Pernyataan seperti “pilihlah yang terbaik dari yang buruk-buruk” atau “lesser evil” atau “pilih yang paling ringan diantara dua keburukan (akhafu dhararain)“, sering menjadi pembenaran atas pilihan politik kita. Padahal bisa saja hal itu merupakan propaganda sang kandidat untuk mendulang suara. Atau bisa juga merupakan sesat fikir yang tidak kita sadari. Menurut saya, mereka yang berprinsip lesser evil ini telah melakukan pengekangan atas pilihan-pilihan hidup yang sebenarnya masih luas dan banyak tersedia.

Atas dasar apa kita “diwajibkan” memilih salah satu dari dua evil? Dan mengapa seolah-olah kita tidak punya pilihan lain? Seolah kita dihadapkan pada pilihan: the lesser evil atau the end of the world! Hal ini biasanya juga dikaitkan dengan pemahaman kalau tidak memilih, atau tidak ikut pemilu, maka tindakan tersebut akan menuai bencana. Padahal secara faktual yang namanya perubahan politik (terutama yang radikal), tidak selalu harus dengan pemilu. Turunnya Pak Harto yang sebelumnya dianggap untouchable dan impossible, juga bukan lewat pemilu (terlepas dari opini gerakan 98 ditunggangi dan lain sebagainya). Pemilu bukanlah satu-satunya jalan.

Saudara kandung dari lesser evil adalah: pilihlah yang terbaik dari yang buruk-buruk. Bukankah yang buruk tetap buruk, dan yang baik tetap baik? Mulai kapan yang buruk bisa jadi baik hanya karena disandingkan dengan yang lebih buruk? Dan siapa yang mengizinkan fikiran kita ditipu dengan ilusi semantik seperti ini? Mengapa kita hanya bisa pasrah dan tunduk kepada yang memberikan pilihan kepada kita? Jika menurut keyakinan kita semua evil dan semua buruk, mengapa kita tidak membuat pilihan kita sendiri yang baru, kemudian secara konsekuen dan konsisten memperjuangkannya?

Jika mentalitas lesser evil ini terus dipelihara dan berkembang menjadi penyakit parah, jadilah ia para koruptor, penjahat ekonomi, mafia hukum, dan public enemy lainnya. Lebih baik saya korupsi 2 M daripada korupsi 200 M, lebih baik saya jual perkara itu daripada …, lebih baik … daripada … . Jadilah mereka orang-orang yang tidak memiliki kompas moral dan prinsip yang jelas dalam hidupnya. Jadilah mereka orang-orang pragmatis dan oportunis yang merugikan orang lain. Jadilah mereka seperti weathervane yang dikendalikan oleh angin yang berhembus (orang lain), bukan lighthouse yang memberikan petunjuk dan pencerahan bagi orang lain.

Be a lighthouse, not a weathervane.

Saya tidak memilih hari ini. Because a lesser evil is still evil. And I’m not an evil companion.