Tahun 639 M, wabah mengerikan menyerang Syria. Berita wabah ganas itu mengganggu Khalifah Umar di Madinah. Ia segera pergi meninggalkan Madinah untuk menyelesaikan urusan tersebut ke Syiria.

Bilal yang dikenal sebagai muadzin pertama Rasulullah atau orang yang pertama kali mengkumandangkan adzan, pada waktu itu tinggal di Syiria. Setelah Rasulullah meninggal di Madinah, ia menolak tugas sebagai muadzin dan menyerahkannya kepada orang lain. Beberapa tahun kemudian ia turut serta dalam ekspedisi militer ke Syiria dan menghabiskan masa tuanya di sana.

Pada malam keberangkatan Khalifah Umar meninggalkan Syiria, gubernur kota Damaskus menyarankan kepada Bilal, agar berkenan mengkumandangkan adzan pada kesempatan terakhir ini. Akhirnya Bilal memenuhi permintaan mereka.

Lelaki lanjut usia itu naik ke puncak menara masjid. Kemudian ia mulai mengkumandangkan adzan. Suaranya yang merdu dan lantang, membahana dan menggema di langit kota Damaskus. Para jamaah yang hadir di masjid, dan orang-orang yang mendengar suara adzan tersebut, tak kuasa menahan isak tangis mereka. Sekilas terlintas dalam ingatan mereka, masa-masa shalat berjamaah bersama Rasulullah. Teringat pula saat-saat bersama Rasulullah, ketika beliau mengajarkan dan memahamkan Islam kepada mereka, dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Terbayang dalam ingatan mereka, saat-saat berjuang bersama Rasul yang mulia, melewati hari-hari penuh duka, lara dan derita, demi tegaknya agama yang mulia. Sungguh, kenangan-kenangan tadi memunculkan kerinduan yang tak terperi untuk bisa berjumpa kembali dengan Rasulullah tercinta. Mereka semua larut dalam kenangan dan kerinduan yang amat dalam. Bahkan para tentara muslim yang ikut serta, yang sebagian besar pernah berjuang bersama Rasul, tenggelam dalam genangan isak tangis air mata.