aksi-bendera280Slogan ganyang Malaysia kembali bergelora. Beberapa elemen, ormas, dan kelompok masyarakat tidak ragu-ragu menyatakan perang dengan Malaysia. Sebagiannya lagi berteriak: NKRI harga mati! Perangi Malaysia! Sepertinya tidak lama lagi perang deface antar hacker (cracker lebih tepatnya) Indonesia vs. Malaysia akan kembali terjadi. Aksi pengibaran bendera kedua negara di situs-situs negara lawan akan menjadi targetnya.

Apalagi krisis Ambalat ini diperparah dengan kasus Manohara, lalu penyiksaan dan pembunuhan para TKI di Malaysia. Alhasil, terbentuk opini umum: Malaysia kurang ajar, maka kita hajar saja mereka! Seperti inilah respon reaktif kebanyakan kita. Sampai-sampai beberapa pembaca berita (bukan infotainment) di salah satu TV Swasta terbawa emosinya. Kemarin malam saya mendengar mereka berkata dengan lebay-nya: “Kenapa ya Malaysia ini, koq berturut-turut, kemarin Manohara sekarang provokasi militer di Ambalat, lalu hari ini nelayan mereka pun dengan bebasnya ambil Ikan di sana.”

Lalu bagaimana sebaiknya; serang Malaysia karena melecehkan Manohara dan kedaulatan di Ambalat?

Mengapa tidak bersatu saja?

Ya, mengapa tidak Malaysia dan Indonesia bersatu sahaja? Bukankah kita punya banyak kesamaan dan kepentingan dengan mereka? Bayangkan peluang dan kekuatan yang dihasilkan secara politis, ekonomis, demografis. Bayangkan juga potensi pasar domestiknya atau industri pariwisatanya. Saya tidak tahu persis angkanya, tapi sepertinya hal ini akan sangat fantastik dan prospektif. Jangan lupakan juga soal basis budaya Melayu kita, dan istilah Nusantara yang mencakup Indonesia dan Malaysia.

Tidak akan ada batas Indonesia Malaysia lagi. Tidak akan data sentimen atau fanatisme primordial lagi. Tidak akan ada warga kelas dua lagi. Tidak ada pertikaian wilayah lagi. Warga negara Indonesia adalah warga negara Malaysia, and vice versa, yang bebas keluar masuk, bekerja, menikah, dan beranak pinak di manapun, tanpa visa atau pasport. Tidak ada istilah pendatang haram lagi.

Tidak mungkin? Mungkin ya. Atau mungkin the impossible is just take a little longer? Atau mungkin The Maastricht Treaty tahun 1992 yang saat ini mampu menggabungkan 27 negara dalam bendera Uni Eropa (ya secara harfiah mereka punya bendera baru dan lagu kebangsaan baru) kurang mampu mengilhami kita untuk bersatu? Saat ini di sana, peredaran tenaga kerja, barang dan jasa tidak lagi mengenal batas negara lagi.

Warga negara Uni Eropa bebas pergi, bekerja dan berkeluarga di mana pun di wilayah Uni Eropa. Sebagai contoh, seorang warga negara Belanda berhak mencari nafkah di Italia, demikian sebaliknya bagi orang Italia. Warga negara Jerman pun berhak mencari nafkah, misalnya, di Belanda atau Perancis atau Italia. Hak dan kewajiban mereka sama sebagai warga negara Uni Eropa. Oh, tiba-tiba saya teringat buku The End of the Nation State karya Kenichi Ohmae pas awal-awal kuliah dulu.

Terlebih lagi, bagi seorang Muslim ada alasan lain selain alasan politis, ekonomis atau strategis. Yaitu alasan teologis yang mewajibkan umat Muslim bersatu di bawah Khilafah dan tidak boleh bercerai-berai, apalagi berperang. Allah SWT berfirman:

”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…” (QS Ali Imran ayat 103)

Bahkan Nabi saw. mencela orang-orang yang berperang atas dasar ashabiyyah (fanatisme primordial); baik itu berdasarkan kesamaan bangsa, suku atau warna kulit, bukan termasuk golongan umat Muslim:

“Tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang menyeru kepada ashabiyyah. Dan tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang berperang atas dasar ashabiyyah. Dan tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang terbunuh atas nama ashabiyyah.” (HR Abu Dawud no. 4456)

Daripada berperang habis-habisan, makan korban makan hati dan berdosa lagi, bagaimana kalau bersatu sahaja? And just let you know, we are already prepared for the flag and anthem. :)

(sumber gambar: i537.photobucket.com/albums/ff338/aries_wan/ambalat.jpg)