Hachiko hanyalah seekor anjing yang selalu menjemput tuannya pulang kerja di sebuah stasiun kereta tua di Shibuya Jepang. Tidak ada yang istimewa memang. Sampai tuannya meninggal sewaktu kerja, dan Hachiko masih terus menunggu di depan stasiun berharap bersua dengan tuannya. Dia menunggu, dan terus menunggu, bahkan ketika kerabatnya sendiri mulai melupakannya. Siang berganti malam, musim demi musim pun berlalu, dan Hachiko masih terus menunggu. Setiap kereta berhenti dan pintu stasiun terbuka, Hachiko antusias menengadahkan kepala dan mengibas2kan ekornya yang putih, berharap dapat berjumpa dengan tuannya. Tapi ternyata hampa. Namun itu tak membuatnya putus asa. Hachiko terus menunggu. Siang dan malam, sembilan tahun lamanya. Sampai ajal datang menjemputnya.

hachiko2.jpg

Itu adalah kisah Hachiko. Kisah yang harus kita buat adalah, seberapa besar kesetiaan dan kecintaan kita kepada Allah SWT Sang Pencipta? Yang telah memberikan hidup dan nikmat tak terhitung atas kita? Seberapa lama kita mampu bersabar menanti rahmat-Nya? Seberapa jauh kita mau menunggu untuk selau taat dan dekat –TANPA SYARAT– sampai kita berjumpa dengan Nya? Seberapa banyak yang rela kita korbankan demi meraih ridha-Nya? Waktu, tenaga, harta bahkan mungkin apa pun yang kita miliki?