Jenderal-jenderal pasukan militer Romawi yang kalah perang melawan pasukan muslim dipanggil oleh Kaisar Heraclius di Antakia, salah satu kota di Suriah. Ia menumpahkan kekecewaan dan kemarahannya seraya membentak:

“Katakan kepadaku siapakah pasukan yang kalian perangi itu, bukankah mereka juga manusia seperti kalian? Lalu mengapa kalian tak mampu mengalahkan mereka?!”

Para jenderal itu hanya bisa tertunduk dan menjawab, “Mereka adalah orang-orang Islam.”

Heraclius masih dengan nada tinggi membentak mereka, “Bukankah jumlah kalian jauh lebih besar, senjata kalian jauh lebih lengkap, dan perbekalan kalian jauh lebih banyak!”

Para petinggi militer Romawi yang dikenal gagah berani itu hanya bisa tertunduk lesu mengakui kekalahan dan kelemahan mereka melawan tentara Islam. Tiba-tiba di tengah keheningan dan kebisuan, salah seorang dari mereka berkata,

“Paduka Kaisar yang agung, izinkanlah hamba untuk angkat bicara…” Lalu Kaisar pun mengizinkannya. Kemudian ia menjelaskan, “Bilamana kami melakukan serbuan, mereka teguh pantang menyerah menghadapi kami. Sedangkan jika mereka yang menyerbu kami, kami lemah dan mudah menyerah menghadapi mereka.”

Mendengar penuturan naif jenderal ini, Kaisar Heraclius bertambah murka lalu berkata: “Cerlakalah kalian! Jadi bagaimana mereka memandang kalian dan kalian memandang mereka!?”

Jenderal itu menjelaskan lagi, “Baginda, mereka adalah orang-orang yang berpuasa di siang hari dan bangun di malam hari, tidak pernah mengingkari janji, senantiasa mengajak kepada kebaikan dan saling mencegah keburukan, tidak melakukan kezhaliman kepada siapa pun, saling mencintai dan berbuat adil."

"Sedangkan kita adalah orang-orang yang banyak meminum khamr, gemar melakukan zina, sering berbuat tak senonoh, selalu mengingkari janji, tidak mampu mengendalikan amarah, sering melakukan kezhaliman dan berbuat kerusakan di bumi, selalu mengajak yang dibenci Tuhan dan saling mencegah yang dicintai Tuhan.”

Kaisar Heraclius pun hanya bisa terdiam seribu bahasa.

Posted via email from pedy post-terus