menangis. Ia bergegas mendatangi tempat penyimpanan kas negara (baytul mâl). Ia mengambil sebuah karung, kemudian mengisinya dengan terigu, minyak, mentega, kurma kering, baju dan uang. Ia mengisi karung itu sampai penuh. Ia berkata pada ajudannya,

“Wahai ‘Aslam, angkat karung ini ke atas pundakku!”

“Wahai Amirul Mukminin, aku saja yang mengangkatnya,” kata ‘Aslam.

“Tidak, ini bukan kewajibanmu, wahai ‘Aslam. Sebab, aku yang akan bertanggung jawab di akhirat nanti.”

Umar membawa karung itu dan pergi menuju rumah wanita tersebut. Ia kemudian mengambil panci, mengisinya dengan terigu, sedikit minyak dan kurma kering. Ia mengaduknya, dan meniup api yang ada di bawah panci. ‘Aslam berkata,

“Aku melihat asap keluar dari sela-sela janggut Umar, dan ia memasak makanan itu sampai selesai. Ia lalu menciduknya, dan memberi makan anak-anak itu sampai mereka kenyang.”

Yogyakarta, abad ke-20 M. Sri Sultan Hamengku Buwono IX ini kegemarannya naik mobil sendiri. Beliau sering mengendarai mobil sendiri dari Yogya-Jakarta kadang-kadang ke Bandung. Dulu ketika Sri Sultan sedang berjalan-jalan dengan mobilnya ia dihentikan oleh seorang perempuan separuh umur. Ibu-ibu itu mengira Sri Sultan adalah sopir angkutan sayur. Mobil berhenti.

“Ada apa Bu…?” Tanya Sri Sultan.

“Ini Pak Sopir tolong naikkan karung-karung sayur saya mau antar barang ini ke Pasar Beringharjo” Perintah Ibu itu tegas.

Sri Sultan yang mengenakan kaca mata hitam tersenyum dan turun ia pun mengangkut karung-karung sayur itu. Setelah karung-karung sayur dinaikkan, Ibu itu juga naik ke dalam mobil dan duduk di belakang.

Setelah sampai depan pasar Beringharjo Sri Sultan turun dan mengangkut karung-karung itu sampai ke dalam pasar, si Ibu itu berjalan di depannya. Seorang mantri polisi memperhatikan dengan cermat kejadian itu. Setelah karung-karung sayur ditaruh ditempatnya, Ibu itu bertanya,

“Berapa ongkosnya, Pak Sopir?”

“Wah… Ndak usah Bu.” Jawab Sri Sultan.

“Walaah… Pak Sopir… Pak Sopir kayak ndak butuh uang saja?” Sergah Ibu itu lagi.

“Sudah tidak Bu terima kasih.” Sri Sultan kembali menolak sopan.

“Lho, kurang tho… Biasanya saya ngasihnya juga segini?” kata Ibu itu yang mengira sopir itu menolak uangnya karena kecewa pemberiannya kurang.

“Ndak apa-apa Bu, saya cuma membantu…” Sultan tetap menolak sopan.

“Sudah merasa kaya tho Pak Sopir? Ndak mau terima uang?” kata si Ibu sinis. Sri Sultan tersenyum dan kemudian pamit keluar pasar.

Saat Sri Sultan pergi si Ibu masih saja ngedumel,

“Dasar Sopir gemblung dikasih duit ndak mau!” Ujar Ibu itu sambil memberesi karung-karung sayurannya…

Mantri Polisi yang sedari tadi mengamati peristiwa itu mendekati Ibu pedagang sayur itu.

“Bu…tadi Ibu tahu bicara dengan siapa?”

“Dengan siapa? Ya dengan Pak Sopir… Piye tho sampeyan iki (gimana sih kamu)!” Jawab si Ibu kesal.

“Ibu tahu, tadi Ibu bicara kaliyan sing nduwe ringin kembar kuwi… (tadi ibu bicara dengan yang punya beringin kembar itu)” Kata Mantri Polisi itu seraya menunjuk ke arah beringin kembar di depan Keraton Yogya.

Sang Ibu tadi langsung jatuh pingsan di tempat.

Suara raungan sirine dan bentakan kasar polisi tadi masih terngiang-ngiang di kepala saya. Begitu pula dengan kisah dua Khalifah Madinah dan “Beringharjo” di atas. Sungguh saya merindukan hadirnya pemimpin sejati seperti Umar bin Khaththab dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX (yang juga berani memimpin di medan laga pada serangan umum satoe maret 1949 yang berhasil usir penjajah).

Sumber berita:
http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/03/apa-kita-terjangkit-penyakit-sombong-4.html
http://orgawam.wordpress.com/2007/09/24/sri-sultan-hamengku-buwono-ix/