Persia dikenal sebagai negeri yang indah, megah, dan sangat mewah. Hormuzan adalah salah seorang komandan militer Persia. Ketika Islam berhasil menaklukkan Perisa, Hormuzan pun ditahan. Ia beserta dua belas petinggi persia lainnya dibawa ke ibukota negara Islam di Madinah sebagai tawanan perang. Ketika tiba di Madinah, orang-orang kagum melihat mereka yang masih mengenakan pakaian kebesaran mereka yang mewah dan indah. Mereka dibawa ke kediaman Khalifah Umar namun ia tidak ada di rumah, sehingga membuat Hormuzan heran seraya berkata mengejek, “Raja kalian hilang?!”
   
Setelah diberitahu bahwa Khalifah sedang berada di dalam Masjid, mereka pun dibawa ke sana. Ternyata mereka menjumpai Khalifah sedang tidur dengan berbantalkan gulungan selendangnya. Hormuzan pun semakin heran, merasa berada di dunia lain penuh misteri, yang sama sekali tidak lazim di negerinya yang penuh silau gemerlap mewahnya dunia. Seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya, ia bertanya lagi, “Benarkah dia raja kalian?!”

Salah seorang pengawal menjawab, “Benar, ia adalah Khalifah kami, amirul mukminin.” Keheranan Hormuzan terus bertambah, karena raja yang selama ini dikenalnya biasanya duduk di atas tahta emas berlian di puncak istana tertinggi. Itu pun dengan pengawalan ketat berlapis-lapis. Sungguh ini sangat tak lazim, katanya dalam hati. Lebih tak lazim lagi, karena orang yang ada dihadapannya adalah “raja” yang memiliki kekuatan yang lebih besar dari negerinya, Persia, sehingga bisa ditaklukkan oleh Islam.

Ia kemudian bertanya, “Mengapa ia tidak dikawal dan tidak pula dijaga?!” Mereka menjelaskan bahwa Allah-lah yang menjaga hingga ajal menjemputnya. Hormuzan, yang diperlakukan dengan baik diam-diam tertarik dengan agama baru yang berhasil menaklukkan rajanya. Tapi bagaimana pun ia menolak ajakan masuk Islam dan tetap memeluk keyakinannya yang lama.

Sesaat sebelum eksekusi hukuman matinya, Hormuzan merasa haus dan minta air. Umar berkata, “Engkau tidak akan menjalani hukuman mati dalam keadaan dahaga.” Lalu Umar memberi perintah agar diambilkan air. Ketika air itu telah berada di tangan Hormuzan, Umar berkata, “Minumlah, aku tidak akan membunuhmu hingga engkau meminumnya.”

Mendengar kata-kata Umar, Hormuzan merasa mendapat peluang menyelamatkan diri dengan membuang air itu. Sebab yang sejauh ia ketahui, para pemimpin kaum muslimin senantiasa menepati janji. Pada awalnya, Khalifah Umar tetap berniat mengeksekusi mati Hormuzan. Tapi Hormuzan mengingatkan bahwa Umar telah berjanji tidak akan membunuhnya hingga air itu diminum. Dan beberapa sahabat senior Umar seperti Zubair, Anas, dan Abu Said membenarkan perkataan Hormuzan. Akhirnya Umar pun membatalkan perintahnya.

Kemuliaan, kesederhanaan dan keagungan sifat para pemimpin Islam yang selama ini sayup-sayup terdengar, kini benar-bernar disaksikan langsung sendiri oleh mata kepala Hormuzan. Kemudian ia berkata, “Wahai amirul mukminin, pemimpin orang-orang beriman, sekarang aku bersaksi bahwa tiada sesembahan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.” Setelah mendengar syahadat Hormuzan, Umar memberi perintah agar ia diperlakukan dengan hormat dan baik. Setelah masuk Islam, Hormuzan pun menjalankan ajaran agama barunya itu.

Posted via email from pedy post-terus